25.1 C
Jakarta
Sunday, April 6, 2025

Hati-hati! Obat Kuat Berpotensii Menimbulkan Masalah

Siapa bilang obat kuat meningkatkan risiko pria terkena kanker prostat? Ketua Cluster Uronephrology RSCM Kencana dr Widi Atmoko, Sp.U(K), FECMS, FICS menjelaskan, obat yang diyakini membantu pria dalam sesi bercinta ini tak ada hubungannya dengan risiko kanker prostat.

Meski demikian, obat ini berpotensi menimbulkan masalah lain, misalnya gangguan pada pembuluh darah. “Obat kuat berkaitan dengan masalah pembuluh darah, tekanan darah, sehingga memang ada beberapa kontraindikasi misalnya ada obat kuat golongan nitrat yang bisa menurunkan tensi darah. Harus hati-hati,” kata dr Widi, Jumat (22/9).

Oleh karena itulah, dr Widi menyarankan, pria yang mengalami gangguan ereksi sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter, alih-alih langsung mengonsumsi obat kuat. “Makanya pemberian obat ini harus bertemu dokter dulu, jadi enggak bisa langsung beli di apotek. Kalau beli di apotek (yang benar juga) pasti diminta resep,” kata dia.

Sebagai informasi, kanker prostat merupakan jenis kanker yang tumbuh dalam kelenjar prostat pada pria, yang berperan dalam pembentukan cairan ejakulasi. Gejala umum yang dialami penderita kanker prostat yaitu sulit buang air kecil.

Baca Juga :  Bupati : Laporkan Warga Tidak Mampu dan Sakit yang Menahun

Kanker prostat pada stadium awal seringkali tidak menunjukkan gejala yang khas. Namun, kecurigaan akan meningkat jika muncul gejala seperti nyeri tulang, fraktur patologis (patah tulang akibat penyakit), atau penekanan pada sumsum tulang.

Berbicara faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker prostat meliputi usia yang semakin tua karena biasanya penyakit ini lebih sering didiagnosis setelah usia 50 tahun, riwayat keluarga, serta kondisi obesitas. Selain itu, diet dan gaya hidup berperan dalam risiko ini. Diet yang tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan risiko kanker prostat.

Bila kembali berbicara obat kuat, dr Widi sebenarnya membolehkan pria dewasa muda meminum obat kuat yang dijual di pasaran asalkan sesuai dosis dan dibeli di apotek resmi. Jangan beli di sembarang tempat, mengingat penelitian memperlihatkan bahwa banyak obat yang beredar ternyata palsu.

“Untuk dewasa muda, pria berusia 30 tahunan aman atau tidak? Boleh saja. Kalau dibilang aman, aman. Tetapi, sesuai dosisnya,” ujar dia.

Widi mengatakan pernah mendapati pasien gangguan ereksi berusia 30 tahunan dengan riwayat merokok berat dan obesitas. Menurut dia, pada prinsipnya pengobatan yang diberikan yakni dengan memberikan obat, sembari mengevaluasi masalah kesehatan lain yang pasien hadapi semisal hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Baca Juga :  Makan Buah Pisang Bisa Menghindarkan dari Malanutrisi

Disfungsi ereksi menjadi salah satu gangguan seksual pria yang menghambat individu untuk mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. Merujuk data di RSCM, dr Widi mengatakan, lebih dari sepertiga pria usia 20-80 tahun mengalami disfungsi ereksi.

 

Sesuai dengan definisinya, gangguan seksual pria dapat terjadi pada masing-masing fase respons seksual. Bila dijabarkan, gangguan seksual dapat berupa gangguan hasrat rendah, hipogonadisme (kadar testosteron rendah), disfungsi ereksi atau impotensi, gangguan ejakulasi dan orgasme.

Selain itu dapat juga berupa kelainan bentuk penis seperti kurvatur penis, kelainan ukuran penis dan dismorfofobia, serta priapismus atau ereksi yang berkepanjangan tanpa disertai dengan rangsangan. Menurut dr Widi, penyebab gangguan seksual sangat beragam yang secara umum dapat terbagi menjadi masalah psikologis, organik (adanya kelainan dari sisi anatomi atau fungsi organ), maupun campuran.

