Abimanyu menuturkan rumah dengan luas bangunan seratus meter persegi yang ditempati bersama istrinya berada di perkampungan yang tidak terlalu padat.
“Rumah kami di daerah sekitaran Plamongan berbatasan dengan Pucanggading, masih banyak kebun-kebun pisang di kanan kiri dan belakang rumah,” cerita Abimanyu menggambarkan suasana rumahnya.
Pria yang bekerja sebagai karyawan ekspedisi di kawasan Pedurungan ini menambahkan, awal mereka menempati rumah tersebut, tidak ada yang aneh-aneh.
“Suasananya tenang, karena jarak rumah kami dengan tetangga juga tidak berdekatan, masih ada selah kebun-kebun pisang dan pohon,” tuturnya.
Namun suasana tenang hanya mereka rasakan seminggu saja. Dia tidak menyangka, jika rumah yang ditempati bersama istrinya itu ternyata angker.
“Gak nyangka, waktu pertama kali lihat, auranya tidak menunjukkan kalau rumah itu angker, vibesnya itu enak gitu loh mas, langsung karena cocok kita beli, apalagi harganya kejangkau dengan tabungan kita, murah,” kata Abimanyu mengungkapkan alasan membeli rumah tersebut.
Seminggu setelah menempati rumah barunya, sekitar pukul sebelas malam, Abimanyu masih begadang menyaksikan siaran bola, istrinya sudah terlelap tidur sejak jam 9 malam.
Ketika tengah fokus menyaksikan serunya pertandingan bola, Abimanyu tiba-tiba mendengar suara dari arah dapur.
“Sreeeek…sreeekkk, suaranya itu seperti suara kursi yang diseret,” ungkap Abimanyu.
Dia mencoba cuek, mengira itu adalah tikus yang mendorong atau menabrak kursi dapur.


