32.7 C
Jakarta
Wednesday, March 25, 2026

Kerajinan Serat Alam Bali dari TSDC Gianyar Tembus Pasar Internasional Melalui LinkUMKM BRI

GIANYAR – Tren fesyen ramah lingkungan membuka peluang besar bagi produk kerajinan berbahan serat alam dari Bali. Salah satu yang mencuri perhatian datang dari TSDC Bali (Tanda Sayang dan Cinta), brand kerajinan asal Desa Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang kini produknya diminati pasar lokal hingga mancanegara.

TSDC Bali menghadirkan berbagai produk fesyen berbahan serat alam seperti ate, rotan, dan pandan yang dikerjakan secara handmade oleh pengrajin lokal. Dengan memadukan teknik anyaman tradisional dan sentuhan desain modern, bahan-bahan alami tersebut diolah menjadi tas, dompet, hingga aksesori yang banyak digemari wisatawan.

Sejumlah produk unggulan TSDC di antaranya beach bag, topi, dan dompet anyaman. Produk tersebut kerap digunakan untuk aktivitas liburan maupun keseharian, sehingga memiliki pasar yang cukup luas di kalangan pecinta fesyen berbasis bahan alami.

Founder sekaligus Owner TSDC Bali, Ni Wayan Sri Mustika Dewi, mengungkapkan usaha yang ia rintis berangkat dari keinginan menghadirkan produk kerajinan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki makna emosional bagi penggunanya.

“TSDC mulai dirintis pada 2020 dari keinginan menghadirkan ‘tanda sayang’ melalui produk yang personal dan bermakna. Nama ‘Tanda Sayang dan Cinta’ bukan sekadar label, tetapi mencerminkan filosofi bahwa setiap produk buatan tangan membawa energi kasih sayang dari pembuatnya kepada pemakainya,” ujarnya.

Baca Juga :  Pastikan Layanan Perbankan, Direktur BRI Tinjau Langsung Operasional Layanan Libur Lebaran 

Sri menjelaskan, proses pengembangan usaha dimulai dari eksplorasi kekayaan serat alam Bali seperti ate, pandan, dan rotan. Dari usaha skala kecil, TSDC terus menjaga konsistensi kualitas produk dan desain yang relevan dengan tren pasar modern hingga akhirnya dikenal dalam berbagai pameran.

Dalam perjalanan mengembangkan usaha, TSDC memanfaatkan ekosistem pemberdayaan UMKM BRI melalui platform LinkUMKM. Hingga akhir 2025, platform tersebut telah dimanfaatkan lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha secara daring.

Electronic money exchangers listing

LinkUMKM menghadirkan enam fitur utama yang terintegrasi, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB. Platform ini juga dilengkapi lebih dari 750 modul pembelajaran untuk meningkatkan soft skill dan hard skill para pelaku UMKM.

“Awalnya saya mengenal LinkUMKM melalui ekosistem pemberdayaan UMKM yang dijalankan BRI, baik melalui Mantri BRI di unit terdekat maupun berbagai program pelatihan seperti Go Modern. Bergabung dengan LinkUMKM membantu kami melakukan self assessment terhadap kelas usaha sekaligus membuka akses ke jejaring komunitas UMKM yang lebih luas secara digital,” jelas Sri.

Berbagai pelatihan tersebut turut meningkatkan kepercayaan diri TSDC untuk tampil di sejumlah event, mulai dari pameran UMKM hingga ajang fashion week di Bali. Kegiatan itu membuka peluang bertemu berbagai buyer potensial, termasuk dari sektor perhotelan, instansi, hingga wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Baca Juga :  Berbahagia di Bulan Ramadan, BRI Group Salurkan 128 Ribu Paket Sembako Bagi Masyarakat

Saat ini produk TSDC dipasarkan melalui gerai offline, reseller, marketplace, media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta kerja sama penjualan B2B dan berbagai pameran. Dengan strategi tersebut, pasar TSDC kini menjangkau konsumen lokal hingga ekspor.

Dalam operasional usaha, TSDC juga memanfaatkan layanan perbankan BRI seperti QRIS BRI untuk memudahkan transaksi non-tunai, BRImo untuk memantau arus kas usaha sekaligus melakukan pembayaran kepada pemasok bahan baku, serta tabungan BritAma sebagai rekening utama pengelolaan transaksi bisnis.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menilai TSDC Bali menjadi contoh bagaimana UMKM mampu mengembangkan kerajinan berbasis kearifan lokal hingga menjangkau pasar yang lebih luas.

