Kenaikan Harga BBM Non Subsidi di Indonesia Dianggap Wajar Akibat Perang di Iran

PROKALTENG.CO-Ekonom Universitas Airlangga (UNAIR), Wisnu Wibowo menilai wajar terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Indonesia. Kondisi ini dipengaruhi oleh perang yang terjadi di Iran, sehingga membuat pasokan minyak dunia bermasalah.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” kata Wisnu saat dihubungi, Senin (30/3).

Pada periode Februari ke Maret 2026, sejumlah produk BBM non subsidi di tanah air mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp 12.450 menjadi Rp 12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp 12.700 menjadi Rp 13.100 per liter.

Untuk jenis solar non subsidi, Dexlite naik dari Rp 13.250 menjadi Rp 14.200 per liter dan Pertamina Dex dari Rp 13.500 menjadi Rp 14.500 per liter. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih bertahan pada harga Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

Baca Juga :  2,6 juta Pelaku UMKM Dapatkan Akses Pembiayaan KUR BRI di Sepanjang Tahun 2024

“Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen,” imbuhnya.

Kondisi ini dinilai wajar. Mekanisme penentuan harga BBM non subsidi memang disesuaikan secara berkala mengikuti tren harga minyak dunia, khususnya acuan Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus yang merupakan lembaga independen yang juga menentukan harga komoditas global.

Penyesuaian harga juga diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. “Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran,” jelasnya.

Electronic money exchangers listing

Badan usaha disebut memiliki kewenangan menaikan harga jual dengan tetap melaporkan kepada pemerintah. Oleh karena itu, harus ada penyesuaian dalam kondisi tertentu.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus di atas USD 100 per barel turut memberi tekanan pada fiskal negara. Setiap kenaikan USD 1, harga minyak berpotensi menambah beban APBN hingga Rp 6,7 triliun.

Baca Juga :  BRI Gelar Mudik Asyik bersama BUMN 2024

Selain di Indonesia,  sejumlah negara di Asia Tenggara juga mulai menaikan harga BBM. Bahkan di Thailand dan Vietnam mengalami lonjakan tajam, terutama pada jenis solar yang berkaitan langsung dengan sektor logistik dan industri.

Berikut ini komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026:

  1. Indonesia (Pertamina)

RON 92: Rp12.300

RON 95: Rp12.900

RON 98: Rp13.100

Solar subsidi: Rp6.800

Dexlite (non-subsidi): Rp14.200

Pertamina Dex: Rp14.500

  1. Malaysia

RON 95: ± Rp8.500 – Rp11.400

RON 97: ± Rp13.000

Solar (diesel): ± Rp10.000 – Rp11.500

  1. Singapura

RON 95: ± Rp45.000

RON 98: Rp52.000 – Rp55.000

Solar (diesel): ± Rp45.000 – Rp47.000

  1. Thailand

RON 92: ± Rp23.000

RON 95: ± Rp23.000 – Rp24.000

Solar (diesel): ± Rp17.000

  1. Vietnam

RON 92: ± Rp22.000 – Rp25.000

RON 95: ± Rp25.000+

Solar (diesel): ± Rp20.000 – Rp21.000+

(jpg)

PROKALTENG.CO-Ekonom Universitas Airlangga (UNAIR), Wisnu Wibowo menilai wajar terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Indonesia. Kondisi ini dipengaruhi oleh perang yang terjadi di Iran, sehingga membuat pasokan minyak dunia bermasalah.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” kata Wisnu saat dihubungi, Senin (30/3).

Pada periode Februari ke Maret 2026, sejumlah produk BBM non subsidi di tanah air mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp 12.450 menjadi Rp 12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp 12.700 menjadi Rp 13.100 per liter.

Electronic money exchangers listing

Untuk jenis solar non subsidi, Dexlite naik dari Rp 13.250 menjadi Rp 14.200 per liter dan Pertamina Dex dari Rp 13.500 menjadi Rp 14.500 per liter. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih bertahan pada harga Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

Baca Juga :  2,6 juta Pelaku UMKM Dapatkan Akses Pembiayaan KUR BRI di Sepanjang Tahun 2024

“Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen,” imbuhnya.

Kondisi ini dinilai wajar. Mekanisme penentuan harga BBM non subsidi memang disesuaikan secara berkala mengikuti tren harga minyak dunia, khususnya acuan Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus yang merupakan lembaga independen yang juga menentukan harga komoditas global.

Penyesuaian harga juga diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. “Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran,” jelasnya.

Badan usaha disebut memiliki kewenangan menaikan harga jual dengan tetap melaporkan kepada pemerintah. Oleh karena itu, harus ada penyesuaian dalam kondisi tertentu.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus di atas USD 100 per barel turut memberi tekanan pada fiskal negara. Setiap kenaikan USD 1, harga minyak berpotensi menambah beban APBN hingga Rp 6,7 triliun.

Baca Juga :  BRI Gelar Mudik Asyik bersama BUMN 2024

Selain di Indonesia,  sejumlah negara di Asia Tenggara juga mulai menaikan harga BBM. Bahkan di Thailand dan Vietnam mengalami lonjakan tajam, terutama pada jenis solar yang berkaitan langsung dengan sektor logistik dan industri.

Berikut ini komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026:

  1. Indonesia (Pertamina)

RON 92: Rp12.300

RON 95: Rp12.900

RON 98: Rp13.100

Solar subsidi: Rp6.800

Dexlite (non-subsidi): Rp14.200

Pertamina Dex: Rp14.500

  1. Malaysia

RON 95: ± Rp8.500 – Rp11.400

RON 97: ± Rp13.000

Solar (diesel): ± Rp10.000 – Rp11.500

  1. Singapura

RON 95: ± Rp45.000

RON 98: Rp52.000 – Rp55.000

Solar (diesel): ± Rp45.000 – Rp47.000

  1. Thailand

RON 92: ± Rp23.000

RON 95: ± Rp23.000 – Rp24.000

Solar (diesel): ± Rp17.000

  1. Vietnam

RON 92: ± Rp22.000 – Rp25.000

RON 95: ± Rp25.000+

Solar (diesel): ± Rp20.000 – Rp21.000+

(jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru