Malam di Palangka Raya biasanya riuh dengan aroma kopi yang menenangkan di kedai-kedai lokal. Namun, bagi Muhammad Taufikurrahman—atau yang akrab disapa Upik ini, aroma kopi di kedainya, Dinas Perkopian, membawa cerita yang sedikit berbeda belakangan ini. Di balik olahan segelas kopi, ada kalkulasi angka yang harus ia putar setiap harinya.
HERI MUKTI, PALANGKA RAYA
BAGI Upik dan banyak pelaku usaha Food and Beverage (F&B) lainnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal persaingan rasa, melainkan gelombang kenaikan harga bahan baku yang kian tak terbendung.
Susu UHT dan kemasan cup plastik, yang menjadi dua elemen vital bagi segelas kopi kekinian mendadak melonjak harganya. Perubahannya bukan lagi sekadar recehan, melainkan lonjakan yang cukup untuk membuat para pengusaha mengelus dada.
“Pengeluaran belanja sudah pasti meningkat jauh,” tutur Upik saat dibincangi pada Rabu (15/4/2026) malam.
Ia membeberkan sebuah realita pahit. Yakni jika biasanya anggaran belanja bulanan kedainya berkisar di angka Rp10 juta hingga Rp12 juta, kini angka itu meroket hingga mencapai Rp15 juta bahkan Rp17 juta. Sebuah selisih yang sangat terasa bagi kesehatan napas operasional sebuah kedai kopi.
Dalam situasi terjepit seperti saat ini, ada godaan besar bagi pengusaha untuk sekadar mengganti bahan baku dengan kualitas yang lebih rendah demi menekan biaya. Namun, itu tak dilakukan oleh Upik. Upik memilih jalan yang lebih terhormat, karena ia percaya bahwa kepercayaan pelanggan adalah segalanya.
“Dari pihak kami akan selalu menjaga konsistensi produk dan kualitas rasa. Tidak ada perubahan kualitas,” tegasnya.
Baginya, satu tetes susu atau satu butir biji kopi yang kualitasnya diturunkan adalah sebuah pengkhianatan terhadap selera pelanggan setia mereka.
Untuk itu, sebagai solusi agar bisnisnya tetap bisa berdenyut tanpa harus mengorbankan kualitas, Upik mengambil langkah yang sulit namun rasional, yaitu penyesuaian harga. Satu gelas kopi atau minuman milkbase kini ia naikan harganya di kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000.
Angka ribuan rupiah itu mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, namun bagi para pelaku usaha kecil, itu adalah “pelampung” untuk tetap bisa bertahan di tengah badai ekonomi. Ini adalah jalan tengah yang paling jujur. Sebuah cara untuk tetap bisa menyajikan cangkir kopi terbaik sembari memastikan kedai tetap bisa menyambut pelanggan di hari esok.
Pada akhirnya, di balik selisih harga selembar uang seribuan itu, ada janji yang ia berikan tentang rasa yang tidak pernah berubah. (*)


