28.8 C
Jakarta
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Berbagai Cara Menjadi Diktator

Membaca karya Mikal Hem ini tak terasa membosankan karena studi kasusnya beragam.

BAGI banyak penerbit di Indonesia, menghabiskan stok buku cetakan pertama yang tidak lebih dari 3.000 eksemplar sudah ”puji Tuhan”. Tapi, itu tidak berlaku untuk kategori buku ”pengembangan diri”. Banyak penerbit yang menjadikannya tulang punggung penjualan. Mulai panduan asmara hingga dasar-dasar ternak belut.

Namun, apa jadinya bila ada buku pengembangan diri bagi mereka yang hendak berkarier sebagai… diktator? Apakah ada yang sejak awal berminat jadi pemimpin beringas? Apakah memang ada tips dan triknya? Dan, apakah benar ada buku semacam itu?

Pembaca, inilah Kiat Menjadi Diktator karya Mikal Hem.

Satire yang Konsisten

Sejatinya, Kiat Menjadi Diktator adalah buku pengembangan diri jadijadian. Bab yang disusun runut A–Z cara menjadi diktator hanya strategi Mikal untuk menjabarkan kelakuan telengas para diktator. Sebuah satire politik –Mikal pura-pura setuju dengan hal yang dikutuknya.

Sepanjang 191 halaman, Mikal konsisten dengan gaya tutur buku pengembangan diri. Membacanya sama sekali tidak membosankan sebab, seperti buku pengembangan diri jempolan, studi kasusnya beragam. Diktator lintas zaman, lintas bangsa; semua ada.

Pada tiap akhir bahasan, Mikal tidak lupa menyertakan kalimat-kalimat yang menggugah tindakan selayaknya buku pengembangan diri. Mulai yang motivasional, ”Tidak ada alasan untuk berputus asa kalau kau bercita-cita menjadi diktator” (hal 12), hingga yang teknikal, ”Sebagai diktator kau sebaiknya mempertahankan pengeluaran yang tinggi” (hal 91).

Dus, sebagai satire, Mikal tidak lupa menebar lelucon. Kiat Menjadi Diktator menonjol lewat nada sok simpatik Mikal dalam memuji para diktator. Dia kerap menulis, ”Mengesankan!”, dan sebagainya setelah menceritakan laku konyol pemimpin edan.

Keistimewaannya sebagai satire politik bukan hanya lelucon dan bukti bahwa dunia ini punya lebih dari cukup diktator untuk dibuatkan tim sepak bola. Terkhusus bagi orang Indonesia, buku ini menyajikan banyak hal yang bikin kita berseru, ”Lha, ini sudah ada di sini!”, meski cuma sekali membahas sejarah politik negara kita.

Relevansi dengan Indonesia

Sejak di bab pertama, ketika Mikal terlebih dahulu meyakinkan pembaca yang masih maju-mundur lewat bab ”Keuntungan Jadi Diktator”, sudah ada hal yang nyambung dengan Indonesia. Di bab tersebut, salah satu benefit diktator adalah awetnya kekuasaan. Soal ini, warga Indonesia tidak bisa tidak terbayang sosok jenderal murah senyum (dan murah nyawa) yang fotonya terpajang di kelas-kelas selama lebih dari tiga dekade.

Baca Juga :  Mendudukkan Finalitas dan Falibilitas Sistem Peradilan Indonesia

Bab selanjutnya, ”Cara Menjadi Diktator”, juga bisa ditengok ke sejarah Indonesia. Dulu, tulis Mikal, komunisme pernah jadi kata sandi untuk mengakses bantuan tak terbatas dari AS untuk jadi diktator. Dia menyebutkan mulai Kongo sampai Cile.

Namun, beruntunglah kita sebagai warga Pancasila sebab Pak Harto sudah memberi teladan. Dia menggunakan cara serupa untuk melentingkan karier diktatornya, 47 tahun mendahului terbitnya kiat-kiat dari jurnalis Norwegia ini. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya petinggi komunis dan Presiden Soekarno yang ditumpas, melainkan 500.000–3.000.000 manusia beserta ajarannya.

Dulu dar-der-dor begitu mungkin efektif. Namun, Mikal tahu: ada zaman, ada cara, ada orang. Ini membuktikan konsistensi Mikal dalam mempertahankan bentuk satirenya dengan memberi opsi solusi; ciri buku pengembangan diri jempolan. Mikal tidak ingin pembacanya jadi berkecil hati hanya karena negaranya masih demokratis. Semua ada jalannya. Dan jalan itu bernama: pemilu!

