31.9 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Orangutan Harus Dilestarikan dan Perlu Banyak Orang Peduli

PALANGKA
RAYA, KALTENGPOS.CO

Di sebuah dangau beratap ilalang di ujung Desa Kereng Bangkirai, Kota Palangka
Raya, lima remaja itu tampak duduk melingkar berjarak 1,5-2 meter satu sama
lain. Sembari bermasker, dengan antusias mereka berdiskusi, memilih dan memilah
kalimat yang tepat tentang penyelamatan orangutan untuk nantinya disampaikan di
media sosial dan lingkungan sekitar mereka.

Sejurus kemudian, Mahda (14), satu dari lima
remaja tersebut tiba-tiba beringsut dari tempatnya duduk dan mengambil selembar
kertas berukuran HVS serta menuliskan kalimat: ‘Take action now!!!’. Dia lalu
meyambungnya dengan kalimat ‘#saveorangutan, orangutan butuh orang yang
peduli’.

“Orangutan terancam punah. Kami sebagai
generasi muda yang tinggal di dekat hutan ikut sedih. Oleh karena itu, orangutan
harus dilestarikan dan perlu lebih banyak orang untuk peduli,” ujar saat Mahda
menjelaskan perihal pesan-pesan yang ditulisnya.

“Sebagai primata mereka sangat berguna bagi
hutan. Misalnya, dia makan buah, terus buang air besar, ada bijinya, dan kemudian
bijinya bisa tumbuh jadi tanaman baru. Begitu seterusnya,” lanjut dia.

Ya, hari itu Mahda bersama empat teman
sebayanya dan berinisiatif memperingati Hari Orangutan Internasional 2020.
Mereka adalah anggota komunitas Sebangau Rangers, sebuah komunitas anak-anak
dan remaja yang tinggal di dekat kawasan hutan Sebangau, yang diinisiasi oleh
Divisi Edukasi Borneo Nature Foundation (BNF).

Dari rilis yang diterima Kaltengpos.co, Program
Edukasi Sebangau Rangers merupakan salah satu program edukasi BNF yang
memfokuskan pendidikan lingkungan dan kaderisasi pemuda yang tinggal di daerah
Kereng Bangkirai atau di sekitar hutan Sebangau.

Anggota Sebangau Rangers tersebar di berbagai
sekolah seperti SMKN 5 Palangka Raya, SMPN 7 Palangka Raya, dan MTs Raudhatul
Jannah. Kegiatan Sebangau Ranger berupa materi konservasi, field trip di
Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), dan kegiatan kepemudaan lainnya.

Sejak April 2020, kegiatan Sebangau Rangers
sempat dihentikan karena pandemi. Namun, sejak Juli 2020, kegiatan dimulai
kembali dengan tetap mengikuti protokol Covid-19, seperti pengecekan suhu tubuh
dengan thermometer tembak, dan jarak antarpeserta diatur. Jumlah peserta pun
dibatasi dan durasi kegiatan yang biasanya dua jam dipendekkan menjadi maksimal
30 menit untuk kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan tugas di rumah.

Baca Juga :  Karhutla Mulai Terjadi di Dua Kecamatan Kota Palangka Raya

 â€œJika pertemuan sebelum pandemi diselingi
kegiatan observasi di lapangan, pada masa kebiasaan baru kegiatan berubah
menyesuaikan aturan. Setiap peserta Sebangau Ranger wajib datang dalam keadaan
sehat dan mendapat izin dari orangtua mereka,” ungkap Staf Edukasi BNF,
Aloysius Dinora (27) yang siang itu mendampingi kegiatan Sebangau Rangers.

Hari Orangutan
Sedunia

Namun, pertemuan Rabu siang itu menjadi hal
spesial bagi anak-anak Sebangau. Kegiatan difokuskan pada perayaan Hari
Orangutan Sedunia 2020, sebuah hari yang menjadi peringatan betapa pentingnya
makna ekologis keberadaan spesies ikonik di hutan-hutan dekat mereka,
orangutan.

