Sejumlah pengeluaran lain yang turut ditanggung Ruben, seperti biaya sarang burung, laundry, gaji sopir, perawatan anjing peliharaan, pembelian buah-buahan, hingga biaya kebersihan rumah.
“Di Rp 243 juta ini kan ada yang memang menurut kami itu sesuatu yang wajar misalnya uang gedung tahunan sekolah masih wajae. Anak 3 pokok jadi masing-masing anak ada allowance untuk kepentingannya. Karena tiga orang pada waktu itu Onyo masih ada di sana Rp 70 juta. Lalu ada uang sarang burung Rp 9,3 juta kemudian ada laundry. Ada gaji driver Rp 7,3 juta, kemudian ada (biaya perawatan) doggy Rp 9,5 juta, ada buah Rp 7,8 juta, kebersihan Rp 5,2 juta. Jadi sebenarnya gaji para pekerja di situ, ini yang ditanggulangi oleh Ruben ini bukan nafkah anak nih. Padahal yang seharusnya menjadi tanggung jawab Ruben kan anak,” bebernya.
Namun, mirisnya walau semua kebutuhan dibayar Ruben, ia tetap tidak bisa bertemu anak-anaknya.
“Ini sama seperti kebutuhan rumah tangga yang belum bercerai. Itu pun Ruben tidak mengeluh. Tapi apakah Ruben bisa bertemu dengan anaknya? Tidak.”
Jadi, kalau misal saat ini Ruben masih menunda membayar kewajiban yang tidak seharusnya dibebankan ke Ruben itu, ya wajar saja.
Dia berpikir, “Saya dimintai bayar kewajiban untuk anak, tapi anaknya mana?’. Komunikasi aja susah,” ucapnya.
Sejumlah pengeluaran lain yang turut ditanggung Ruben, seperti biaya sarang burung, laundry, gaji sopir, perawatan anjing peliharaan, pembelian buah-buahan, hingga biaya kebersihan rumah.
“Di Rp 243 juta ini kan ada yang memang menurut kami itu sesuatu yang wajar misalnya uang gedung tahunan sekolah masih wajae. Anak 3 pokok jadi masing-masing anak ada allowance untuk kepentingannya. Karena tiga orang pada waktu itu Onyo masih ada di sana Rp 70 juta. Lalu ada uang sarang burung Rp 9,3 juta kemudian ada laundry. Ada gaji driver Rp 7,3 juta, kemudian ada (biaya perawatan) doggy Rp 9,5 juta, ada buah Rp 7,8 juta, kebersihan Rp 5,2 juta. Jadi sebenarnya gaji para pekerja di situ, ini yang ditanggulangi oleh Ruben ini bukan nafkah anak nih. Padahal yang seharusnya menjadi tanggung jawab Ruben kan anak,” bebernya.
Namun, mirisnya walau semua kebutuhan dibayar Ruben, ia tetap tidak bisa bertemu anak-anaknya.
“Ini sama seperti kebutuhan rumah tangga yang belum bercerai. Itu pun Ruben tidak mengeluh. Tapi apakah Ruben bisa bertemu dengan anaknya? Tidak.”
Jadi, kalau misal saat ini Ruben masih menunda membayar kewajiban yang tidak seharusnya dibebankan ke Ruben itu, ya wajar saja.
Dia berpikir, “Saya dimintai bayar kewajiban untuk anak, tapi anaknya mana?’. Komunikasi aja susah,” ucapnya.