Pemilu

Ketika kediktatoran baru mau dimulai di negara demokratis, mau tidak mau jalan ini perlu ditempuh; betapa menyebalkannya. Lagi pula, seperti yang ditulis Mikal, ”Kalau kau melakukannya dengan benar dan mendapatkan hasil yang kau inginkan tanpa banyak kehebohan, maka pemilu akan menambah legitimasimu.” (hal 35)

Dengan nada kocak yang polos, seolah sungguh-sungguh sedang mendikte tips dan trik, Mikal menjabarkan cara mencurangi pemilu. Ballot stuffing (mencurangi kotak suara) adalah trik paling dasar. Dalam bentuk ekstremnya, ballot stuffing bisa mengingkari hukum matematika.

Mikal menjadikan Putin, diktator Rusia, sebagai contoh. Dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2012, di daerah pemilihan (dapil) Grozny, dia mendulang 1.482 suara. Padahal, dapil itu hanya terdiri atas 1.389 pemilih. Artinya, Putin menang 107 persen di sana.

Ajaibnya, taktik melampaui kodrat ini sudah diterapkan di Indonesia. Pilpres 2024 didapati banyak kasus penggelembungan suara. Di Tempat Pemungutan Suara 34 Rengas Ciputat Timur, misalnya, salah satu kandidat digenjot 1.000 persen perolehannya, dari 86 ke 886 suara.

Baca Juga :  Tahun, Terminasi, dan Puisi

Berbagi

Mikal sadar bahwa pasti banyak yang cemburu dengan diktator. Begitulah Mikal menabalkan bukunya bukan pengembangan diri sepele sebab dia mampu mengantisipasi masalah yang baru saja muncul di kepala pembaca.

Pemilu jujur saja tidak bikin pesaing puas, apalagi yang curang. Untuk itu, sebagai penguasa tunggal, janganlah pelit. Namun ingat, tetap selektif. Itulah prinsip dasar amalan bab ”Berbagilah (dengan Orang-Orang Dekatmu)”.

Orang dekat ini bisa keluarga, rekan politik, atau mitra bisnis. Hubungan saling menguntungkan akan terwujud. Kekuasaan diktator bisa langgeng dan para kerabat bisa hidup sejahtera.

Istri diktator Rumania sudah membuktikannya dengan sukses bergelimang doktor kehormatan meski putus sekolah di usia 14 tahun. Atau foya-foya bejat para pangeran Arab yang membuat pesta narkoba serta memelihara macan jadi tampak culun belaka.

Semangat berbagi ini juga yang jadi rahasia sukses Pak Harto dalam memelihara bahtera rumah tangga bernama Orde Baru-nya. Dia bagikan kekayaan negara untuk rakyatnya. Ralat, rakyat terdekatnya. Perwira kesayangan dapat kilang minyak, rekan bisnis dapat konsesi, dan politisi dapat kursi. Adil kan?

Begitulah amal saleh yang selalu cocok dipakai di negeri gotong royong ini. Boleh saja negara pakai cara-cara demokratis seperti pengadilan independen dan pemilu. Asal prinsip berbagi (dengan orang-orang terdekat) terus ditegakkan, jalan menuju kediktatoran tetap terjaga.

Kalau dibaca sebagai hiburan, buku ini bakal sukses bikin rahang kram. Irwan Syahrir sukses menerjemahkan lawakan Mikal –langsung dari bahasa Norwegia– dengan berterima. Mau dijadikan pengetahuan sepintas bahwa hanya imajinasi yang membatasi kelakuan diktator, sangat cocok.

Namun, kalau disimak saksama sebagai nubuat masa depan kelam Indonesia sebab kemungkinan besar seseorang sudah mengamalkan kiat-kiat menjadi diktator ini, niscaya, mulas-mulas itu perut. (*)

Judul: Kiat Menjadi Diktator

Penulis: Mikal Hem

Penerjemah: Irwan Syahrir

Penerbit: Marjin Kiri

Terbit: 2023

Jumlah:191 + vi halaman;14 x 20,3 cm

ISBN: 978-602-0788-46-3

*) ARDHIAS NAUVALY AZZUHRY, Foreign Rights Editor di Bentang Pustaka

Membaca karya Mikal Hem ini tak terasa membosankan karena studi kasusnya beragam.

