29.8 C
Jakarta
Tuesday, February 27, 2024

Tempoyak Pedas untuk Dewa Dapur

Kurang dua jam lewat sepuluh menit sebelum Dewa Dapur Co Lu Akung kembali ke Langit untuk melaporkan segala kejadian di dapur selama setahun kepada Kaisar Giok, Lim A Moy telah mengolesi bibir patungnya dengan tempoyak pedas.

Akibatnya, dewa tua itu mendesis-desis tidak keruan dan mengumpat panjang pendek ketika membubung ke langit bersama asap dupa dan asap tungku.

ITULAH awal dari kesialan beruntun yang kemudian menimpa putra bungsu Lim A Moy, Bong Sin Bu. Setidaknya demikianlah menurut Chin Kwet Jun, sang menantu, dan teman-teman bergunjingnya, yang kemudian meluas ke mana-mana.

”Cipai tua itu yang jadi penyebab kesialan suamiku! Bisa-bisanya ia oleskan tempoyak ke mulut patung Co Lu Akung! Aku baru tahu hal ini saat hendak membersihkan patung pada malam ketiga puluh,” demikian tukas Chin Kwet Jun kurang lebih tiga bulan selepas perayaan Tahun Baru Imlek dengan mulut terpencong-pencong kepada salah satu tetangga.

”Kenapa ibu mertuamu sampai melakukan hal seperti itu?” tanya teman bicaranya sambil mengemil singkong rebus.

”Mana aku tahu? Kau tanya saja orangnya! Ia lagi kesal denganku barangkali? Supaya Co Lu Akung memberikan laporan yang buruk-buruk tentang diriku di atas sana.”

”Lah, kan itu berefek pada penghidupan anak kandungnya sendiri?”

***

Lim A Moy sendiri bukannya tak menyesali apa yang sudah terjadi. Tetapi, ia sama sekali tak menduga kalau yang ia oleskan ke mulut patung Co Lo Akung itu bukanlah selai nanas, melainkan tempoyak dari Oi Lin, anak perempuan tertuanya di Palembang, yang dititipkan lewat seorang kenalan yang mudik.

”Pasti menantu berengsek itu yang menukar tempat stoples selai dengan stoples tempoyak di dalam kulkas,” ujarnya kepada Lo Nyuk Tin, kawannya main ceki saban sore. Dan ia yakin ia tidak keliru.

Meskipun umurnya sudah 71 tahun, Lim A Moy merasa ingatannya masih tajam. Tidak sedikit pun berkurang, tak seperti sejumlah teman sebayanya yang mulai sering lupa meletakkan barang, bahkan ada yang mengalami gejala Alzheimer.

Ia selalu tahu sisa uang belanja di dompetnya, ia tak pernah salah mengenali kedelapan cucunya, ia masih ingat betul bagaimana ia melahirkan dan membesarkan keempat anaknya. Tak pernah melupakan hari ulang tahun mereka seperti ia selalu mengingat dengan baik hari ulang tahun mendiang suaminya.

Karena itu, tak mungkin ia salah ingat tempat menaruh stoples bening berisi selai nanas. Itu selai nanas yang baru ia masak satu hari sebelumnya. Kedua cucu kesayangannya memang menyukai selai nanas untuk olesan roti, tetapi selai dalam stoples itu ternyata belum disentuh sama sekali. Masih utuh satu stoples penuh. Bagaimana bisa stoples itu berpindah tempat dari rak kedua ke rak ketiga kulkas?

”Tak ada hantu di rumah ini! Kalau bukan tangan manusia, tak mungkin stoples itu bisa pindah sendiri,” gerutu Lim A Moy di dapur, tak bisa lagi menahan diri, pada hari ketiga Tahun Baru sambil memanaskan Nem Nyuk dalam panci. Chin Kwet Jun yang sedang menghabiskan sepiring mi mengeluarkan suara seperti tersedak.

Mulutnya yang masih mengunyah sudah separo terbuka ketika melihat mata Bong Sin Bu yang duduk di seberang meja mendelik besar ke arahnya. Namun begitu, ketika ia meninggalkan dapur dengan wajah memerah, tak urung terlontar juga kegusarannya yang membuat sang suami membanting sumpit ke atas meja: ”Kalau mata sudah rabun, ya ngaku saja!”

