24.5 C
Jakarta
Monday, April 7, 2025

Limbah Kayu Berharga Jutaan Rupiah

PALANGKA RAYA, KALTENGPOS.CO- Menciptakan suatu karya tidak harus berbahan
mahal atau berkualitas. Kunci utama yakni menggali ide
kreatif untuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar. Siapa sangka,
limbah yang dianggap sesuatu yang tidak memiliki nilai dan harga
, justru dapat menyaingi produk-produk dengan
harga jutaan.

Mengolah kayu
menjadi pekerjaan
yang ditekuni Sulistiyo. Salah satu
perajin limbah kayu di Kota Palangka Raya
. Ia
mulai menekuni itu
sejak 2014 lalu. Bermula dari rasa prihatinnya terhadap
limbah-limbah kayu dari mebel yang dibuang dan dianggap tidak memiliki nilai.

Saat itu ia
berinisiatif memungut limbah kayu dengan niat
menjadikannya suatu karya
yang memiliki nilai ekonomis. Dengan senang hati para pemilik mebel memberikan
limbang-limbah produksinya. Sebagai uji coba, pria dengan nama sapaan Tio ini
membuat gantungan kunci berbahan limbah kayu mebel.

“Saya itu prihatin
melihat limbah kayu yang dibuang, padahal jika dikelola
, bisa
menghasilkan produk unggulan
. Saya pun
mulai
mengembangkan hobi saya dengan mengelola limbah kayu,” katanya saat
diwawancarai di rumahnya, Jalan Bhayangkaara II
, Blok C George
Obos, Kota Palangka Raya,
Selasa (3/11).

Selain mengembangkan hobinya,
ayah dua
orang anak ini juga ingin mengedukasi masyarakat dan para p
erajin bahwa
limbah juga memiliki nilai jual. Membuat sebuah karya berbahan kayu tidak harus
menggunakan kayu berkualitas tinggi, tetapi bisa juga menggunakan
kayu
dari limbah mebel.

Baca Juga :  Pemko Bakal Gelar Pertemuan Membahas Strategi yang Bakal Diterapkan di

“Akhirnya saya
membeli limbah kayu itu dengan harga yang sangat murah, mengigat barang yang
saya produksi juga dijual,” katanya.

Produk awal yang ia
kerjakan yakni gantungan kunci
. Berlanjut memproduksi
bingkai cermin, hiasan dinding,
kap lampu,
piala, plakat
, hingga pernak-pernik khas Kalteng. Perlahan
k
aryanya
mulai dikenal masyarakat
.
Berawal dengan
promosi
dari mulut ke mulut hingga melalui media
sosial.

“Kemudian saya
bangun galeri kecil di depan rumah saya
. Hanya
beberapa saja yang ada di dalamnya
, karena banyak barang
produksi

saya
merupakan pesanan sehingga langsung dikirim
ke
konsumen,” jawabnya

“Untuk produksi
furnitur, saat ini kami
hanya
mengerjakan
sesuai pesanan
,
misalnya miniatur
kecapi,” katanya kepada media Kalteng Pos.

Bahan dasar
menggunakan
limbah mebel yang dikelola
. Mulai dari
potongan
kayu hingga kayu yang dileburkan. Khusus hiasan dinding atau cermin dengan
ukuran yang lumayan besar
, pihaknya harus menggunakan bahan tambahan
seperti pl
aywood sebagai pelapis dasar cermin.

“Ada beberapa produk
yang harus menggunakan pl
aywood seperti cermin dan hiasan dinding, tapi
bahan
dasar tetap menggunakan
kayu limbah,” ujarnya.

Sulistiyo mengaku bahwa
ketersediaan bahan baku di wilayah Kota
Palangka Raya masih mencukupi.
Tantangan yang dialami pihaknya
saat
ini
adalah banyaknya pesanan sehingga
pekerjaan tidak
dapat diselesaikan dalam waktu yang
cepat.
Terkadang pemesan menginginkan agar permintaan segera
dipenuhi, sementara
pengelolaan kerajinan ini membutuhkan waktu yang cukup
lama.

Baca Juga :  Pemko Beli 500 APD, Akan Dibagikan ke Tenaga Medis di Puskesmas dan RS

“Terkadang saya terpaksa
menolak
pesanan
,
karena pembuatan
kerajinan tangan ini bukan produk pabrikan yang dapat diselesaikan dengan waktu
yang sangat cepat,” singkatnya.

Untuk area pemasaran, lanjut
Sulistiyo,
produk
kerajinan tangannya
dikirim hingga
ke P
ulau
Jawa
.
Salah
satunya
ke Jakarta. Seiring meningkatnya
pesanan
,
Sulistiyo pun kewalahan meng-handle-nya. Beruntung saat ini ada dua orang
yang membantu
nya.

“Dulu saya sendiri,
sekarang ada dua orang yang membantu. Bahkan, saya juga sudah membentuk
komunitas kerajinan,” tambahnya.

Selain ingin
mengedukasi
masyarakat soal pengelolaan limbah kayu, Tio juga ingin
memperkenalkan kearifan lokal Dayak Kalteng. Pengenalan kearifan lokal dapat ia
lakukan dengan menampilkan
kekhasan budaya. Salah satunya
dengan membuat ornamen Dayak dalam produknya.

“Misalnya membuat
hiasan
tameng dengan tampilan ornamen Dayak
. Selain
itu
dan
banyak
lagi karya kerajinan yang menampilkan budaya
Dayak dalam,” jelas dia.

Produk kerajinan dijual dengan
harga yang bervariasi. Mulai
dari harga termurah yakni Rp100
ribu
,
bahkan hingga
harga termahal mencapai Rp3 juta. Omzet yang ia
dapatkan pun bervariasi. Meski
demikian, Sulistiyo mengakui bahwa r
ata-rata omzet yang diperolehnya
setiap bulan
mencapai
Rp30 juta.

“Harga jual tergantung dengan tingkat kerumitan produk,
termasuk tingkat kesulitan pengerjaan
barang
yang di
pesan,” pungkasnya.

PALANGKA RAYA, KALTENGPOS.CO- Menciptakan suatu karya tidak harus berbahan
mahal atau berkualitas. Kunci utama yakni menggali ide
kreatif untuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar. Siapa sangka,
limbah yang dianggap sesuatu yang tidak memiliki nilai dan harga
, justru dapat menyaingi produk-produk dengan
harga jutaan.

Mengolah kayu
menjadi pekerjaan
yang ditekuni Sulistiyo. Salah satu
perajin limbah kayu di Kota Palangka Raya
. Ia
mulai menekuni itu
sejak 2014 lalu. Bermula dari rasa prihatinnya terhadap
limbah-limbah kayu dari mebel yang dibuang dan dianggap tidak memiliki nilai.

Saat itu ia
berinisiatif memungut limbah kayu dengan niat
menjadikannya suatu karya
yang memiliki nilai ekonomis. Dengan senang hati para pemilik mebel memberikan
limbang-limbah produksinya. Sebagai uji coba, pria dengan nama sapaan Tio ini
membuat gantungan kunci berbahan limbah kayu mebel.

“Saya itu prihatin
melihat limbah kayu yang dibuang, padahal jika dikelola
, bisa
menghasilkan produk unggulan
. Saya pun
mulai
mengembangkan hobi saya dengan mengelola limbah kayu,” katanya saat
diwawancarai di rumahnya, Jalan Bhayangkaara II
, Blok C George
Obos, Kota Palangka Raya,
Selasa (3/11).

Selain mengembangkan hobinya,
ayah dua
orang anak ini juga ingin mengedukasi masyarakat dan para p
erajin bahwa
limbah juga memiliki nilai jual. Membuat sebuah karya berbahan kayu tidak harus
menggunakan kayu berkualitas tinggi, tetapi bisa juga menggunakan
kayu
dari limbah mebel.