BAGI banyak penerbit di Indonesia, menghabiskan stok buku cetakan pertama yang tidak lebih dari 3.000 eksemplar sudah ”puji Tuhan”. Tapi, itu tidak berlaku untuk kategori buku ”pengembangan diri”. Banyak penerbit yang menjadikannya tulang punggung penjualan. Mulai panduan asmara hingga dasar-dasar ternak belut.

Namun, apa jadinya bila ada buku pengembangan diri bagi mereka yang hendak berkarier sebagai… diktator? Apakah ada yang sejak awal berminat jadi pemimpin beringas? Apakah memang ada tips dan triknya? Dan, apakah benar ada buku semacam itu?

Pembaca, inilah Kiat Menjadi Diktator karya Mikal Hem.

Satire yang Konsisten

Sejatinya, Kiat Menjadi Diktator adalah buku pengembangan diri jadijadian. Bab yang disusun runut A–Z cara menjadi diktator hanya strategi Mikal untuk menjabarkan kelakuan telengas para diktator. Sebuah satire politik –Mikal pura-pura setuju dengan hal yang dikutuknya.

Sepanjang 191 halaman, Mikal konsisten dengan gaya tutur buku pengembangan diri. Membacanya sama sekali tidak membosankan sebab, seperti buku pengembangan diri jempolan, studi kasusnya beragam. Diktator lintas zaman, lintas bangsa; semua ada.

Pada tiap akhir bahasan, Mikal tidak lupa menyertakan kalimat-kalimat yang menggugah tindakan selayaknya buku pengembangan diri. Mulai yang motivasional, ”Tidak ada alasan untuk berputus asa kalau kau bercita-cita menjadi diktator” (hal 12), hingga yang teknikal, ”Sebagai diktator kau sebaiknya mempertahankan pengeluaran yang tinggi” (hal 91).

Dus, sebagai satire, Mikal tidak lupa menebar lelucon. Kiat Menjadi Diktator menonjol lewat nada sok simpatik Mikal dalam memuji para diktator. Dia kerap menulis, ”Mengesankan!”, dan sebagainya setelah menceritakan laku konyol pemimpin edan.

Keistimewaannya sebagai satire politik bukan hanya lelucon dan bukti bahwa dunia ini punya lebih dari cukup diktator untuk dibuatkan tim sepak bola. Terkhusus bagi orang Indonesia, buku ini menyajikan banyak hal yang bikin kita berseru, ”Lha, ini sudah ada di sini!”, meski cuma sekali membahas sejarah politik negara kita.

Relevansi dengan Indonesia

Sejak di bab pertama, ketika Mikal terlebih dahulu meyakinkan pembaca yang masih maju-mundur lewat bab ”Keuntungan Jadi Diktator”, sudah ada hal yang nyambung dengan Indonesia. Di bab tersebut, salah satu benefit diktator adalah awetnya kekuasaan. Soal ini, warga Indonesia tidak bisa tidak terbayang sosok jenderal murah senyum (dan murah nyawa) yang fotonya terpajang di kelas-kelas selama lebih dari tiga dekade.

Baca Juga :  Mendudukkan Finalitas dan Falibilitas Sistem Peradilan Indonesia

Bab selanjutnya, ”Cara Menjadi Diktator”, juga bisa ditengok ke sejarah Indonesia. Dulu, tulis Mikal, komunisme pernah jadi kata sandi untuk mengakses bantuan tak terbatas dari AS untuk jadi diktator. Dia menyebutkan mulai Kongo sampai Cile.

Namun, beruntunglah kita sebagai warga Pancasila sebab Pak Harto sudah memberi teladan. Dia menggunakan cara serupa untuk melentingkan karier diktatornya, 47 tahun mendahului terbitnya kiat-kiat dari jurnalis Norwegia ini. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya petinggi komunis dan Presiden Soekarno yang ditumpas, melainkan 500.000–3.000.000 manusia beserta ajarannya.

Dulu dar-der-dor begitu mungkin efektif. Namun, Mikal tahu: ada zaman, ada cara, ada orang. Ini membuktikan konsistensi Mikal dalam mempertahankan bentuk satirenya dengan memberi opsi solusi; ciri buku pengembangan diri jempolan. Mikal tidak ingin pembacanya jadi berkecil hati hanya karena negaranya masih demokratis. Semua ada jalannya. Dan jalan itu bernama: pemilu!

Pemilu

Ketika kediktatoran baru mau dimulai di negara demokratis, mau tidak mau jalan ini perlu ditempuh; betapa menyebalkannya. Lagi pula, seperti yang ditulis Mikal, ”Kalau kau melakukannya dengan benar dan mendapatkan hasil yang kau inginkan tanpa banyak kehebohan, maka pemilu akan menambah legitimasimu.” (hal 35)

Dengan nada kocak yang polos, seolah sungguh-sungguh sedang mendikte tips dan trik, Mikal menjabarkan cara mencurangi pemilu. Ballot stuffing (mencurangi kotak suara) adalah trik paling dasar. Dalam bentuk ekstremnya, ballot stuffing bisa mengingkari hukum matematika.

Mikal menjadikan Putin, diktator Rusia, sebagai contoh. Dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2012, di daerah pemilihan (dapil) Grozny, dia mendulang 1.482 suara. Padahal, dapil itu hanya terdiri atas 1.389 pemilih. Artinya, Putin menang 107 persen di sana.

Ajaibnya, taktik melampaui kodrat ini sudah diterapkan di Indonesia. Pilpres 2024 didapati banyak kasus penggelembungan suara. Di Tempat Pemungutan Suara 34 Rengas Ciputat Timur, misalnya, salah satu kandidat digenjot 1.000 persen perolehannya, dari 86 ke 886 suara.

Baca Juga :  Tahun, Terminasi, dan Puisi

Berbagi

Mikal sadar bahwa pasti banyak yang cemburu dengan diktator. Begitulah Mikal menabalkan bukunya bukan pengembangan diri sepele sebab dia mampu mengantisipasi masalah yang baru saja muncul di kepala pembaca.

Pemilu jujur saja tidak bikin pesaing puas, apalagi yang curang. Untuk itu, sebagai penguasa tunggal, janganlah pelit. Namun ingat, tetap selektif. Itulah prinsip dasar amalan bab ”Berbagilah (dengan Orang-Orang Dekatmu)”.

Orang dekat ini bisa keluarga, rekan politik, atau mitra bisnis. Hubungan saling menguntungkan akan terwujud. Kekuasaan diktator bisa langgeng dan para kerabat bisa hidup sejahtera.

Istri diktator Rumania sudah membuktikannya dengan sukses bergelimang doktor kehormatan meski putus sekolah di usia 14 tahun. Atau foya-foya bejat para pangeran Arab yang membuat pesta narkoba serta memelihara macan jadi tampak culun belaka.

Semangat berbagi ini juga yang jadi rahasia sukses Pak Harto dalam memelihara bahtera rumah tangga bernama Orde Baru-nya. Dia bagikan kekayaan negara untuk rakyatnya. Ralat, rakyat terdekatnya. Perwira kesayangan dapat kilang minyak, rekan bisnis dapat konsesi, dan politisi dapat kursi. Adil kan?

Begitulah amal saleh yang selalu cocok dipakai di negeri gotong royong ini. Boleh saja negara pakai cara-cara demokratis seperti pengadilan independen dan pemilu. Asal prinsip berbagi (dengan orang-orang terdekat) terus ditegakkan, jalan menuju kediktatoran tetap terjaga.

Kalau dibaca sebagai hiburan, buku ini bakal sukses bikin rahang kram. Irwan Syahrir sukses menerjemahkan lawakan Mikal –langsung dari bahasa Norwegia– dengan berterima. Mau dijadikan pengetahuan sepintas bahwa hanya imajinasi yang membatasi kelakuan diktator, sangat cocok.

Namun, kalau disimak saksama sebagai nubuat masa depan kelam Indonesia sebab kemungkinan besar seseorang sudah mengamalkan kiat-kiat menjadi diktator ini, niscaya, mulas-mulas itu perut. (*)

Judul: Kiat Menjadi Diktator

Penulis: Mikal Hem

Penerjemah: Irwan Syahrir

Penerbit: Marjin Kiri

Terbit: 2023

Jumlah:191 + vi halaman;14 x 20,3 cm

ISBN: 978-602-0788-46-3

*) ARDHIAS NAUVALY AZZUHRY, Foreign Rights Editor di Bentang Pustaka

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru