alexametrics
24.8 C
Palangkaraya
Friday, August 19, 2022

Anak-Anak yang Tak Divaksinasi Covid-19 Diminta untuk Ikut PJJ

PERHIMPUNAN untuk Pendidikan dan Guru (P2G) dalam survei nasionalnya menyampaikan sebanyak 63,3 persen orang tua setuju anaknya divaksinasi. Sementara 23,5 persen orang tua tidak setuju anaknya divaksinasi dan 13,2 persen orang tua ragu-ragu anaknya divaksinasi.

Saat ini, sekolah di luar wilayah yang menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diwajibkan untuk memberikan opsi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, di samping tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Terkait hal itu, Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan, bagi orang tua yang tidak menginginkan anaknya divaksiansi, mereka tidak boleh melakukan PTM terbatas. “Misalnya orang tua tidak mau anaknya divaksin, kami menyarankan anak tersebut melaksanakan pembelajaran daring,” jelas dia dalam telekonferensi pers Survei Nasional P2G, Minggu (11/7).

Baca Juga :  Pemerintah Imbau TKI Tak Nekat Kerja di Timur Tengah

Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak saat ini juga rentan tertular. Bahkan, mereka yang vaksinasi saja dapat tertular, apalagi yang belum. Maka dari itu ia merekomendasikan untuk anak yang tidak divaksinasi melaksanakan PJJ saja. “Mereka akan berdampak (menularkan) pada teman-temannya ketika PTM terbatas,” ujarnya.

Sebagai informasi, untuk alasan orang tua ragu-ragu dan tidak setuju vaksinasi adalah 72,5 persen orang tua khawatir vaksinasi akan berdampak buruk pada anak setelah divaksinasi dan 5,4 persen orang tua khawatir tujuan vaksinasi bukan untuk kesehatan.

Lalu, alasan lainnya dengan angka 5,2 persen anak memiliki penyakit dan 4,2 persen orang tua khawatir vaksin tidak halal. Kemudian, 4 persen menurut orang tua vaksin belum teruji dan 8,7 persen jawaban lainnya. 

Baca Juga :  Kemendikbud Buka Beasiswa Unggulan Tahun 2020, Simak Ini Ketentuannya

PERHIMPUNAN untuk Pendidikan dan Guru (P2G) dalam survei nasionalnya menyampaikan sebanyak 63,3 persen orang tua setuju anaknya divaksinasi. Sementara 23,5 persen orang tua tidak setuju anaknya divaksinasi dan 13,2 persen orang tua ragu-ragu anaknya divaksinasi.

Saat ini, sekolah di luar wilayah yang menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diwajibkan untuk memberikan opsi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, di samping tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Terkait hal itu, Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan, bagi orang tua yang tidak menginginkan anaknya divaksiansi, mereka tidak boleh melakukan PTM terbatas. “Misalnya orang tua tidak mau anaknya divaksin, kami menyarankan anak tersebut melaksanakan pembelajaran daring,” jelas dia dalam telekonferensi pers Survei Nasional P2G, Minggu (11/7).

Baca Juga :  Pemerintah Imbau TKI Tak Nekat Kerja di Timur Tengah

Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak saat ini juga rentan tertular. Bahkan, mereka yang vaksinasi saja dapat tertular, apalagi yang belum. Maka dari itu ia merekomendasikan untuk anak yang tidak divaksinasi melaksanakan PJJ saja. “Mereka akan berdampak (menularkan) pada teman-temannya ketika PTM terbatas,” ujarnya.

Sebagai informasi, untuk alasan orang tua ragu-ragu dan tidak setuju vaksinasi adalah 72,5 persen orang tua khawatir vaksinasi akan berdampak buruk pada anak setelah divaksinasi dan 5,4 persen orang tua khawatir tujuan vaksinasi bukan untuk kesehatan.

Lalu, alasan lainnya dengan angka 5,2 persen anak memiliki penyakit dan 4,2 persen orang tua khawatir vaksin tidak halal. Kemudian, 4 persen menurut orang tua vaksin belum teruji dan 8,7 persen jawaban lainnya. 

Baca Juga :  Keadaan Pulih, Adian Dirujuk Kejakarta Sore Ini

Most Read

Artikel Terbaru

Merdeka Kepundungan

Momen HUT RI, Bangkit dari Keterpurukan

Gangguan Kesenangan

/