Rupiah Anjlok, DPR Khawatir Harga Pangan Melonjak

PROKALTENG.CO-Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) merosot tajam, hingga pada angka Rp 17.614. Salah satu pemerosotan nilai tukar rupiah disebut akibat naiknya harga minyak dunia yang dipengaruhi ketidakpastian global.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Fauzi H. Amro, menyatakan anjloknya nilai tukar rupiah dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya perang di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut, dampak tersebut sangat terasa bagi dunia internasional.

“Kita melihat bahwa nilai tukar Rupiah ini kan banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya itu adalah naiknya harga minyak dunia, yang kejadiannya tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tapi juga di dunia dengan perang yang belum tahu kapan berakhir ini. Harga minyak kita kemarin itu mencapai 105 US Dollar per barel,” kata Fauzi H. Amro ditemui JawaPos.com di Jakarta, Jumat (15/5).

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Ketua DPRD Palangka Raya Minta Harga Pangan Stabil

Legislator Fraksi Partai NasDem itu tak memungkiri, anjloknya nilai tukar rupiah akan berpengaruh pada prekonomian rakyat.

“Dampak ekonominya yang paling terasa menurut saya pribadi,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan saat ini pemerintah masih berupaya untuk menekan harga BBM bersubsidi. Hal itu sebagai upaya untuk menjaga harga pangan, khususnya sembako agar tetap aman.

“Karena selama harga minyak (subsidi) tidak naik, maka harga sembako juga tidak akan naik,” tuturnya.

Electronic money exchangers listing

Karena itu, ia menyarankan agar Bank Indonesia (BI) mampu menstabilkan harga dollar. Serta, menjaga ritme pendapatan negara, baik dari sektor pajak, bea cukai, maupun Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Saya yakin dengan kemampuan Pak Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, beserta jajarannya seperti Bu Aida dan Bu Filianingsih yang sudah sangat berpengalaman menghadapi guncangan ekonomi sejak zaman Covid hingga krisis moneter dulu,” pungkasnya.(jpg)

Baca Juga :  Masa Karantina WNI di Natuna Tinggal Enam Hari

 

PROKALTENG.CO-Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) merosot tajam, hingga pada angka Rp 17.614. Salah satu pemerosotan nilai tukar rupiah disebut akibat naiknya harga minyak dunia yang dipengaruhi ketidakpastian global.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Fauzi H. Amro, menyatakan anjloknya nilai tukar rupiah dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya perang di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut, dampak tersebut sangat terasa bagi dunia internasional.

“Kita melihat bahwa nilai tukar Rupiah ini kan banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya itu adalah naiknya harga minyak dunia, yang kejadiannya tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tapi juga di dunia dengan perang yang belum tahu kapan berakhir ini. Harga minyak kita kemarin itu mencapai 105 US Dollar per barel,” kata Fauzi H. Amro ditemui JawaPos.com di Jakarta, Jumat (15/5).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Jelang Ramadan, Ketua DPRD Palangka Raya Minta Harga Pangan Stabil

Legislator Fraksi Partai NasDem itu tak memungkiri, anjloknya nilai tukar rupiah akan berpengaruh pada prekonomian rakyat.

“Dampak ekonominya yang paling terasa menurut saya pribadi,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan saat ini pemerintah masih berupaya untuk menekan harga BBM bersubsidi. Hal itu sebagai upaya untuk menjaga harga pangan, khususnya sembako agar tetap aman.

“Karena selama harga minyak (subsidi) tidak naik, maka harga sembako juga tidak akan naik,” tuturnya.

Karena itu, ia menyarankan agar Bank Indonesia (BI) mampu menstabilkan harga dollar. Serta, menjaga ritme pendapatan negara, baik dari sektor pajak, bea cukai, maupun Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Saya yakin dengan kemampuan Pak Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, beserta jajarannya seperti Bu Aida dan Bu Filianingsih yang sudah sangat berpengalaman menghadapi guncangan ekonomi sejak zaman Covid hingga krisis moneter dulu,” pungkasnya.(jpg)

Baca Juga :  Masa Karantina WNI di Natuna Tinggal Enam Hari

 

Terpopuler

Artikel Terbaru