PALANGKA RAYA, KALTENGPOS.CO- Menciptakan suatu karya tidak harus berbahan
mahal atau berkualitas. Kunci utama yakni menggali ide kreatif untuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar. Siapa sangka,
limbah yang dianggap sesuatu yang tidak memiliki nilai dan harga, justru dapat menyaingi produk-produk dengan
harga jutaan.
Mengolah kayu
menjadi pekerjaan yang ditekuni Sulistiyo. Salah satu
perajin limbah kayu di Kota Palangka Raya. Ia
mulai menekuni itu sejak 2014 lalu. Bermula dari rasa prihatinnya terhadap
limbah-limbah kayu dari mebel yang dibuang dan dianggap tidak memiliki nilai.
Saat itu ia
berinisiatif memungut limbah kayu dengan niat menjadikannya suatu karya
yang memiliki nilai ekonomis. Dengan senang hati para pemilik mebel memberikan
limbang-limbah produksinya. Sebagai uji coba, pria dengan nama sapaan Tio ini
membuat gantungan kunci berbahan limbah kayu mebel.
“Saya itu prihatin
melihat limbah kayu yang dibuang, padahal jika dikelola, bisa
menghasilkan produk unggulan. Saya pun
mulai
mengembangkan hobi saya dengan mengelola limbah kayu,†katanya saat
diwawancarai di rumahnya, Jalan Bhayangkaara II, Blok C George
Obos, Kota Palangka Raya, Selasa (3/11).
Selain mengembangkan hobinya,
ayah dua
orang anak ini juga ingin mengedukasi masyarakat dan para perajin bahwa
limbah juga memiliki nilai jual. Membuat sebuah karya berbahan kayu tidak harus
menggunakan kayu berkualitas tinggi, tetapi bisa juga menggunakan kayu
dari limbah mebel.
“Akhirnya saya
membeli limbah kayu itu dengan harga yang sangat murah, mengigat barang yang
saya produksi juga dijual,” katanya.
Produk awal yang ia
kerjakan yakni gantungan kunci. Berlanjut memproduksi
bingkai cermin, hiasan dinding, kap lampu,
piala, plakat, hingga pernak-pernik khas Kalteng. Perlahan
karyanya
mulai dikenal masyarakat.
Berawal dengan
promosi dari mulut ke mulut hingga melalui media
sosial.
“Kemudian saya
bangun galeri kecil di depan rumah saya. Hanya
beberapa saja yang ada di dalamnya, karena banyak barang
produksi
saya merupakan pesanan sehingga langsung dikirim
ke konsumen,” jawabnya
“Untuk produksi
furnitur, saat ini kami
hanya mengerjakan
sesuai pesanan,
misalnya miniatur
kecapi,†katanya kepada media Kalteng Pos.
Bahan dasar
menggunakan
limbah mebel yang dikelola. Mulai dari
potongan
kayu hingga kayu yang dileburkan. Khusus hiasan dinding atau cermin dengan
ukuran yang lumayan besar, pihaknya harus menggunakan bahan tambahan
seperti playwood sebagai pelapis dasar cermin.
“Ada beberapa produk
yang harus menggunakan playwood seperti cermin dan hiasan dinding, tapi
bahan
dasar tetap menggunakan kayu limbah,†ujarnya.
Sulistiyo mengaku bahwa
ketersediaan bahan baku di wilayah Kota
Palangka Raya masih mencukupi. Tantangan yang dialami pihaknya
saat
ini adalah banyaknya pesanan sehingga
pekerjaan tidak dapat diselesaikan dalam waktu yang
cepat. Terkadang pemesan menginginkan agar permintaan segera
dipenuhi, sementara pengelolaan kerajinan ini membutuhkan waktu yang cukup
lama.
“Terkadang saya terpaksa
menolak
pesanan,
karena pembuatan
kerajinan tangan ini bukan produk pabrikan yang dapat diselesaikan dengan waktu
yang sangat cepat,†singkatnya.
Untuk area pemasaran, lanjut
Sulistiyo, produk
kerajinan tangannya dikirim hingga
ke Pulau
Jawa.
Salah
satunya ke Jakarta. Seiring meningkatnya
pesanan,
Sulistiyo pun kewalahan meng-handle-nya. Beruntung saat ini ada dua orang
yang membantunya.
“Dulu saya sendiri,
sekarang ada dua orang yang membantu. Bahkan, saya juga sudah membentuk
komunitas kerajinan,†tambahnya.
Selain ingin
mengedukasi masyarakat soal pengelolaan limbah kayu, Tio juga ingin
memperkenalkan kearifan lokal Dayak Kalteng. Pengenalan kearifan lokal dapat ia
lakukan dengan menampilkan kekhasan budaya. Salah satunya
dengan membuat ornamen Dayak dalam produknya.
“Misalnya membuat
hiasan
tameng dengan tampilan ornamen Dayak. Selain
itu dan
banyak lagi karya kerajinan yang menampilkan budaya
Dayak dalam,†jelas dia.
Produk kerajinan dijual dengan
harga yang bervariasi. Mulai dari harga termurah yakni Rp100
ribu,
bahkan hingga
harga termahal mencapai Rp3 juta. Omzet yang ia dapatkan pun bervariasi. Meski
demikian, Sulistiyo mengakui bahwa rata-rata omzet yang diperolehnya
setiap bulan mencapai
Rp30 juta.
“Harga jual tergantung dengan tingkat kerumitan produk,
termasuk tingkat kesulitan pengerjaan barang
yang dipesan,†pungkasnya.