Rabun? Lim A Moy tertegun di depan tungku. Ia memang sudah tak mampu lagi memasukkan ujung benang ke lubang jarum jahit. Namun, ia masih bisa melihat banyak hal dengan cukup jelas, termasuk apa-apa yang disembunyikan oleh menantu kurang ajar itu.

Seperti kalah taruhan mahyong dalam jumlah lumayan besar atau senyum dan kerlingan perempuan itu pada Cong Po Hiap, si pemilik alat berat sewaan yang kerap datang ke rumah untuk urusan bisnis dengan Bong Sin Bu.

Ia melirik ke arah altar kecil Co Lu Akung di samping tungku. Mulut dewa tua berjanggut putih panjang itu, seperti biasanya, tersenyum lebar hingga kedua matanya semakin menyipit. Lim A Moy menghela napas.

Yang disayangkan olehnya adalah kenapa ia tak memeriksa dan membaui isi stoples itu terlebih dahulu sebelum mengoleskannya ke mulut Co Lu Akung? Tentu saja, sekali lagi, karena ia tak menyangka kalau itu bukanlah stoples selai. Apalagi saat itu, ketika ia terburu-buru mengoleskan isi stoples dengan ujung sumpit lantaran takut si dewa keburu meninggalkan altar, hidungnya sedang mampet karena pilek.

Baca Juga :  Koda

***

Ya, setahun sekali pada setiap hari ke-24 bulan kedua belas kalender Imlek, Co Lu Akung akan kembali ke Langit untuk melaporkan perkara di dapur dan baru akan turun lagi ke altarnya pada hari keempat Tahun Baru China.

Syahdan, demikianlah ketentuan Langit sejak dulu. Demikian pula kebiasaan mengoleskan yang manis-manis ke mulut sang Dewa Dapur itu dilakukan oleh orang-orang secara turun-temurun, terutama oleh mereka yang merasa kondisi rumah tangganya tidaklah cukup tenteram, tetapi penuh dengan percekcokan dari teras sampai ke dapur.

Ya, apalagi di dapur, di depan Co Lu Akung yang bertakhta di sebelah tungku memasak. Sebab, kalau sampai ia melaporkan semua perselisihan dan keluhanmu kepada Kaisar Giok yang Agung, tentunya rezekimu bakalan jadi seret!

”Ingat baik-baik jika kau sudah jadi istri orang nanti. Jangan mengeluh di dapur jika uang belanjamu kurang. Suamimu mestinya juga jangan mudah mengeluh jika masakanmu kurang asin atau terlalu asin. Dapur adalah tempat rezeki dimasak dan disantap, hindarilah bertengkar di dapur, apalagi di meja makan,” begitulah Lim A Moy selalu ingat pada nasihat mendiang ibunya sewaktu ia masih gadis.

Dan seumur pernikahannya dengan Bong Ngian Jung sampai sang suami wafat, tak sekali pun mereka berdua saling berbantah atau berkeluh kesah di dapur. Sehingga pada masa-masa itu tak pernah ia mengoleskan gula atau selai atau manisan apa pun ke mulut patung Co Lu Akung agar ketika sang dewa memberi laporan ke Langit, ia hanya melaporkan hal yang manis-manis saja.

Tetapi, sejak tahun ketiga pernikahan putra bungsunya dengan Chin Kwet Jun si menantu tak tahu diri itu, ia merasa mau tak mau harus mengolesi mulut sang dewa dengan manisan.

Betapa tidak, perempuan itu bukan saja terang-terangan mengeluhkan ini itu dengan suara lantang di dapur. Mulai uang belanja yang kurang, televisi terlalu kecil, rumah yang kurang luas, sampai masakannya yang dirasa tidak enak. Bahkan kerap kali tak segan-segan perempuan itu bertengkar dengan Bong Sin Bu di meja makan. Selalu saja ada hal yang kurang bagi Chin Kwet Jun. Warna taplak meja makan saja bisa ia persoalkan dengan serius. Lalu beberapa kali, mangkuk-piring pun berdenting nyaring di lantai dapur!

Apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang mertua? Nyaris tak ada. Sebab, setiap teguran dan nasihat hanya akan dijawab Chin Kwet Jun dengan garang, dengan wajah memerah, mata melotot, dan dua tangan bergerak-gerak di udara seolah-olah hendak mencabik-cabiknya.

Tak tampak adanya rasa sungkan terhadap mertua pada diri perempuan itu, tidak seperti yang ia rasakan bertahun-tahun saat mertua perempuannya masih hidup dan juga tinggal bersama mereka.

Ini belum lagi ditambah dengan kesukaan Chin Kwet Jun bergunjing dengan para tetangga. Ya, menggunjingkan siapa saja, dari sesama tetangga sampai suami dan ibu mertua! Satu-satunya yang tidak ia pergunjingkan hanyalah kedua anaknya sendiri. Perempuan itu juga ogah-ogahan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Meski hal ini tidaklah terlalu jadi masalah bagi Lim A Moy selama ia masih cukup kuat, sebab sejak muda ia memang telah terbiasa mengurus rumah dan menyukai pekerjaan dapur.

”Jangan melamar anak Chin Min Fuk itu. Tabiatnya kurang baik, sama dengan ibunya yang suka berantem di sana sini. Keranjingan berjudi pula!” kata seorang familinya yang memang tinggal tak jauh dari rumah Chin Kwet Jun tak lama setelah Bong Sin Bu memberitahukan keseriusan hubungan.

Namun, Lim A Moy tidaklah terlalu mendengarkan. Tak mudah baginya untuk percaya begitu saja omongan orang kendati masih tergolong sanak. Yang terpenting baginya adalah anaknya sungguh-sungguh mencintai sang kekasih. Lagi pula setiap kali dibawa oleh Bong Sin Bu ke rumah, Chin Kwet Jun selalu berperilaku sopan dan menunjukkan sikap hormat.

Baca Juga :  Si T, Si D, dan Si B

Setelah putranya meninggalkan dapur menyusul sang istri, Lim A Moy menarik sebuah kursi di depan meja makan dan duduk terhenyak. Ai, bagaimanapun perempuan itu, sang menantu yang menyalahkannya telah mengoleskan tempoyak ke mulut patung Co Lu Akung, adalah satu-satunya menantu yang memberinya cucu laki-laki. Dua orang sekaligus.

Perizinan penambangan rakyat oleh bupati Bangka membuat Bong Sin Bu seperti sekian banyak orang beruntung lainnya –China maupun Melayu– turut ketiban durian runtuh. Kendati harus mengorbankan kebun buah-buahan luas sarat kenangan peninggalan sang ayah, biji timah perlahan mengubah Bong Sin Bu dari seorang tukang bangunan menjadi pengusaha tambang inkonvensional (TI).

Bermula dari sebuah mesin semprot sederhana hasil utang, kebun warisan yang ternyata mengandung banyak timah itu sanggup membelikannya dua buah mesin TI dan lokasi-lokasi penambangan baru.

Maka, rumah tua di pinggir Jalan Parit Empat itu pun kemudian dipugar. Dari rumah kecil setengah beton berlantai semen kasar akhirnya berubah jadi sebuah rumah cukup mewah berlantai porselen. Televisi baru berukuran 32 inci dengan parabola, kulkas berpintu ganda, sofa-sofa, ranjang busa empuk, AC, mesin cuci, dan kompor gas elpiji (meski Lim A Moy lebih suka tetap memasak di tungku), semuanya tersedia.

Apakah itu cukup membuat Chin Kwet Jun berhenti berkeluh kesah dan melontarkan kata-kata sinis terhadap suami dan ibu mertua? Awalnya iya. Tetapi, tak lama kemudian, karut-marutnya kembali terdengar di dapur hanya gara-gara sang suami lupa membelikan martabak terang bulan kesukaannya di samping Toko Lui, Belinyu. Selanjutnya, selalu saja ada hal yang membuat Chin Kwet Jun tak berkenan dan memicu pertengkaran.

Dan bersamaan itu –yang membuat Lim A Moy semakin rajin membakar dupa di kelenteng Guan Yin demi memohon ketenteraman– mulut si menantu juga kian ganas dalam sindir-menyindir siapa saja.

Ah, dari satu lokasi tambang berpindah ke lokasi tambang yang lain, cukuplah usaha TI Bong Sin Bu menghasilkan biji timah selama sekian tahun. Namun, kesialan itu –seperti yang selalu disebut-sebut Chin Kwet Jun dan dikhawatirkan oleh Lim A Moy setelah keduanya tahu bahwa yang lengket di mulut patung Co Lu Akung bukanlah selai nanas– akhirnya memang bertandang.

