PROKALTENG.CO– Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9), setelah sebelummya ditutup melemah 5 poin menjadi Rp 17.758 per dollar AS pada perdagangan Jumat (18/9).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam dan luar negeri.
“Untuk perdagangan (21/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.650 – Rp.17.800,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Senin (21/9).
Ibrahim mengatakan, salah satu sentimen eksternal yang masih menjadi perhatian pasar adalah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed).
The Fed pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC).
Dalam pernyataannya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi sehingga kebijakan tersebut diperlukan untuk mendorong inflasi kembali menuju target 2 persen.
Sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh juga menjadi perhatian pasar. Warsh menilai inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengurangi akomodasi moneter. Sikap tersebut membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh harga komoditas, khususnya minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi Indonesia.
Selain itu, fenomena El Nino yang masih berlangsung pada 2026 turut menjadi risiko bagi perekonomian domestik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Nino pada Dasarian I September berada dalam kategori sangat kuat.
“Kondisi panas dan kering yang berlangsung disejumlah wilayah indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air hingga kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau dan potensi kekeringan diberbagai wilayah sampai akhir tahun 2026.
“Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia terutama melalui jalur pangan dan Inflasi,” ucapnya. (jpg)