Baca Juga :  Pemko Bakal Gelar Pertemuan Membahas Strategi yang Bakal Diterapkan di

“Akhirnya saya
membeli limbah kayu itu dengan harga yang sangat murah, mengigat barang yang
saya produksi juga dijual,” katanya.

Produk awal yang ia
kerjakan yakni gantungan kunci
. Berlanjut memproduksi
bingkai cermin, hiasan dinding,
kap lampu,
piala, plakat
, hingga pernak-pernik khas Kalteng. Perlahan
k
aryanya
mulai dikenal masyarakat
.
Berawal dengan
promosi
dari mulut ke mulut hingga melalui media
sosial.

“Kemudian saya
bangun galeri kecil di depan rumah saya
. Hanya
beberapa saja yang ada di dalamnya
, karena banyak barang
produksi

saya
merupakan pesanan sehingga langsung dikirim
ke
konsumen,” jawabnya

“Untuk produksi
furnitur, saat ini kami
hanya
mengerjakan
sesuai pesanan
,
misalnya miniatur
kecapi,” katanya kepada media Kalteng Pos.

Bahan dasar
menggunakan
limbah mebel yang dikelola
. Mulai dari
potongan
kayu hingga kayu yang dileburkan. Khusus hiasan dinding atau cermin dengan
ukuran yang lumayan besar
, pihaknya harus menggunakan bahan tambahan
seperti pl
aywood sebagai pelapis dasar cermin.

“Ada beberapa produk
yang harus menggunakan pl
aywood seperti cermin dan hiasan dinding, tapi
bahan
dasar tetap menggunakan
kayu limbah,” ujarnya.

Sulistiyo mengaku bahwa
ketersediaan bahan baku di wilayah Kota
Palangka Raya masih mencukupi.
Tantangan yang dialami pihaknya
saat
ini
adalah banyaknya pesanan sehingga
pekerjaan tidak
dapat diselesaikan dalam waktu yang
cepat.
Terkadang pemesan menginginkan agar permintaan segera
dipenuhi, sementara
pengelolaan kerajinan ini membutuhkan waktu yang cukup
lama.

Baca Juga :  Pemko Beli 500 APD, Akan Dibagikan ke Tenaga Medis di Puskesmas dan RS

“Terkadang saya terpaksa
menolak
pesanan
,
karena pembuatan
kerajinan tangan ini bukan produk pabrikan yang dapat diselesaikan dengan waktu
yang sangat cepat,” singkatnya.

Untuk area pemasaran, lanjut
Sulistiyo,
produk
kerajinan tangannya
dikirim hingga
ke P
ulau
Jawa
.
Salah
satunya
ke Jakarta. Seiring meningkatnya
pesanan
,
Sulistiyo pun kewalahan meng-handle-nya. Beruntung saat ini ada dua orang
yang membantu
nya.

“Dulu saya sendiri,
sekarang ada dua orang yang membantu. Bahkan, saya juga sudah membentuk
komunitas kerajinan,” tambahnya.

Selain ingin
mengedukasi
masyarakat soal pengelolaan limbah kayu, Tio juga ingin
memperkenalkan kearifan lokal Dayak Kalteng. Pengenalan kearifan lokal dapat ia
lakukan dengan menampilkan
kekhasan budaya. Salah satunya
dengan membuat ornamen Dayak dalam produknya.

“Misalnya membuat
hiasan
tameng dengan tampilan ornamen Dayak
. Selain
itu
dan
banyak
lagi karya kerajinan yang menampilkan budaya
Dayak dalam,” jelas dia.

Produk kerajinan dijual dengan
harga yang bervariasi. Mulai
dari harga termurah yakni Rp100
ribu
,
bahkan hingga
harga termahal mencapai Rp3 juta. Omzet yang ia
dapatkan pun bervariasi. Meski
demikian, Sulistiyo mengakui bahwa r
ata-rata omzet yang diperolehnya
setiap bulan
mencapai
Rp30 juta.

“Harga jual tergantung dengan tingkat kerumitan produk,
termasuk tingkat kesulitan pengerjaan
barang
yang di
pesan,” pungkasnya.

Terpopuler

Artikel Terbaru