NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Masyarakat Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, mulai mengeluhkan lonjakan harga gas Elpiji non-subsidi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan yang dinilai signifikan ini kian memberatkan beban ekonomi rumah tangga dan para pelaku usaha kecil.
Berdasarkan laporan di lapangan. Kenaikan harga terjadi pada dua varian utama. Yaitu Tabung 5,5 Kg Naik sebesar Rp17.000 per tabung dan tabung 12 Kg Naik mencapai Rp35.000 per tabung.
Kenaikan drastis ini memicu kekhawatiran di kalangan warga, mengingat kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Fajar, salah satu warga Lamandau, menyatakan keterkejutannya atas lonjakan harga yang mendadak ini.
“Kami sangat keberatan. Kenaikannya cukup besar dan dampaknya langsung terasa, apalagi bagi kami yang bergantung pada gas untuk usaha kecil maupun kebutuhan rumah tangga,” ujar Fajar.
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling terdampak. Pedagang makanan dan pemilik warung kini berada di posisi dilematis menanggung kerugian akibat biaya produksi yang membengkak atau menaikkan harga jual yang berisiko ditinggalkan pelanggan.
Seorang pedagang kecil yang enggan disebutkan namanya mengeluhkan hal serupa. Ia mengaku sedang memutar otak, agar usahanya tetap bertahan tanpa harus kehilangan pembeli.
“Kalau harga terus merangkak naik, kami terpaksa menaikkan harga makanan. Tapi kalau dinaikkan, takut pelanggan justru berkurang,” ungkapnya dengan nada khawatir.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang maupun distributor. Terkait penyebab pasti lonjakan harga tersebut. Masyarakat dan pelaku usaha di Lamandau kini mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan.
“Kami Masyarakat berharap adanya solusi cepat agar beban ekonomi tidak semakin berat dan roda usaha kecil di Kabupaten Lamandau tetap bisa berputar,” tandasnya. (bib)


