Di Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, hiduplah seorang lelaki bernama M. Saini (69). Ia adalah salah satu dari sedikit pengrajin mandau tradisional yang masih bertahan menjaga warisan nenek moyang suku Dayak.
HERI MUKTI, PALANGKA RAYA
DENGAN tangan yang sudah mulai keriput dan usia yang tidak lagi muda, Saini terus mengetuk palu, mengukir gagang, dan merakit sarung mandau dengan teliti dan penuh kesabaran.
Mandau, senjata tradisional suku Dayak, bukan hanya sekadar senjata tajam, tapi simbol budaya, kehormatan, dan identitas masyarakat Kalimantan. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi saat ini, keberadaan pengrajin mandau tradisional kini semakin sulit ditemukan. Generasi muda yang mampu mewarisi keterampilan tersebut pun kian sedikit.
Saini, yang dikenal sebagai “menitik” atau pandai besi, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membuat mandau. Setiap mandau yang dibuatnya melalui proses panjang dan melelahkan, dengan ukiran khas Dayak yang memiliki nilai seni tinggi.
“Mandau yang saya buat ini murni karya seni budaya Dayak, dan tidak ada unsur magisnya,” katanya.
Selain mandau, Saini juga menerima pesanan tempaan lain seperti parang, pisau, dan alat tajam tradisional lainnya. Menurut penuturannya, harga yang dipatoknya cukup untuk menghidupinya, mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah. Semua tergantung tingkat kesulitan ukiran dan bahan yang digunakan.