“Orangutan-orangutan di hutan di Kalimantan
kini terancam. Tiap tahun musim kemarau hutannya terbakar, ada juga orang yang
ambil kayu-kayu di hutan, tebang sembarangan. Jadi, hari ini kami bersama-sama
meminta kepada orang-orang agar turut melindungi hutan supaya orangutan tidak
musnah, dan generasi kami tetap bisa melihat mereka,” ucap Icha (14), anggota
Sebangau Rangers lainnya.

Ya, berbeda dengan orang-orang tua mereka,
kini tidak mudah bagi anak-anak Sebangau dapat melihat orangutan. Bahkan,
sebagian anak-anak di kawasan tepian hutan rawa gambut itu tak pernah lagi
melihat satu dari empat spesies kera besar yang ada di bumi itu.

Hal ini seperti diceritakan oleh Igen (50),
Ketua RT 2 RW 1, Kelurahan Kereng Bangkirai. Dahulu, pada tahun 1990-an, saat
dia muda dan mulai hidup sebagai nelayan tangkap tradisional (pekerjaan hampir
sebagian besar warga lokal di tepian hutan gambut Sebangau), sangat mudah
menemui orangutan, khususnya saat menginap di gubuk-gubuk yang terdapat di
hutan. 

“Bahkan, tidak perlu kami harus masuk ke
dalam hutan. Di sepanjang sungai menuju kawasan hutan, orangutan mudah ditemui.
Kalau monyet tentunya sering sekali. Bekantan juga. Mereka (orangutan) biasanya
menyisiri pohon-pohon yang ada di pinggir sungai,” ungkap Igen.

Seiring perjalanan waktu, perambahan hutan
terjadi dan semakin masif saat program sejuta hektar dicanangkan Pemerintahan
Soeharto.

Baca Juga :  Dorong Produk Unggulan Desa BRILian, BRI Kembali Selenggarakan Bazaar UMKM

“Sejak itulah kayaknya perambahan dan
kerusakan hutan sering terjadi, kebakaran pun menjadi kerap terjadi juga dan
otomatis ini akan mengurangi populasi orangutan. Ketika hutan dirambah dan
dijarah, kebakaran pasti terjadi,” tutur dia.

Kini, sejak pengelola hutan Sebangau melarang
adanya perambahan, perusakan hutan cenderung menurun. Namun, populasi orangutan
telah terlanjut menurun. Tak lagi mudah bagi warga untuk menemui orangutan,
kecuali sesekali saat mereka mencari ikan jauh di dalam kawasan hutan.

Aktivitas keseharian anak-anak sebangau
umumnya telah berbeda dengan orang-orang tua mereka yang sejak kecil dan muda
masuk ke hutan untuk mencari ikan. Situasi ini juga makin menjauhkan anak-anak
Sebangau untuk mengenal secara langsung primata yang menjadi spesies payung
bagi kelangsungan ekosistem hutan itu.

“Oleh karena itu, kami sebagai orangtua,
sangat senang sekali dengan adanya kegiatan Sebangau Rangers yang
memperkenalkan kembali pentingnya orangutan di hutan. Hal ini penting agar
generasi muda ke depan turut menjaga kelestarian orangutan di Sebangau,” ujar
Igen.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) tahun 2016 menyebutkan, metapopulasi orangutan Kalimantan
(Pongo pygmaeus) diperkirakan tinggal 23% yang akan lestari dalam 100-500 tahun
ke depan, jika ancaman tidak berkurang atau hilang akibat dari konversi hutan
pada habitat orangutan menjadi fungsi lain.

Hasil penelitian Alexander Nater et al,
berjudul “Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan
Species” yang dipublikasikan di Jurnal Current Biology (2018), menyebutkan, dunia
kehilangan hampir 150.000 individu orangutan di Pulau Kalimantan dalam 16 tahun
terakhir akibat hilangnya habitat dan pembunuhan. Masih berdasarkan studi yang
sama, diperkirakan kita akan kembali kehilangan 45.000 individu lainnya pada
2050.

Terkait dengan penurunan populasi tersebut,
The International Union for Conservation of Nature [IUCN] telah memasukkan tiga
spesies Orangutan yang ada di Indonesia dalam status kritis (critically
endangered).

“Sebagai genarasi masa depan kami berharap
semoga tak ada lagi yang memburu orangutan. Tak ada lagi yang tebang pohon,
supaya orangutan masih punya rumah,” ucap Mahda.
 

