Melukis bukan sekadar pekerjaan bagi Sutarso. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, hobi itu sudah mengalir dalam darahnya.
***
UNTUK bertahan hidup, Sutarso tak menggantungkan harapan dari lukisan semata. Ia juga bertani. Hasil pertanian menjadi penopang utama, sementara lukisan menjadi penambah pemasukan.
“Kalau lukisan ‘kan enggak setiap hari laku. Jadi dari tani itu yang utama. Lukisan ini sambil jalan,” ujarnya.
Penghasilan dari melukis cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Jika ada lebih, ia sisihkan sedikit demi sedikit. Harapannya sederhana, suatu hari bisa kembali membuka galeri yang lebih mapan.
Perjalanan enam tahun menjajakan lukisan di pinggir jalan tentu tak selalu manis. Sutarso kerap menghadapi konsumen dengan berbagai karakter. Ada yang menghargai, ada pula yang menawar seenaknya.
“Kadang ada yang bilang, ‘kok mahal lukisan di pinggir jalan’. Ya kita terima saja. Itu risiko,” katanya dengan nada pasrah.
Meski demikian, kecintaannya pada seni membuatnya tetap bertahan. Ia pernah bergabung dengan komunitas pelukis Kalimantan Selatan, berkenalan dengan sesama seniman, dan masuk grup WhatsApp komunitas. Baginya, relasi dan silaturahmi tetap penting, meski kini jalannya berbeda.
Di balik deretan lukisan di pinggir jalan itu, tersimpan kisah tentang keteguhan, adaptasi, dan harapan. Bagi Sutarso, kanvas bukan sekadar media seni, melainkan cara bertahan hidup, sekaligus jalan pulang menuju mimpi membuka galeri kembali. (*)


