Nyala Api di Serban Syekh Lemahbang
Cover Buku
Oleh MUHAMMAD JIBRIL
Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api mendaras problem diskriminatif antarkelompok keagamaan. Mengambil bentuk naratif, tapi tak cukup kuat dikatakan sebagai ciri khas. Tapi, yang penting digarisbawahi dalam kumpulan puisi ini ialah posisinya sebagai narasi tanding.
KETIKA kuasa mengubur kasih di bawah nisan, cinta adalah api yang senantiasa membakar. Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api merupakan naskah Sayembara Manuskrip Puisi DKJ 2023 yang menarik perhatian juri.
Bukan sekonyong-konyong, melainkan karena naskah ini masih mungkin dibaca sebagai media refleksi. Tak semagis kitab suci, tetapi puisi selalu memiliki ruang sulap dan ajaibnya.
Dibagi dalam dua suhuf, puisipuisi dalam buku ini memiliki dasar pijakan yang sama, gaungnya ialah toleransi. Suhuf pertama penuh dengan narasi Syekh Siti Jenar, diperlukan pengetahuan lebih tentang riwayat Syekh Lemah Abang tersebut untuk melihat garis hubung antara teks dan konteks, tetapi itu tidak terlalu menjadi sandungan karena masih mungkin dinikmati sebagai puisi.
Pembacaan suhuf pertama berangsur dalam napas yang cukup berbeda. Pada mulanya, persona Syekh Tanah Merah dalam suhuf pertama mengambil posisi sebagai oposisi atau narasi tandingan. Seperti dalam puisinya yang berjudul Petani, ia lebih dekat dengan kawula alit, hamba sahaya, orang-orang miskin papa, dan kelompok-kelompok marginal.
”Meski silsilahku hingga nabi,tidak salah menjadi petani berteman babi, umbi, dan ubi”
Kalau revolusioner dianggap terlalu ndakik, paling tidak suhuf pertama telah cukup membakar banyak api. Menjelang bagian tengah sampai akhir suhuf, aroma sufistik menguar pekat.
Pada bagian ini pula bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya naratif, sebagian mengambil bentuk mantra. Repetisi demi repetisi dalam puisi menawarkan sesuatu yang liyan, yang transenden, yang hubungannya ke atas. Dalam puisi Aji Pameling, bentuk-bentuk repetitif tersebut tampak lebih tebal ketimbang dalam puisi yang lain,
”Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening. Hening.
Kun fayakun…ingsun sejati…”
Suhuf pertama berhasil menggenapi hubungan antarmanusia dan Tuhan, hablun minannas dan hablun minallah.
Beda suhuf pertama, beda suhuf kedua. Pada suhuf ini, persona Syekh Siti Jenar tak setebal suhuf sebelumnya. Ia masih hadir, tetapi dalam wujud yang lain.
Pengalaman baca antara suhuf pertama menuju suhuf kedua juga laiknya sebuah time travel. Jika suhuf pertama membentang di tahun-tahun Kerajaan Demak, suhuf kedua membawa pembaca menuju kondisi negeri mutakhir. Meski bentang kewaktuannya cukup kontras, konflik yang terjadi ternyata tak jauh berbeda. Perkembangan zaman tak cukup mahir membesarkan toleransi. Polemik tersebut ditangkap dalam puisi-puisi suhuf kedua dengan sekup yang lebih universal.
”Tolong kecilkan volume suara…Kenapa semakin keras? Situ waras? Gak terima? Pindah saja ke goa!”
Dalam suhuf kedua dapat ditemukan narasi-narasi yang spesifik dan beragam seperti Hindu-Buddha meski dalam suhuf pertama juga ditemukan, semata-mata karena ia termasuk salah satu riwayat hidup Syekh Siti Jenar ketika berguru pada Samsitawratah, Kristen dan Ahmadiyah, seperti dalam puisi Ayat & Kursi, Ayat-Ayat Api, Dilarang Ibadah pada Hari Ahad, dan puisi lainnya.
Selain itu, suhuf kedua menampilkan dominasi ideologi sebagaimana pada suhuf pertama untuk mengatakan bahwa kebenaran tak selalu ada pada ideologi kelompok dominan.
Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api mendaras problem diskriminatif antarkelompok keagamaan. Mengambil bentuk naratif, tetapi juga tak ingkar pada dimensi mistis dengan tetap mengambil bentuk mantra dalam upaya mempertebal narasi sufistik dalam teks.
Sebab, pada riwayat Syekh Siti Jenar dalam pertemuannya dengan Arya Damar tak ada agama yang sesat. Segalanya terjadi atas kehendak Allah, mereka menyembah Allah dengan cara masing-masing dan sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia.
Namun, pemilihan bentuk tersebut agaknya tak cukup kuat dikatakan sebagai ciri khas. Belum lagi diksi-diksi yang berbahasa Jawa dan Inggris atau bahasa-bahasa gaul seperti ”mem-bagong-kan”, ”cepmek”, ”njir”, dan lain sejenisnya yang memberikan nada khas pada puisi, tetapi bukan sebagai kumpulan.
Tapi, yang penting digarisbawahi dalam kumpulan ini ialah posisinya sebagai narasi tanding. Bahwa kebenaran tak berdiam pada ideologi kelompok dominan seperti dalam salah satu puisinya yang berjudul Patung yang Menutup Aurat,
”Sebenarnya ia juga ingin menambahi ungkapan, begini: Jika kau perempuan sungguhan, maukah kau kubawa pulangSebagai kasur, persiapan menggilir 72 bidadari di malam sunyi Di surga nanti ?” Di surga yang kudus itu, benarkah di sana juga adalah sarang hawa nafsu? (*)
—
Judul: Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api
Penulis: Syaiful Alim
Penerbit: Pelangi Sastra
Cetakan I: 2024
Tebal: 13 x 20 cm; vii + 64 halaman
ISBN: 978-623-6937-62-4
*) MUHAMMAD JIBRIL, Aktif di Komunitas Titik Nol Surabaya. Lahir di Madura dan sedang menempuh pendidikan Sastra Indonesia Universitas Airlangga.