Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah video tentang mindfulness yang membahas cara menghadapi berita buruk di Indonesia menuai kritik dan perdebatan di media sosial.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Maudy melalui keterangan tertulis di akun Instagram pribadinya. Ia mengatakan telah mengambil waktu untuk mendengarkan berbagai respons, melakukan refleksi, dan memahami perspektif yang muncul setelah video mindfulness menjadi sorotan.
Dalam pernyataannya, Maudy mengakui bahwa apa yang disampaikannya telah menimbulkan kekecewaan dan kemarahan banyak orang. Dia pun menyampaikan permohonan maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Beberapa waktu terakhir, aku mengambil waktu untuk mendengar, merefleksikan kembali apa yang aku sampaikan, dan memahami berbagai respons yang muncul setelahnya. Aku menyadari bahwa apa yang aku sampaikan telah menyebabkan kekecewaan dan kemarahan. Aku minta maaf,” tulis Maudy.
Ia juga mengakui terdapat perspektif dan konteks yang belum cukup dipertimbangkan ketika menyampaikan pemikirannya mengenai cara mengelola paparan berita buruk.
Menurut Maudy, hal tersebut membuat pernyataannya terasa jauh dari realitas atas pengalaman yang sedang dihadapi masyarakat.
“Ada perspektif dan konteks yang belum cukup aku pertimbangkan, sehingga apa yang aku sampaikan terasa jauh dari realita dan pengalaman yang sedang dihadapi banyak orang,” lanjutnya.
Maudy Ayunda Akui Masih Perlu Banyak Belajar
Dalam permintaan maaf tersebut, Maudy tidak hanya menyampaikan penyesalan, tetapi juga mengakui masih perlu belajar memahami pengalaman yang berbeda dari dirinya.
Ia mengatakan masih ingin lebih banyak mendengar, memiliki kepekaan, serta membuka diri terhadap perspektif yang tidak selalu sama dengan pengalaman pribadinya.
“Aku menyadari bahwa aku masih perlu banyak belajar. Aku perlu lebih banyak mendengar, lebih peka, lebih berempati, dan lebih terbuka terhadap perspektif yang berbeda dari pengalamanku sendiri,” ujar Maudy.
Maudy kemudian menyinggung soal posisi dan akses yang dimilikinya sebagai figur publik. Ia menyadari bahwa suara, akses, platform, serta berbagai bentuk privilese yang dimilikinya juga membawa tanggung jawab ketika digunakan untuk menyampaikan gagasan kepada publik.
Maudy mengatakan ada situasi tertentu ketika dirinya bisa lebih hadir atau menggunakan ruang yang dimilikinya untuk bersuara. Karena itu, ia berjanji terus belajar dan berusaha lebih bijak dalam menggunakan ruang serta kapasitas yang dimilikinya.
Berawal dari Video tentang Cara Menghadapi Berita Buruk
Kontroversi yang melibatkan Maudy bermula dari video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah pada 21 Agustus 2026.
Dalam video tersebut, Maudy membagikan pengalaman pribadinya menghadapi derasnya informasi, terutama berita buruk yang muncul setiap hari.
Ia membicarakan cara mengatur informasi yang masuk ke pikirannya dengan memilih sumber berita, menentukan bacaan yang dikonsumsi, serta berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap memahami persoalan tertentu.
Gagasan tersebut kemudian mendapat respons beragam dari publik. Sebagian netizen mengkritik konsep “diet berita” yang disampaikan Maudy dianggap tidak bisa begitu saja diterapkan oleh semua orang.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah adanya perbedaan pengalaman antara orang yang memiliki pilihan untuk membatasi paparan berita dengan mereka yang secara langsung terdampak persoalan yang diberitakan.
Sebelum permintaan maaf terbuka terbarunya, Maudy sebenarnya sudah memberikan klarifikasi melalui komentar yang disematkan pada video tersebut.
Saat itu, ia mengakui bahwa kemampuan seseorang untuk menjauh dari berita juga merupakan bentuk privilese.
“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya,” tulis Maudy.(jpc)