PALANGKA
RAYA, KALTENGPOS.CO

Di sebuah dangau beratap ilalang di ujung Desa Kereng Bangkirai, Kota Palangka
Raya, lima remaja itu tampak duduk melingkar berjarak 1,5-2 meter satu sama
lain. Sembari bermasker, dengan antusias mereka berdiskusi, memilih dan memilah
kalimat yang tepat tentang penyelamatan orangutan untuk nantinya disampaikan di
media sosial dan lingkungan sekitar mereka.

Sejurus kemudian, Mahda (14), satu dari lima
remaja tersebut tiba-tiba beringsut dari tempatnya duduk dan mengambil selembar
kertas berukuran HVS serta menuliskan kalimat: ‘Take action now!!!’. Dia lalu
meyambungnya dengan kalimat ‘#saveorangutan, orangutan butuh orang yang
peduli’.

“Orangutan terancam punah. Kami sebagai
generasi muda yang tinggal di dekat hutan ikut sedih. Oleh karena itu, orangutan
harus dilestarikan dan perlu lebih banyak orang untuk peduli,” ujar saat Mahda
menjelaskan perihal pesan-pesan yang ditulisnya.

“Sebagai primata mereka sangat berguna bagi
hutan. Misalnya, dia makan buah, terus buang air besar, ada bijinya, dan kemudian
bijinya bisa tumbuh jadi tanaman baru. Begitu seterusnya,” lanjut dia.

Ya, hari itu Mahda bersama empat teman
sebayanya dan berinisiatif memperingati Hari Orangutan Internasional 2020.
Mereka adalah anggota komunitas Sebangau Rangers, sebuah komunitas anak-anak
dan remaja yang tinggal di dekat kawasan hutan Sebangau, yang diinisiasi oleh
Divisi Edukasi Borneo Nature Foundation (BNF).

Dari rilis yang diterima Kaltengpos.co, Program
Edukasi Sebangau Rangers merupakan salah satu program edukasi BNF yang
memfokuskan pendidikan lingkungan dan kaderisasi pemuda yang tinggal di daerah
Kereng Bangkirai atau di sekitar hutan Sebangau.

Anggota Sebangau Rangers tersebar di berbagai
sekolah seperti SMKN 5 Palangka Raya, SMPN 7 Palangka Raya, dan MTs Raudhatul
Jannah. Kegiatan Sebangau Ranger berupa materi konservasi, field trip di
Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), dan kegiatan kepemudaan lainnya.

Sejak April 2020, kegiatan Sebangau Rangers
sempat dihentikan karena pandemi. Namun, sejak Juli 2020, kegiatan dimulai
kembali dengan tetap mengikuti protokol Covid-19, seperti pengecekan suhu tubuh
dengan thermometer tembak, dan jarak antarpeserta diatur. Jumlah peserta pun
dibatasi dan durasi kegiatan yang biasanya dua jam dipendekkan menjadi maksimal
30 menit untuk kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan tugas di rumah.

Baca Juga :  Karhutla Mulai Terjadi di Dua Kecamatan Kota Palangka Raya

 â€œJika pertemuan sebelum pandemi diselingi
kegiatan observasi di lapangan, pada masa kebiasaan baru kegiatan berubah
menyesuaikan aturan. Setiap peserta Sebangau Ranger wajib datang dalam keadaan
sehat dan mendapat izin dari orangtua mereka,” ungkap Staf Edukasi BNF,
Aloysius Dinora (27) yang siang itu mendampingi kegiatan Sebangau Rangers.

Hari Orangutan
Sedunia

Namun, pertemuan Rabu siang itu menjadi hal
spesial bagi anak-anak Sebangau. Kegiatan difokuskan pada perayaan Hari
Orangutan Sedunia 2020, sebuah hari yang menjadi peringatan betapa pentingnya
makna ekologis keberadaan spesies ikonik di hutan-hutan dekat mereka,
orangutan.

“Orangutan-orangutan di hutan di Kalimantan
kini terancam. Tiap tahun musim kemarau hutannya terbakar, ada juga orang yang
ambil kayu-kayu di hutan, tebang sembarangan. Jadi, hari ini kami bersama-sama
meminta kepada orang-orang agar turut melindungi hutan supaya orangutan tidak
musnah, dan generasi kami tetap bisa melihat mereka,” ucap Icha (14), anggota
Sebangau Rangers lainnya.

