PROKALTENG.CO-Pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon terus berlanjut setiap hari. Serangan terbaru dalam 24 jam terakhir menewaskan 20 orang dan menambah korban menjadi 2.679 jiwa.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan pada Minggu 46 orang luka-luka dalam serangan Israel. Total korban luka kini mencapai 8.229 orang sejak konflik kembali memanas.
Melansir Yeni Safak, serangan ini bagian pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata sementara. Kesepakatan tersebut mulai diberlakukan pada 17 April lalu. Alih-alih mereda, militer Israel justru tingkatkan operasi udara dan darat di wilayah Lebanon. Konflik meningkat sejak serangan lintas perbatasan Hizbullah pada 2 Maret lalu.
Respons Israel adalah eskalasi militer besar-besaran yang memperparah situasi di Lebanon. Dampaknya, 1,6 juta warga Lebanon terpaksa tinggalkan tempat tinggal mereka.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump umumkan gencatan senjata 10 hari pada 17 April. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang tiga minggu hingga 17 Mei. Namun, selama perpanjangan gencatan senjata, pelanggaran terus terjadi di lapangan. Serangan yang tak berhenti memunculkan keraguan efektivitas kesepakatan itu.
Situasi Lebanon berkaitan dengan konflik regional yang lebih luas dan meningkat. Ketegangan meningkat sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari.
Meski ada gencatan senjata terpisah antara AS dan Iran, kondisinya masih rapuh dan mudah pecah. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung dan memperkeruh situasi.
Dengan korban bertambah dan pelanggaran terus terjadi, gencatan senjata Israel-Lebanon sangat tak pasti. Krisis kemanusiaan juga terus memburuk hingga kini. (jpg)
PROKALTENG.CO-Pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon terus berlanjut setiap hari. Serangan terbaru dalam 24 jam terakhir menewaskan 20 orang dan menambah korban menjadi 2.679 jiwa.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan pada Minggu 46 orang luka-luka dalam serangan Israel. Total korban luka kini mencapai 8.229 orang sejak konflik kembali memanas.
Melansir Yeni Safak, serangan ini bagian pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata sementara. Kesepakatan tersebut mulai diberlakukan pada 17 April lalu. Alih-alih mereda, militer Israel justru tingkatkan operasi udara dan darat di wilayah Lebanon. Konflik meningkat sejak serangan lintas perbatasan Hizbullah pada 2 Maret lalu.
Respons Israel adalah eskalasi militer besar-besaran yang memperparah situasi di Lebanon. Dampaknya, 1,6 juta warga Lebanon terpaksa tinggalkan tempat tinggal mereka.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump umumkan gencatan senjata 10 hari pada 17 April. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang tiga minggu hingga 17 Mei. Namun, selama perpanjangan gencatan senjata, pelanggaran terus terjadi di lapangan. Serangan yang tak berhenti memunculkan keraguan efektivitas kesepakatan itu.
Situasi Lebanon berkaitan dengan konflik regional yang lebih luas dan meningkat. Ketegangan meningkat sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari.
Meski ada gencatan senjata terpisah antara AS dan Iran, kondisinya masih rapuh dan mudah pecah. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung dan memperkeruh situasi.
Dengan korban bertambah dan pelanggaran terus terjadi, gencatan senjata Israel-Lebanon sangat tak pasti. Krisis kemanusiaan juga terus memburuk hingga kini. (jpg)