Berawal dari kecelakaan pada hari kesepuluh Tahun Baru yang menimpa seorang pekerja asal Jawa –tertimbun hidup-hidup oleh longsornya tanah galian– dan hilangnya sebuah mesin TI disikat maling; keempat lokasi penambangan baru milik Bong Sin Bu yang dibeli mahal ternyata juga mengalami kerugian besar! Meleset jauh dari hasil pengeboran, tempat-tempat itu ternyata tak mengandung cukup banyak timah meskipun Bong Sin Bu telah keluarkan biaya besar menyewa backhoe untuk menggali sampai puluhan meter dalamnya. Ujung-ujungnya Bong Sin Bu mulai terlilit utang.

”Kalau saja ibu mertuaku yang pikun itu tidak membuat Dewa Dapur kepedasan dan marah sehingga melaporkan hal-hal buruk di hadapan Kaisar Giok, tentunya tak bakal kami apes begini,” ujar Chin Kwet Jun kepada teman bergunjingnya yang lain sembari bermain domino.

Yang tidak ketahui oleh dirinya maupun sang ibu mertua sendiri, kekeliruan meletakkan stoples berisi tempoyak dan selai nanas itu sebetulnya telah terjadi semenjak kedua stoples dimasukkan oleh Lim A Moy usai membersihkan kulkas akibat disela oleh seorang cucunya yang memintanya membukakan bungkusan cokelat. Begitulah.

Terlepas dari benar atau tidaknya kemalangan yang menimpa keluarga Lim A Moy ini diakibatkan oleh laporan Co Lu Akung di Langit, yang jelas orang-orang yang hidup dari usaha penambangan memang percaya bahwa uang timah itu uang panas: gampang didapat, gampang pula habisnya!

Cuma sebatas ini saja ceritanya? Tidak. Sebab, kurang lebih sebulan kemudian, Mellisa alias A Kim, putri Li Jun Fo yang belum lama lulus SMK, mengaku sambil terisak-isak bahwa Bong Sin Bu-lah laki-laki yang telah menghamilinya. (*)

Jogjakarta, Februari 2024

SUNLIE THOMAS ALEXANDER, Lahir di Belinyu, Pulau Bangka. Sudah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen. Bukunya Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2020 untuk Kategori Kritik Sastra/Esai.

Kurang dua jam lewat sepuluh menit sebelum Dewa Dapur Co Lu Akung kembali ke Langit untuk melaporkan segala kejadian di dapur selama setahun kepada Kaisar Giok, Lim A Moy telah mengolesi bibir patungnya dengan tempoyak pedas.

Akibatnya, dewa tua itu mendesis-desis tidak keruan dan mengumpat panjang pendek ketika membubung ke langit bersama asap dupa dan asap tungku.

ITULAH awal dari kesialan beruntun yang kemudian menimpa putra bungsu Lim A Moy, Bong Sin Bu. Setidaknya demikianlah menurut Chin Kwet Jun, sang menantu, dan teman-teman bergunjingnya, yang kemudian meluas ke mana-mana.

”Cipai tua itu yang jadi penyebab kesialan suamiku! Bisa-bisanya ia oleskan tempoyak ke mulut patung Co Lu Akung! Aku baru tahu hal ini saat hendak membersihkan patung pada malam ketiga puluh,” demikian tukas Chin Kwet Jun kurang lebih tiga bulan selepas perayaan Tahun Baru Imlek dengan mulut terpencong-pencong kepada salah satu tetangga.

”Kenapa ibu mertuamu sampai melakukan hal seperti itu?” tanya teman bicaranya sambil mengemil singkong rebus.

”Mana aku tahu? Kau tanya saja orangnya! Ia lagi kesal denganku barangkali? Supaya Co Lu Akung memberikan laporan yang buruk-buruk tentang diriku di atas sana.”

”Lah, kan itu berefek pada penghidupan anak kandungnya sendiri?”

***

Lim A Moy sendiri bukannya tak menyesali apa yang sudah terjadi. Tetapi, ia sama sekali tak menduga kalau yang ia oleskan ke mulut patung Co Lo Akung itu bukanlah selai nanas, melainkan tempoyak dari Oi Lin, anak perempuan tertuanya di Palembang, yang dititipkan lewat seorang kenalan yang mudik.

”Pasti menantu berengsek itu yang menukar tempat stoples selai dengan stoples tempoyak di dalam kulkas,” ujarnya kepada Lo Nyuk Tin, kawannya main ceki saban sore. Dan ia yakin ia tidak keliru.

