Dolar AS Menguat Tipis, Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed Jadi Penentu Pasar

PROKALTENG.CO-Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan tipis terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada pembukaan perdagangan Asia, Senin (20/7/2026).

Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor kembali memburu aset-aset yang dianggap lebih aman.

Mengutip laporan Reuters, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,1 persen ke level 100,84.

Penguatan dolar juga terlihat terhadap mata uang Jepang. Nilai tukar dolar AS naik 0,1 persen menjadi 162,48 yen, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 9 Juli 2026.

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah memanasnya situasi geopolitik.

Sementara itu, euro melemah 0,1 persen ke level USD1,1426, sedangkan poundsterling Inggris bergerak relatif stabil di USD1,3445.

Baca Juga :  Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel

Mata uang komoditas juga mengalami tekanan, dengan dolar Australia turun 0,1 persen menjadi USD0,6975 dan dolar Selandia Baru terkoreksi 0,2 persen ke USD0,5833.

Electronic money exchangers listing

Analis dari Westpac menilai pergerakan pasar valuta asing masih cenderung tenang.

Namun, dolar AS tetap menunjukkan posisi yang stabil, sementara dolar Australia mengalami pelemahan terhadap dolar AS maupun sejumlah mata uang utama lainnya.

Di sisi lain, harga minyak mentah ikut melonjak tajam. Kontrak berjangka Brent naik 3,3 persen menjadi USD90,97 per barel setelah Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap Iran selama sembilan malam berturut-turut.

Sebelumnya, Washington juga melaporkan dua personel militernya tewas dalam insiden di Yordania.

Baca Juga :  BRI All Out di PRABU Expo 2025, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Teknologi Produksi

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada 29 Juli 2026.

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga mencapai 85,6 persen, meningkat dibandingkan estimasi 61,5 persen sebulan sebelumnya menurut indikator FedWatch CME Group.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan inflasi yang masih tinggi membuka kemungkinan suku bunga kembali dinaikkan.

Pernyataan tersebut diperkirakan akan memicu pembahasan yang lebih intens dalam rapat The Fed mendatang, termasuk potensi munculnya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral. (jpg)

 

PROKALTENG.CO-Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan tipis terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada pembukaan perdagangan Asia, Senin (20/7/2026).

Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor kembali memburu aset-aset yang dianggap lebih aman.

Mengutip laporan Reuters, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,1 persen ke level 100,84.

Electronic money exchangers listing

Penguatan dolar juga terlihat terhadap mata uang Jepang. Nilai tukar dolar AS naik 0,1 persen menjadi 162,48 yen, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 9 Juli 2026.

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah memanasnya situasi geopolitik.

Sementara itu, euro melemah 0,1 persen ke level USD1,1426, sedangkan poundsterling Inggris bergerak relatif stabil di USD1,3445.

Baca Juga :  Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel

Mata uang komoditas juga mengalami tekanan, dengan dolar Australia turun 0,1 persen menjadi USD0,6975 dan dolar Selandia Baru terkoreksi 0,2 persen ke USD0,5833.

Analis dari Westpac menilai pergerakan pasar valuta asing masih cenderung tenang.

Namun, dolar AS tetap menunjukkan posisi yang stabil, sementara dolar Australia mengalami pelemahan terhadap dolar AS maupun sejumlah mata uang utama lainnya.

Di sisi lain, harga minyak mentah ikut melonjak tajam. Kontrak berjangka Brent naik 3,3 persen menjadi USD90,97 per barel setelah Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap Iran selama sembilan malam berturut-turut.

Sebelumnya, Washington juga melaporkan dua personel militernya tewas dalam insiden di Yordania.

Baca Juga :  BRI All Out di PRABU Expo 2025, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Teknologi Produksi

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada 29 Juli 2026.

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga mencapai 85,6 persen, meningkat dibandingkan estimasi 61,5 persen sebulan sebelumnya menurut indikator FedWatch CME Group.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan inflasi yang masih tinggi membuka kemungkinan suku bunga kembali dinaikkan.

Pernyataan tersebut diperkirakan akan memicu pembahasan yang lebih intens dalam rapat The Fed mendatang, termasuk potensi munculnya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral. (jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru