alexametrics
22.1 C
Palangkaraya
Sunday, August 14, 2022

Banjir Desa Gandang Barat Diduga Akibat Pembuangan Air Perusahaan Sawi

PALANGKA RAYA – Banjir yang melanda Desa Gandang Barat
Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) lumpuhkan ekonomi masyarakat. Itu terjadi
akibat banyaknya kiriman air dari beberapa daerah, khususnya salah satu
perusahaan perkebunan kelapa sawit yang melakukan pembungan air ke wilayah Desa
Gandang Barat.

Kepala Desa Gandang Barat Hariyono mengatakan, warga
masyarakat yang ada di Desa Gandang Barat sudah sangat khawatir dengan banjir
yang melanda. Pasalnya, banjir tersebut mengganggu aktivitas warga dan
melumpuhkan ekonomi warga yang mengandalkan hidup dari lahan pertanian.

“Kami sangat ingin ke provinsi terkait banjir yang
terjadi, karena kami sangat membutuhkan bantuan. Kami ingin menyampaikan
persoalan banjir agar dapat perhatian dan bantuan dari Pemprov dan DPRD
Kalteng,” ucapnya melalui telepon.

Baca Juga :  Perketat Keluar Masuk Kendaraan di Kota Cantik

Banjir yang terjadi sejak 2005 dan terparah pada 2020 ini,
membuat warga khawatir. Karena dampak banjir begitu luar biasa bagi ekonomi
masyarakat, rumah dan sawah warga tergenang air.

“Kami tidak punya dana dan apa-apa untuk mengatasi
banjir. Banjir ini mulai 2005 dan setiap tahun banjir. Bahkan, satu tahun bisa
dua tiga kali banjir. Tetapi sekarang debit air makin tinggi dan membuat
ekonomi lumpuh. Lahan pertanian terendam, sehingga warga merugi dan tidak dapat
melakukan aktivitas,” ujarnya.

Menurut Hariyono, banjir yang terjadi karena banyaknya
kiriman air dari daerah lain, khususnya perusahaan perkebunan. Sementara
saluran air yang tidak lancar.

Air yang masuk ke desa ini dari Eks PLG. Kemudian paling
besar itu dari sebuah perusahaan sawit perkirakan sekitar 85 persen suplai dari
perusahaan tersebut yang masuk ke Desa Gandang Barat dan sekitarnya.

Baca Juga :  Metode Belajar Daring dan Luring di Tengah Pandemi, Begini Penjelasan

Namun, pihak perusahaan tidak memberikan bantuan apapun
kepada masyarakat yang terdampak banjir. Bahkan, dalam upaya pembersihan
saluran pihak perusahaan tidak ada perhatian.

“Perusahaan yang ada tidak memberikan bantuan apapun,
ketika diminta untuk mengeruk saluran air, pihak perusahaan banyak berkilah.
Ini yang kami sayangkan dari perusahaan, sedangkan air banyak dari perusahaan
tersebut,” pungkasnya. (arj)

PALANGKA RAYA – Banjir yang melanda Desa Gandang Barat
Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) lumpuhkan ekonomi masyarakat. Itu terjadi
akibat banyaknya kiriman air dari beberapa daerah, khususnya salah satu
perusahaan perkebunan kelapa sawit yang melakukan pembungan air ke wilayah Desa
Gandang Barat.

Kepala Desa Gandang Barat Hariyono mengatakan, warga
masyarakat yang ada di Desa Gandang Barat sudah sangat khawatir dengan banjir
yang melanda. Pasalnya, banjir tersebut mengganggu aktivitas warga dan
melumpuhkan ekonomi warga yang mengandalkan hidup dari lahan pertanian.

“Kami sangat ingin ke provinsi terkait banjir yang
terjadi, karena kami sangat membutuhkan bantuan. Kami ingin menyampaikan
persoalan banjir agar dapat perhatian dan bantuan dari Pemprov dan DPRD
Kalteng,” ucapnya melalui telepon.

Baca Juga :  Metode Belajar Daring dan Luring di Tengah Pandemi, Begini Penjelasan

Banjir yang terjadi sejak 2005 dan terparah pada 2020 ini,
membuat warga khawatir. Karena dampak banjir begitu luar biasa bagi ekonomi
masyarakat, rumah dan sawah warga tergenang air.

“Kami tidak punya dana dan apa-apa untuk mengatasi
banjir. Banjir ini mulai 2005 dan setiap tahun banjir. Bahkan, satu tahun bisa
dua tiga kali banjir. Tetapi sekarang debit air makin tinggi dan membuat
ekonomi lumpuh. Lahan pertanian terendam, sehingga warga merugi dan tidak dapat
melakukan aktivitas,” ujarnya.

Menurut Hariyono, banjir yang terjadi karena banyaknya
kiriman air dari daerah lain, khususnya perusahaan perkebunan. Sementara
saluran air yang tidak lancar.

Air yang masuk ke desa ini dari Eks PLG. Kemudian paling
besar itu dari sebuah perusahaan sawit perkirakan sekitar 85 persen suplai dari
perusahaan tersebut yang masuk ke Desa Gandang Barat dan sekitarnya.

Baca Juga :  Sambangi Kampung Ketahanan Pangan, Walikota Panen Sayur Organik

Namun, pihak perusahaan tidak memberikan bantuan apapun
kepada masyarakat yang terdampak banjir. Bahkan, dalam upaya pembersihan
saluran pihak perusahaan tidak ada perhatian.

“Perusahaan yang ada tidak memberikan bantuan apapun,
ketika diminta untuk mengeruk saluran air, pihak perusahaan banyak berkilah.
Ini yang kami sayangkan dari perusahaan, sedangkan air banyak dari perusahaan
tersebut,” pungkasnya. (arj)

Most Read

Artikel Terbaru

/