PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kenaikan harga bahan plastik mulai dirasakan para pedagang plastik di Kota Palangka Raya sejak awal April 2026. Bahkan, lonjakannya disebut mencapai 60 hingga 70 persen, dan masih berpotensi terus meningkat pada pertengahan april ini.
Salah satu pedagang toko plastik di Jalan Kinibalu, Kota Palangka Raya bernama Romi. Mengatakan kenaikan ini dipicu faktor global, terutama dampak konflik di sejumlah wilayah yang memengaruhi distribusi bahan baku plastik.
“Naik setelah perang, karena ada bahan tertentu di daerah konflik yang tidak bisa dibawa. Itu berpengaruh ke bahan baku plastik,” ujarnya pada Kamis (16/4/2026).
Menurut Romi, kenaikan terjadi secara bertahap sejak awal April, namun semakin terasa pada pertengahan bulan. Kondisi semakin diperparah dengan terbatasnya pasokan dari pabrik.
“Ada pabrik yang tidak punya bahan, bahkan ada yang berhenti sementara. Kalau bahan habis, ya tidak bisa produksi lagi,” jelasnya.
Ia menyebut beberapa jenis plastik mengalami kenaikan signifikan. Misalnya, cup minuman ukuran tebal yang sebelumnya dijual sekitar Rp20 ribu kini naik menjadi Rp25 ribu per pak.
Sementara cup tipis dari Rp10 ribu menjadi Rp13 ribu, tergantung kualitas dan kejernihan bahan.
Tak hanya itu, plastik sambal juga mengalami kenaikan dari sekitar Rp250 ribu menjadi Rp 350 ribu per bal. Kenaikan serupa juga terjadi pada plastik kresek, sedotan, hingga kotak makanan plastik.
Romi menambahkan, plastik jenis putih atau transparan mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan plastik berwarna, karena perbedaan bahan baku.
“Kenaikannya sekarang rata-rata sudah 60 sampai 70 persen, dan kemungkinan masih bisa naik lagi tergantung distributor dan pabrik,” katanya.
Selain harga yang melonjak, kelangkaan barang juga menjadi persoalan utama. Banyak pembeli yang datang, namun tidak mendapatkan barang yang dicari.
“Daya beli sebenarnya ada, tapi barangnya tidak ada. Orang mau beli tapi kosong,” ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, penjualan pun ikut menurun. Pembeli, yang mayoritas merupakan pedagang kecil, kini lebih berhati-hati dan cenderung menunda pembelian.
“Pembeli jadi ragu-ragu, mereka keliling cari yang lebih murah,” tambahnya.
Romi berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan bahan baku, agar usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu.
Sementara itu salah satu pedagang yang sedang membeli plastik di toko tersebut, Ibu Vina mengatakan siatuasi ini terasa bagi usahanya.
“Kerasa banget karena belanja modal lebih besar sementara harga sama, saya sampai sekarang masih bertahan,” ungkapnya. (jef)