Ya, berbeda dengan orang-orang tua mereka,
kini tidak mudah bagi anak-anak Sebangau dapat melihat orangutan. Bahkan,
sebagian anak-anak di kawasan tepian hutan rawa gambut itu tak pernah lagi
melihat satu dari empat spesies kera besar yang ada di bumi itu.

Hal ini seperti diceritakan oleh Igen (50),
Ketua RT 2 RW 1, Kelurahan Kereng Bangkirai. Dahulu, pada tahun 1990-an, saat
dia muda dan mulai hidup sebagai nelayan tangkap tradisional (pekerjaan hampir
sebagian besar warga lokal di tepian hutan gambut Sebangau), sangat mudah
menemui orangutan, khususnya saat menginap di gubuk-gubuk yang terdapat di
hutan. 

“Bahkan, tidak perlu kami harus masuk ke
dalam hutan. Di sepanjang sungai menuju kawasan hutan, orangutan mudah ditemui.
Kalau monyet tentunya sering sekali. Bekantan juga. Mereka (orangutan) biasanya
menyisiri pohon-pohon yang ada di pinggir sungai,” ungkap Igen.

Seiring perjalanan waktu, perambahan hutan
terjadi dan semakin masif saat program sejuta hektar dicanangkan Pemerintahan
Soeharto.

Baca Juga :  Dorong Produk Unggulan Desa BRILian, BRI Kembali Selenggarakan Bazaar UMKM

“Sejak itulah kayaknya perambahan dan
kerusakan hutan sering terjadi, kebakaran pun menjadi kerap terjadi juga dan
otomatis ini akan mengurangi populasi orangutan. Ketika hutan dirambah dan
dijarah, kebakaran pasti terjadi,” tutur dia.

Kini, sejak pengelola hutan Sebangau melarang
adanya perambahan, perusakan hutan cenderung menurun. Namun, populasi orangutan
telah terlanjut menurun. Tak lagi mudah bagi warga untuk menemui orangutan,
kecuali sesekali saat mereka mencari ikan jauh di dalam kawasan hutan.

Aktivitas keseharian anak-anak sebangau
umumnya telah berbeda dengan orang-orang tua mereka yang sejak kecil dan muda
masuk ke hutan untuk mencari ikan. Situasi ini juga makin menjauhkan anak-anak
Sebangau untuk mengenal secara langsung primata yang menjadi spesies payung
bagi kelangsungan ekosistem hutan itu.

“Oleh karena itu, kami sebagai orangtua,
sangat senang sekali dengan adanya kegiatan Sebangau Rangers yang
memperkenalkan kembali pentingnya orangutan di hutan. Hal ini penting agar
generasi muda ke depan turut menjaga kelestarian orangutan di Sebangau,” ujar
Igen.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) tahun 2016 menyebutkan, metapopulasi orangutan Kalimantan
(Pongo pygmaeus) diperkirakan tinggal 23% yang akan lestari dalam 100-500 tahun
ke depan, jika ancaman tidak berkurang atau hilang akibat dari konversi hutan
pada habitat orangutan menjadi fungsi lain.

Hasil penelitian Alexander Nater et al,
berjudul “Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan
Species” yang dipublikasikan di Jurnal Current Biology (2018), menyebutkan, dunia
kehilangan hampir 150.000 individu orangutan di Pulau Kalimantan dalam 16 tahun
terakhir akibat hilangnya habitat dan pembunuhan. Masih berdasarkan studi yang
sama, diperkirakan kita akan kembali kehilangan 45.000 individu lainnya pada
2050.

Terkait dengan penurunan populasi tersebut,
The International Union for Conservation of Nature [IUCN] telah memasukkan tiga
spesies Orangutan yang ada di Indonesia dalam status kritis (critically
endangered).

“Sebagai genarasi masa depan kami berharap
semoga tak ada lagi yang memburu orangutan. Tak ada lagi yang tebang pohon,
supaya orangutan masih punya rumah,” ucap Mahda.
 

Terpopuler

Artikel Terbaru