Meskipun umurnya sudah 71 tahun, Lim A Moy merasa ingatannya masih tajam. Tidak sedikit pun berkurang, tak seperti sejumlah teman sebayanya yang mulai sering lupa meletakkan barang, bahkan ada yang mengalami gejala Alzheimer.

Ia selalu tahu sisa uang belanja di dompetnya, ia tak pernah salah mengenali kedelapan cucunya, ia masih ingat betul bagaimana ia melahirkan dan membesarkan keempat anaknya. Tak pernah melupakan hari ulang tahun mereka seperti ia selalu mengingat dengan baik hari ulang tahun mendiang suaminya.

Karena itu, tak mungkin ia salah ingat tempat menaruh stoples bening berisi selai nanas. Itu selai nanas yang baru ia masak satu hari sebelumnya. Kedua cucu kesayangannya memang menyukai selai nanas untuk olesan roti, tetapi selai dalam stoples itu ternyata belum disentuh sama sekali. Masih utuh satu stoples penuh. Bagaimana bisa stoples itu berpindah tempat dari rak kedua ke rak ketiga kulkas?

”Tak ada hantu di rumah ini! Kalau bukan tangan manusia, tak mungkin stoples itu bisa pindah sendiri,” gerutu Lim A Moy di dapur, tak bisa lagi menahan diri, pada hari ketiga Tahun Baru sambil memanaskan Nem Nyuk dalam panci. Chin Kwet Jun yang sedang menghabiskan sepiring mi mengeluarkan suara seperti tersedak.

Mulutnya yang masih mengunyah sudah separo terbuka ketika melihat mata Bong Sin Bu yang duduk di seberang meja mendelik besar ke arahnya. Namun begitu, ketika ia meninggalkan dapur dengan wajah memerah, tak urung terlontar juga kegusarannya yang membuat sang suami membanting sumpit ke atas meja: ”Kalau mata sudah rabun, ya ngaku saja!”

Rabun? Lim A Moy tertegun di depan tungku. Ia memang sudah tak mampu lagi memasukkan ujung benang ke lubang jarum jahit. Namun, ia masih bisa melihat banyak hal dengan cukup jelas, termasuk apa-apa yang disembunyikan oleh menantu kurang ajar itu.

Seperti kalah taruhan mahyong dalam jumlah lumayan besar atau senyum dan kerlingan perempuan itu pada Cong Po Hiap, si pemilik alat berat sewaan yang kerap datang ke rumah untuk urusan bisnis dengan Bong Sin Bu.

Ia melirik ke arah altar kecil Co Lu Akung di samping tungku. Mulut dewa tua berjanggut putih panjang itu, seperti biasanya, tersenyum lebar hingga kedua matanya semakin menyipit. Lim A Moy menghela napas.

Yang disayangkan olehnya adalah kenapa ia tak memeriksa dan membaui isi stoples itu terlebih dahulu sebelum mengoleskannya ke mulut Co Lu Akung? Tentu saja, sekali lagi, karena ia tak menyangka kalau itu bukanlah stoples selai. Apalagi saat itu, ketika ia terburu-buru mengoleskan isi stoples dengan ujung sumpit lantaran takut si dewa keburu meninggalkan altar, hidungnya sedang mampet karena pilek.

Baca Juga :  Koda

***

Ya, setahun sekali pada setiap hari ke-24 bulan kedua belas kalender Imlek, Co Lu Akung akan kembali ke Langit untuk melaporkan perkara di dapur dan baru akan turun lagi ke altarnya pada hari keempat Tahun Baru China.

Syahdan, demikianlah ketentuan Langit sejak dulu. Demikian pula kebiasaan mengoleskan yang manis-manis ke mulut sang Dewa Dapur itu dilakukan oleh orang-orang secara turun-temurun, terutama oleh mereka yang merasa kondisi rumah tangganya tidaklah cukup tenteram, tetapi penuh dengan percekcokan dari teras sampai ke dapur.

Ya, apalagi di dapur, di depan Co Lu Akung yang bertakhta di sebelah tungku memasak. Sebab, kalau sampai ia melaporkan semua perselisihan dan keluhanmu kepada Kaisar Giok yang Agung, tentunya rezekimu bakalan jadi seret!