“Dengan penguatan kapasitas usaha, inovasi desain, serta dukungan akses pasar yang lebih luas, produk kerajinan seperti yang dikembangkan TSDC menunjukkan bahwa karya berbasis kearifan lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan tren pasar. Pendampingan yang tepat juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran dan menjangkau segmen konsumen yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui berbagai program pemberdayaan, BRI akan terus mendorong UMKM agar dapat berkembang secara berkelanjutan. ***

GIANYAR – Tren fesyen ramah lingkungan membuka peluang besar bagi produk kerajinan berbahan serat alam dari Bali. Salah satu yang mencuri perhatian datang dari TSDC Bali (Tanda Sayang dan Cinta), brand kerajinan asal Desa Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang kini produknya diminati pasar lokal hingga mancanegara.

TSDC Bali menghadirkan berbagai produk fesyen berbahan serat alam seperti ate, rotan, dan pandan yang dikerjakan secara handmade oleh pengrajin lokal. Dengan memadukan teknik anyaman tradisional dan sentuhan desain modern, bahan-bahan alami tersebut diolah menjadi tas, dompet, hingga aksesori yang banyak digemari wisatawan.

Sejumlah produk unggulan TSDC di antaranya beach bag, topi, dan dompet anyaman. Produk tersebut kerap digunakan untuk aktivitas liburan maupun keseharian, sehingga memiliki pasar yang cukup luas di kalangan pecinta fesyen berbasis bahan alami.

Electronic money exchangers listing

Founder sekaligus Owner TSDC Bali, Ni Wayan Sri Mustika Dewi, mengungkapkan usaha yang ia rintis berangkat dari keinginan menghadirkan produk kerajinan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki makna emosional bagi penggunanya.

“TSDC mulai dirintis pada 2020 dari keinginan menghadirkan ‘tanda sayang’ melalui produk yang personal dan bermakna. Nama ‘Tanda Sayang dan Cinta’ bukan sekadar label, tetapi mencerminkan filosofi bahwa setiap produk buatan tangan membawa energi kasih sayang dari pembuatnya kepada pemakainya,” ujarnya.

Baca Juga :  Pastikan Layanan Perbankan, Direktur BRI Tinjau Langsung Operasional Layanan Libur Lebaran 

Sri menjelaskan, proses pengembangan usaha dimulai dari eksplorasi kekayaan serat alam Bali seperti ate, pandan, dan rotan. Dari usaha skala kecil, TSDC terus menjaga konsistensi kualitas produk dan desain yang relevan dengan tren pasar modern hingga akhirnya dikenal dalam berbagai pameran.

Dalam perjalanan mengembangkan usaha, TSDC memanfaatkan ekosistem pemberdayaan UMKM BRI melalui platform LinkUMKM. Hingga akhir 2025, platform tersebut telah dimanfaatkan lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha secara daring.

LinkUMKM menghadirkan enam fitur utama yang terintegrasi, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB. Platform ini juga dilengkapi lebih dari 750 modul pembelajaran untuk meningkatkan soft skill dan hard skill para pelaku UMKM.

“Awalnya saya mengenal LinkUMKM melalui ekosistem pemberdayaan UMKM yang dijalankan BRI, baik melalui Mantri BRI di unit terdekat maupun berbagai program pelatihan seperti Go Modern. Bergabung dengan LinkUMKM membantu kami melakukan self assessment terhadap kelas usaha sekaligus membuka akses ke jejaring komunitas UMKM yang lebih luas secara digital,” jelas Sri.

Berbagai pelatihan tersebut turut meningkatkan kepercayaan diri TSDC untuk tampil di sejumlah event, mulai dari pameran UMKM hingga ajang fashion week di Bali. Kegiatan itu membuka peluang bertemu berbagai buyer potensial, termasuk dari sektor perhotelan, instansi, hingga wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Baca Juga :  Berbahagia di Bulan Ramadan, BRI Group Salurkan 128 Ribu Paket Sembako Bagi Masyarakat

Saat ini produk TSDC dipasarkan melalui gerai offline, reseller, marketplace, media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta kerja sama penjualan B2B dan berbagai pameran. Dengan strategi tersebut, pasar TSDC kini menjangkau konsumen lokal hingga ekspor.

Dalam operasional usaha, TSDC juga memanfaatkan layanan perbankan BRI seperti QRIS BRI untuk memudahkan transaksi non-tunai, BRImo untuk memantau arus kas usaha sekaligus melakukan pembayaran kepada pemasok bahan baku, serta tabungan BritAma sebagai rekening utama pengelolaan transaksi bisnis.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menilai TSDC Bali menjadi contoh bagaimana UMKM mampu mengembangkan kerajinan berbasis kearifan lokal hingga menjangkau pasar yang lebih luas.

“Dengan penguatan kapasitas usaha, inovasi desain, serta dukungan akses pasar yang lebih luas, produk kerajinan seperti yang dikembangkan TSDC menunjukkan bahwa karya berbasis kearifan lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan tren pasar. Pendampingan yang tepat juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran dan menjangkau segmen konsumen yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui berbagai program pemberdayaan, BRI akan terus mendorong UMKM agar dapat berkembang secara berkelanjutan. ***

Terpopuler

Artikel Terbaru