“Walaupun konsep gangguan seksual tetap sebenarnya mencakup konsep yang lebih luas seperti masalah seksual, biologis, psikoseksual, sosiobudaya, dan hubungan interpersonal,” pungkasnya.(jpc/ind)

Siapa bilang obat kuat meningkatkan risiko pria terkena kanker prostat? Ketua Cluster Uronephrology RSCM Kencana dr Widi Atmoko, Sp.U(K), FECMS, FICS menjelaskan, obat yang diyakini membantu pria dalam sesi bercinta ini tak ada hubungannya dengan risiko kanker prostat.

Meski demikian, obat ini berpotensi menimbulkan masalah lain, misalnya gangguan pada pembuluh darah. “Obat kuat berkaitan dengan masalah pembuluh darah, tekanan darah, sehingga memang ada beberapa kontraindikasi misalnya ada obat kuat golongan nitrat yang bisa menurunkan tensi darah. Harus hati-hati,” kata dr Widi, Jumat (22/9).

Oleh karena itulah, dr Widi menyarankan, pria yang mengalami gangguan ereksi sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter, alih-alih langsung mengonsumsi obat kuat. “Makanya pemberian obat ini harus bertemu dokter dulu, jadi enggak bisa langsung beli di apotek. Kalau beli di apotek (yang benar juga) pasti diminta resep,” kata dia.

Sebagai informasi, kanker prostat merupakan jenis kanker yang tumbuh dalam kelenjar prostat pada pria, yang berperan dalam pembentukan cairan ejakulasi. Gejala umum yang dialami penderita kanker prostat yaitu sulit buang air kecil.

Baca Juga :  Bupati : Laporkan Warga Tidak Mampu dan Sakit yang Menahun

Kanker prostat pada stadium awal seringkali tidak menunjukkan gejala yang khas. Namun, kecurigaan akan meningkat jika muncul gejala seperti nyeri tulang, fraktur patologis (patah tulang akibat penyakit), atau penekanan pada sumsum tulang.

Berbicara faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker prostat meliputi usia yang semakin tua karena biasanya penyakit ini lebih sering didiagnosis setelah usia 50 tahun, riwayat keluarga, serta kondisi obesitas. Selain itu, diet dan gaya hidup berperan dalam risiko ini. Diet yang tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan risiko kanker prostat.

Bila kembali berbicara obat kuat, dr Widi sebenarnya membolehkan pria dewasa muda meminum obat kuat yang dijual di pasaran asalkan sesuai dosis dan dibeli di apotek resmi. Jangan beli di sembarang tempat, mengingat penelitian memperlihatkan bahwa banyak obat yang beredar ternyata palsu.

“Untuk dewasa muda, pria berusia 30 tahunan aman atau tidak? Boleh saja. Kalau dibilang aman, aman. Tetapi, sesuai dosisnya,” ujar dia.

Widi mengatakan pernah mendapati pasien gangguan ereksi berusia 30 tahunan dengan riwayat merokok berat dan obesitas. Menurut dia, pada prinsipnya pengobatan yang diberikan yakni dengan memberikan obat, sembari mengevaluasi masalah kesehatan lain yang pasien hadapi semisal hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Baca Juga :  Makan Buah Pisang Bisa Menghindarkan dari Malanutrisi

Disfungsi ereksi menjadi salah satu gangguan seksual pria yang menghambat individu untuk mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. Merujuk data di RSCM, dr Widi mengatakan, lebih dari sepertiga pria usia 20-80 tahun mengalami disfungsi ereksi.

 

Sesuai dengan definisinya, gangguan seksual pria dapat terjadi pada masing-masing fase respons seksual. Bila dijabarkan, gangguan seksual dapat berupa gangguan hasrat rendah, hipogonadisme (kadar testosteron rendah), disfungsi ereksi atau impotensi, gangguan ejakulasi dan orgasme.

Selain itu dapat juga berupa kelainan bentuk penis seperti kurvatur penis, kelainan ukuran penis dan dismorfofobia, serta priapismus atau ereksi yang berkepanjangan tanpa disertai dengan rangsangan. Menurut dr Widi, penyebab gangguan seksual sangat beragam yang secara umum dapat terbagi menjadi masalah psikologis, organik (adanya kelainan dari sisi anatomi atau fungsi organ), maupun campuran.

“Walaupun konsep gangguan seksual tetap sebenarnya mencakup konsep yang lebih luas seperti masalah seksual, biologis, psikoseksual, sosiobudaya, dan hubungan interpersonal,” pungkasnya.(jpc/ind)

Terpopuler

Artikel Terbaru