”Ingat baik-baik jika kau sudah jadi istri orang nanti. Jangan mengeluh di dapur jika uang belanjamu kurang. Suamimu mestinya juga jangan mudah mengeluh jika masakanmu kurang asin atau terlalu asin. Dapur adalah tempat rezeki dimasak dan disantap, hindarilah bertengkar di dapur, apalagi di meja makan,” begitulah Lim A Moy selalu ingat pada nasihat mendiang ibunya sewaktu ia masih gadis.

Dan seumur pernikahannya dengan Bong Ngian Jung sampai sang suami wafat, tak sekali pun mereka berdua saling berbantah atau berkeluh kesah di dapur. Sehingga pada masa-masa itu tak pernah ia mengoleskan gula atau selai atau manisan apa pun ke mulut patung Co Lu Akung agar ketika sang dewa memberi laporan ke Langit, ia hanya melaporkan hal yang manis-manis saja.

Tetapi, sejak tahun ketiga pernikahan putra bungsunya dengan Chin Kwet Jun si menantu tak tahu diri itu, ia merasa mau tak mau harus mengolesi mulut sang dewa dengan manisan.

Betapa tidak, perempuan itu bukan saja terang-terangan mengeluhkan ini itu dengan suara lantang di dapur. Mulai uang belanja yang kurang, televisi terlalu kecil, rumah yang kurang luas, sampai masakannya yang dirasa tidak enak. Bahkan kerap kali tak segan-segan perempuan itu bertengkar dengan Bong Sin Bu di meja makan. Selalu saja ada hal yang kurang bagi Chin Kwet Jun. Warna taplak meja makan saja bisa ia persoalkan dengan serius. Lalu beberapa kali, mangkuk-piring pun berdenting nyaring di lantai dapur!

Apa yang bisa ia lakukan sebagai seorang mertua? Nyaris tak ada. Sebab, setiap teguran dan nasihat hanya akan dijawab Chin Kwet Jun dengan garang, dengan wajah memerah, mata melotot, dan dua tangan bergerak-gerak di udara seolah-olah hendak mencabik-cabiknya.

Tak tampak adanya rasa sungkan terhadap mertua pada diri perempuan itu, tidak seperti yang ia rasakan bertahun-tahun saat mertua perempuannya masih hidup dan juga tinggal bersama mereka.

Ini belum lagi ditambah dengan kesukaan Chin Kwet Jun bergunjing dengan para tetangga. Ya, menggunjingkan siapa saja, dari sesama tetangga sampai suami dan ibu mertua! Satu-satunya yang tidak ia pergunjingkan hanyalah kedua anaknya sendiri. Perempuan itu juga ogah-ogahan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Meski hal ini tidaklah terlalu jadi masalah bagi Lim A Moy selama ia masih cukup kuat, sebab sejak muda ia memang telah terbiasa mengurus rumah dan menyukai pekerjaan dapur.

”Jangan melamar anak Chin Min Fuk itu. Tabiatnya kurang baik, sama dengan ibunya yang suka berantem di sana sini. Keranjingan berjudi pula!” kata seorang familinya yang memang tinggal tak jauh dari rumah Chin Kwet Jun tak lama setelah Bong Sin Bu memberitahukan keseriusan hubungan.

Namun, Lim A Moy tidaklah terlalu mendengarkan. Tak mudah baginya untuk percaya begitu saja omongan orang kendati masih tergolong sanak. Yang terpenting baginya adalah anaknya sungguh-sungguh mencintai sang kekasih. Lagi pula setiap kali dibawa oleh Bong Sin Bu ke rumah, Chin Kwet Jun selalu berperilaku sopan dan menunjukkan sikap hormat.

Baca Juga :  Si T, Si D, dan Si B

Setelah putranya meninggalkan dapur menyusul sang istri, Lim A Moy menarik sebuah kursi di depan meja makan dan duduk terhenyak. Ai, bagaimanapun perempuan itu, sang menantu yang menyalahkannya telah mengoleskan tempoyak ke mulut patung Co Lu Akung, adalah satu-satunya menantu yang memberinya cucu laki-laki. Dua orang sekaligus.

Perizinan penambangan rakyat oleh bupati Bangka membuat Bong Sin Bu seperti sekian banyak orang beruntung lainnya –China maupun Melayu– turut ketiban durian runtuh. Kendati harus mengorbankan kebun buah-buahan luas sarat kenangan peninggalan sang ayah, biji timah perlahan mengubah Bong Sin Bu dari seorang tukang bangunan menjadi pengusaha tambang inkonvensional (TI).

