Harga Minyak Mentah WTI Berpotensi Naik ke USD 90 per Barel, Ini Pemicunya

PROKALTENG.CO-Harga minyak mentah dunia khususnya West Texas Intemediate (WTI) berpotensi kembali menguat menuju level USD 90 per barel.

Pengamat Komoditas dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik geopolitik, terutama di Eropa Timur, dapat menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak.

Ia menyebut, perang Rusia-Ukraina yang melibatkan negara-negara anggota NATO berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Jika eskalasi terus meningkat, pasar akan kembali mengkhawatirkan gangguan terhadap pasokan energi global.

“Situasi di Eropa Timur ini akan mendongkrak harga minyak mentah yang kemungkinan besar akan kembali ke level USD 90.00,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (30/8).

Ibrahim mengatakan, pergerakan WTI juga masih dipengaruhi oleh pergembangan geopolitik global di Amerika Latin khususnya di Venezuela.

Menurutnya, perubahan penguasaan terhadap sektor minyak Venezuela berpotensi meningkatkan pasokan minyak global. Kondisi tersebut dapat memicu oversupply dan menahan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Baca Juga :  Bukti Keberpihakan Pada Ekonomi Kerakyatan, Kredit UMKM BRI Tembus Rp1.068,7 triliun 

“Yang pertama di Amerika Latin, kita lihat bahwa Venezuela setelah dikuasai oleh Amerika kemungkinan akan keluar dari negara-negara anggota OPEC dan hampir sepenuhnya minyak-minyak di Venezuela itu akan dikuasai oleh Amerika. Sehingga ada kemungkinan besar akan terjadi oversupply,” ujarnya.

Electronic money exchangers listing

Selain Venezuela, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim mengatakan, kedua negara masih memiliki klaim yang berbeda mengenai kendali atas jalur perairan strategis tersebut.

“Yang kedua antara Iran dan Amerika ini saling mengklaim tentang Selat Hormuz. Kita lihat bahwa Amerika mengatakan blockade di Selat Hormuz itu sampai saat ini sudah dilakukan oleh armada laut Amerika,” jelasnya.

Di sisi lain, Iran mengklaim masih memiliki kendali terhadap jalur perairan vital tersebut. Ketegangan itu berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

Baca Juga :  Miliki Modal Kuat, Laba BRI Layak Dibagi Dalam Bentuk Dividen

“Teheran sendiri mengklaim bahwa kendali atas jalur perairan vital tersebut dikuasai oleh Iran karena banyaknya ranjau yang disebar oleh Iran. Ini yang kemungkinan besar akan membuat sedikit keramaian,” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, perubahan strategi Amerika Serikat dalam menghadapi Iran juga menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan harga minyak belum mengalami kenaikan tajam. Konflik yang sebelumnya lebih berfokus pada serangan militer disebut mulai bergeser ke tekanan terhadap perekonomian.

“Amerika pada saat melakukan peperangan terhadap Iran ini pun juga gagal total, sehingga berubah strategi yaitu melakukan penyerangan terhadap ekonomi. Ini yang cukup menarik sehingga membuat harga minyak mentah pun juga tidak terlalu naik tajam,” ujarnya.(jpg)

 

PROKALTENG.CO-Harga minyak mentah dunia khususnya West Texas Intemediate (WTI) berpotensi kembali menguat menuju level USD 90 per barel.

Pengamat Komoditas dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik geopolitik, terutama di Eropa Timur, dapat menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak.

Ia menyebut, perang Rusia-Ukraina yang melibatkan negara-negara anggota NATO berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Jika eskalasi terus meningkat, pasar akan kembali mengkhawatirkan gangguan terhadap pasokan energi global.

Electronic money exchangers listing

“Situasi di Eropa Timur ini akan mendongkrak harga minyak mentah yang kemungkinan besar akan kembali ke level USD 90.00,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (30/8).

Ibrahim mengatakan, pergerakan WTI juga masih dipengaruhi oleh pergembangan geopolitik global di Amerika Latin khususnya di Venezuela.

Menurutnya, perubahan penguasaan terhadap sektor minyak Venezuela berpotensi meningkatkan pasokan minyak global. Kondisi tersebut dapat memicu oversupply dan menahan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Baca Juga :  Bukti Keberpihakan Pada Ekonomi Kerakyatan, Kredit UMKM BRI Tembus Rp1.068,7 triliun 

“Yang pertama di Amerika Latin, kita lihat bahwa Venezuela setelah dikuasai oleh Amerika kemungkinan akan keluar dari negara-negara anggota OPEC dan hampir sepenuhnya minyak-minyak di Venezuela itu akan dikuasai oleh Amerika. Sehingga ada kemungkinan besar akan terjadi oversupply,” ujarnya.

Selain Venezuela, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim mengatakan, kedua negara masih memiliki klaim yang berbeda mengenai kendali atas jalur perairan strategis tersebut.

“Yang kedua antara Iran dan Amerika ini saling mengklaim tentang Selat Hormuz. Kita lihat bahwa Amerika mengatakan blockade di Selat Hormuz itu sampai saat ini sudah dilakukan oleh armada laut Amerika,” jelasnya.

Di sisi lain, Iran mengklaim masih memiliki kendali terhadap jalur perairan vital tersebut. Ketegangan itu berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

Baca Juga :  Miliki Modal Kuat, Laba BRI Layak Dibagi Dalam Bentuk Dividen

“Teheran sendiri mengklaim bahwa kendali atas jalur perairan vital tersebut dikuasai oleh Iran karena banyaknya ranjau yang disebar oleh Iran. Ini yang kemungkinan besar akan membuat sedikit keramaian,” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, perubahan strategi Amerika Serikat dalam menghadapi Iran juga menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan harga minyak belum mengalami kenaikan tajam. Konflik yang sebelumnya lebih berfokus pada serangan militer disebut mulai bergeser ke tekanan terhadap perekonomian.

“Amerika pada saat melakukan peperangan terhadap Iran ini pun juga gagal total, sehingga berubah strategi yaitu melakukan penyerangan terhadap ekonomi. Ini yang cukup menarik sehingga membuat harga minyak mentah pun juga tidak terlalu naik tajam,” ujarnya.(jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru