30 C
Jakarta
Saturday, July 13, 2024
spot_img

Bagi Ari Krisnanda Bermain Kecapi Memiliki Sensasi tersendiri

Ari
Krisnanda suka memainkan kecapi alat musik tradisional dayak Kalteng. Ayahnya
sehari-hari juga bergelut dengan alat musik. Kakak dan kedua adiknya menggeluti
bidang tari. Pun ibunya, ibunya menggeluti pembuatan baju khas Kalteng. Seperti
apa kisah keluarga seniman dari Kota Palangka Raya ini? berikut ulasanya.

 

ANISA
B WAHDAH, Palangka Raya

 

KALIMANTAN Tengah memang
terkenal dengan budaya yang elok. Tariannya, pakaian adatnya hingga alat musik
yang kerap kali menghipnotis penonton yang mendengarnya. Tidak hanya sekali dua
kali saja kalteng memperoleh penghargaan dalam bebrapa ajang nasional di bidang
pentas seni.

Kalteng Pos mencoba
mencari salah seorang yang turut andil membanggakan Kalteng dalam kancah
nasional, tentu dalam hal keseniannya. Namanya Ari Krisnanda, pria sederhana
yang pernah mengaharumkan nama Kalteng dalam lomba seni akustik di Jakarta pada
Tahun 2014 lalu.

Baca Juga :  Kartini, dari Nakhoda Jadi Pendidik Pelaut

Rumah kayu di belakang
RT XX, Jalan Kalimantan, Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya. Melalui gang
kecil kira-kira lebar hanya satu meter. Tak terlihat memang, tapi disitu ada
kisah keluarga seniman yang tak banyak dikenal. Hidup dengan hasil memainkan
dan memproduksi alat musik. Disinilah Ari bersama keluarganya menggeluti bidang
seni sehari-harinya.

“Saya memang tidak
pernah sekolah musik, tetapi saya suka dari kecil hingga saat dewasa masuk ke
sanggar dan mulai bermain musik, dari situlah saya bisa bermain musik hingga
saat ini,” katanya saat dibincangi Kalteng Pos di rumahnya, Sabtu (18/5).

Alat musik yang kerap
ia mainkan adalah alat khas Kalteng, kecapi. Meski saat ini masyarakat
khususnya anak-anak muda sudah mulai menggeluti alat musik modern, tapi tidak
dengan pria 29 tahun ini. Baginya, bermain kecapi memiliki sensasi tersendiri
terlebih ini adalah alat musik asli Kalteng.

Baca Juga :  Menolong Korban meski Ditembak Gas Air Mata

“Tidak ada keinginan
menggunakan alat musik modern, karena saya senang menggunakan kecapi apalagi
ini khas Kalteng yang harus dilestasikan,” katanya.

Kecintaanya kepada alat
musik harus mengorbankan gelar sarjananya yang sudah ia tempuh selama empat
tahun lamanya. Pasalnya, ia sudah menerima gelar sarjana pendidikan
kewarganegaraan. Namun sama sekali tidak pernah ia pergunakan.

“Mama saya sudah sering meminta saya bekerja
sesuai bidang saya, tetapi hati saya menolak karena jiwa saya tidak disana,
saya hanya ingin menjadi seorang pemain musik,” ucapnya.
(*bersambung)

Ari
Krisnanda suka memainkan kecapi alat musik tradisional dayak Kalteng. Ayahnya
sehari-hari juga bergelut dengan alat musik. Kakak dan kedua adiknya menggeluti
bidang tari. Pun ibunya, ibunya menggeluti pembuatan baju khas Kalteng. Seperti
apa kisah keluarga seniman dari Kota Palangka Raya ini? berikut ulasanya.

 

ANISA
B WAHDAH, Palangka Raya

 

KALIMANTAN Tengah memang
terkenal dengan budaya yang elok. Tariannya, pakaian adatnya hingga alat musik
yang kerap kali menghipnotis penonton yang mendengarnya. Tidak hanya sekali dua
kali saja kalteng memperoleh penghargaan dalam bebrapa ajang nasional di bidang
pentas seni.

Kalteng Pos mencoba
mencari salah seorang yang turut andil membanggakan Kalteng dalam kancah
nasional, tentu dalam hal keseniannya. Namanya Ari Krisnanda, pria sederhana
yang pernah mengaharumkan nama Kalteng dalam lomba seni akustik di Jakarta pada
Tahun 2014 lalu.

Baca Juga :  Kartini, dari Nakhoda Jadi Pendidik Pelaut

Rumah kayu di belakang
RT XX, Jalan Kalimantan, Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya. Melalui gang
kecil kira-kira lebar hanya satu meter. Tak terlihat memang, tapi disitu ada
kisah keluarga seniman yang tak banyak dikenal. Hidup dengan hasil memainkan
dan memproduksi alat musik. Disinilah Ari bersama keluarganya menggeluti bidang
seni sehari-harinya.

“Saya memang tidak
pernah sekolah musik, tetapi saya suka dari kecil hingga saat dewasa masuk ke
sanggar dan mulai bermain musik, dari situlah saya bisa bermain musik hingga
saat ini,” katanya saat dibincangi Kalteng Pos di rumahnya, Sabtu (18/5).

Alat musik yang kerap
ia mainkan adalah alat khas Kalteng, kecapi. Meski saat ini masyarakat
khususnya anak-anak muda sudah mulai menggeluti alat musik modern, tapi tidak
dengan pria 29 tahun ini. Baginya, bermain kecapi memiliki sensasi tersendiri
terlebih ini adalah alat musik asli Kalteng.

Baca Juga :  Menolong Korban meski Ditembak Gas Air Mata

“Tidak ada keinginan
menggunakan alat musik modern, karena saya senang menggunakan kecapi apalagi
ini khas Kalteng yang harus dilestasikan,” katanya.

Kecintaanya kepada alat
musik harus mengorbankan gelar sarjananya yang sudah ia tempuh selama empat
tahun lamanya. Pasalnya, ia sudah menerima gelar sarjana pendidikan
kewarganegaraan. Namun sama sekali tidak pernah ia pergunakan.

“Mama saya sudah sering meminta saya bekerja
sesuai bidang saya, tetapi hati saya menolak karena jiwa saya tidak disana,
saya hanya ingin menjadi seorang pemain musik,” ucapnya.
(*bersambung)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru