PROKALTENG.CO-Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan rudal jelajah terhadap kapal Amerika Serikat-Israel MSC Sariska sebagai respons atas tindakan militer AS terhadap kapal Iran Lion Star di Teluk Oman.
Pernyataan tersebut disampaikan IRGC melalui kantor berita Tasnim. Menurut IRGC, serangan dilakukan setelah kapal Iran menjadi sasaran tindakan agresif militer Amerika Serikat.
“Menyusul serangan agresif Angkatan Darat AS terhadap kapal Iran, Lion Star, di Teluk Oman, sebagai balasannya, Angkatan Laut IRGC meluncurkan serangan rudal jelajah ke kapal AS-Israel MSC Sariska,” kata IRGC seperti dikutip Tasnim.
Dalam laporan yang dikutip RIA Novosti dari Teheran, Selasa (2 Juni 2026), IRGC juga menegaskan bahwa setiap tindakan agresif AS di kawasan Selat Hormuz akan mendapat respons tegas dari pihak Iran.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan dua rudal balistik Iran yang mengarah ke pasukan AS di Kuwait berhasil dicegat. Menurut Centcom, tidak ada personel Amerika yang mengalami cedera dalam insiden tersebut.
Sebelumnya, Kuwait melaporkan bahwa pasukannya menghadapi serangan rudal dan pesawat tanpa awak yang disebut bersifat “bermusuhan”.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pesan melalui Truth Social yang meminta para pengkritiknya untuk tetap tenang.
Ia mengatakan bahwa situasi pada akhirnya akan berjalan dengan baik dan menyebut Iran masih memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Trump menyatakan Iran “benar-benar ingin membuat kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik untuk AS”.
Rangkaian serangan terbaru ini terjadi setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan belum menghasilkan kemajuan berarti. Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Trump meminta perubahan terhadap sejumlah poin dalam rancangan kesepakatan yang sedang dibahas.
Perubahan tersebut disebut berkaitan dengan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan pemindahan uranium yang diperkaya tinggi dari Iran. Namun, Gedung Putih belum memberikan komentar terkait laporan tersebut.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menuding Amerika Serikat terus mengubah posisi dan mengajukan tuntutan baru maupun tuntutan yang saling bertentangan.
Menurutnya, kondisi tersebut secara alami akan memperpanjang proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Kepala negosiator Iran juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima kesepakatan apa pun jika hak-hak Iran tidak dijamin sepenuhnya.
Pada akhir pekan lalu, militer AS mengumumkan telah melakukan apa yang disebut sebagai “serangan pertahanan diri” terhadap radar Iran dan fasilitas komando serta kendali drone di Goruk dan Pulau Qeshm yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Melalui unggahan di platform X, Centcom menyatakan pesawat tempur AS menyerang sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, serta dua drone yang dinilai mengancam kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Iran mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang berlaku.
IRGC kemudian menyatakan telah menargetkan pangkalan yang diklaim digunakan Amerika Serikat untuk menyerang menara komunikasi di Pulau Sirik, yang berada sekitar 65 kilometer dari pesisir selatan Iran.
Militer Iran juga memperingatkan bahwa respons yang diberikan akan “sama sekali berbeda” jika tindakan agresif AS kembali terulang.
Di Kuwait, militer setempat melaporkan telah menghadapi serangan rudal dan drone pada Senin pagi. Sirene peringatan serangan udara juga dilaporkan berbunyi di berbagai wilayah negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras serangan yang disebut sebagai tindakan Iran dan menilai insiden tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan.
Menurut pemerintah Kuwait, serangan itu berpotensi menghambat upaya meredakan ketegangan dan negara tersebut berhak mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan diri.
Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, hingga kini Amerika Serikat dan Iran belum berhasil mencapai kesepakatan permanen. Trump beberapa kali menyatakan bahwa kedua negara semakin dekat dengan perjanjian damai, namun belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan.
Laporan CBS News menyebut rancangan terbaru kesepakatan mencakup penghentian kekerasan selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Penutupan jalur tersebut sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional. (fin/jpg)