Bermula dari sebuah mesin semprot sederhana hasil utang, kebun warisan yang ternyata mengandung banyak timah itu sanggup membelikannya dua buah mesin TI dan lokasi-lokasi penambangan baru.

Maka, rumah tua di pinggir Jalan Parit Empat itu pun kemudian dipugar. Dari rumah kecil setengah beton berlantai semen kasar akhirnya berubah jadi sebuah rumah cukup mewah berlantai porselen. Televisi baru berukuran 32 inci dengan parabola, kulkas berpintu ganda, sofa-sofa, ranjang busa empuk, AC, mesin cuci, dan kompor gas elpiji (meski Lim A Moy lebih suka tetap memasak di tungku), semuanya tersedia.

Apakah itu cukup membuat Chin Kwet Jun berhenti berkeluh kesah dan melontarkan kata-kata sinis terhadap suami dan ibu mertua? Awalnya iya. Tetapi, tak lama kemudian, karut-marutnya kembali terdengar di dapur hanya gara-gara sang suami lupa membelikan martabak terang bulan kesukaannya di samping Toko Lui, Belinyu. Selanjutnya, selalu saja ada hal yang membuat Chin Kwet Jun tak berkenan dan memicu pertengkaran.

Dan bersamaan itu –yang membuat Lim A Moy semakin rajin membakar dupa di kelenteng Guan Yin demi memohon ketenteraman– mulut si menantu juga kian ganas dalam sindir-menyindir siapa saja.

Ah, dari satu lokasi tambang berpindah ke lokasi tambang yang lain, cukuplah usaha TI Bong Sin Bu menghasilkan biji timah selama sekian tahun. Namun, kesialan itu –seperti yang selalu disebut-sebut Chin Kwet Jun dan dikhawatirkan oleh Lim A Moy setelah keduanya tahu bahwa yang lengket di mulut patung Co Lu Akung bukanlah selai nanas– akhirnya memang bertandang.

Berawal dari kecelakaan pada hari kesepuluh Tahun Baru yang menimpa seorang pekerja asal Jawa –tertimbun hidup-hidup oleh longsornya tanah galian– dan hilangnya sebuah mesin TI disikat maling; keempat lokasi penambangan baru milik Bong Sin Bu yang dibeli mahal ternyata juga mengalami kerugian besar! Meleset jauh dari hasil pengeboran, tempat-tempat itu ternyata tak mengandung cukup banyak timah meskipun Bong Sin Bu telah keluarkan biaya besar menyewa backhoe untuk menggali sampai puluhan meter dalamnya. Ujung-ujungnya Bong Sin Bu mulai terlilit utang.

”Kalau saja ibu mertuaku yang pikun itu tidak membuat Dewa Dapur kepedasan dan marah sehingga melaporkan hal-hal buruk di hadapan Kaisar Giok, tentunya tak bakal kami apes begini,” ujar Chin Kwet Jun kepada teman bergunjingnya yang lain sembari bermain domino.

Yang tidak ketahui oleh dirinya maupun sang ibu mertua sendiri, kekeliruan meletakkan stoples berisi tempoyak dan selai nanas itu sebetulnya telah terjadi semenjak kedua stoples dimasukkan oleh Lim A Moy usai membersihkan kulkas akibat disela oleh seorang cucunya yang memintanya membukakan bungkusan cokelat. Begitulah.

Terlepas dari benar atau tidaknya kemalangan yang menimpa keluarga Lim A Moy ini diakibatkan oleh laporan Co Lu Akung di Langit, yang jelas orang-orang yang hidup dari usaha penambangan memang percaya bahwa uang timah itu uang panas: gampang didapat, gampang pula habisnya!

Cuma sebatas ini saja ceritanya? Tidak. Sebab, kurang lebih sebulan kemudian, Mellisa alias A Kim, putri Li Jun Fo yang belum lama lulus SMK, mengaku sambil terisak-isak bahwa Bong Sin Bu-lah laki-laki yang telah menghamilinya. (*)

Jogjakarta, Februari 2024

SUNLIE THOMAS ALEXANDER, Lahir di Belinyu, Pulau Bangka. Sudah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen. Bukunya Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2020 untuk Kategori Kritik Sastra/Esai.

Terpopuler

Artikel Terbaru