BPS: Inflasi Kalimantan Tengah Juni 2026 Tembus 4,47 Persen  

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Juni 2026 sebesar 4,47 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga.

Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami. Mengatakan secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) Kalimantan Tengah juga mengalami inflasi sebesar 0,23 persen, ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,35 pada Mei menjadi 112,61 pada Juni 2026.

“Kelompok transportasi memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 0,25 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi month-to-month yaitu bensin, bawang merah, minyak goreng, serta ikan patin dan pelumas atau oli mesin,” ujar Maria saat menyampaikan rilis pers di Kantor BPS Provinsi Kalteng, Jalan Kapten Piere Tendean, Palangka Raya, Rabu (1/7/2026).

Menurut Maria, secara tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kalimantan Tengah, yakni sebesar 2,37 persen.

Baca Juga :  Bupati : Alhamdulillah! Inflasi di Kotim Aman dan Terkendali

Komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan antara lain beras, emas perhiasan, bensin, ikan nila, dan minyak goreng. Selain itu, seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Tengah tercatat mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan.

“Fenomena yang memengaruhi inflasi antara lain adanya penyesuaian tarif BBM oleh Pertamina yang terjadi sebanyak dua kali pada bulan Juni 2026,” katanya.

Selain inflasi, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada Juni 2026 sebesar 136,74 atau turun 2,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 139,72.

Electronic money exchangers listing

Maria menjelaskan. Penurunan NTP dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas. Seperti kelapa sawit, ayam ras pedaging, sapi potong, gabah, ketimun, dan kelapa, sementara harga bensin, pupuk NPK, solar, oli, bawang merah, dan bawang putih mengalami kenaikan.

“Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, NTP Kalimantan Tengah pada Juni 2026 masih berada di atas angka 100. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pendapatan yang diterima petani dari hasil pertaniannya masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus dikeluarkan,” lanjutnya

Baca Juga :  BRI Bina UMKM Hijasmita, Scarf Motif Lokal Ini Kini Tembus Pasar Korea

Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Tengah selama Januari–Mei 2026 mencapai 1,43 miliar dolar AS atau naik 3,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan nilai impor mencapai 15,83 juta dolar AS atau meningkat 8,57 persen.

BPS juga mencatat neraca perdagangan Kalimantan Tengah selama Januari–Mei 2026 masih mengalami surplus sebesar 1,47 miliar dolar AS yang ditopang oleh ekspor batu bara, minyak kelapa sawit, kayu olahan, karet remah, dan sejumlah produk hasil hutan lainnya.

“Jepang, India, dan Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor. Sementara Malaysia, Singapura dan Federasi Rusia menjadi negara pemasok impor utama,” tutupnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Juni 2026 sebesar 4,47 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga.

Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami. Mengatakan secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) Kalimantan Tengah juga mengalami inflasi sebesar 0,23 persen, ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,35 pada Mei menjadi 112,61 pada Juni 2026.

“Kelompok transportasi memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 0,25 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi month-to-month yaitu bensin, bawang merah, minyak goreng, serta ikan patin dan pelumas atau oli mesin,” ujar Maria saat menyampaikan rilis pers di Kantor BPS Provinsi Kalteng, Jalan Kapten Piere Tendean, Palangka Raya, Rabu (1/7/2026).

Electronic money exchangers listing

Menurut Maria, secara tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kalimantan Tengah, yakni sebesar 2,37 persen.

Baca Juga :  Bupati : Alhamdulillah! Inflasi di Kotim Aman dan Terkendali

Komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan antara lain beras, emas perhiasan, bensin, ikan nila, dan minyak goreng. Selain itu, seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Tengah tercatat mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan.

“Fenomena yang memengaruhi inflasi antara lain adanya penyesuaian tarif BBM oleh Pertamina yang terjadi sebanyak dua kali pada bulan Juni 2026,” katanya.

Selain inflasi, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada Juni 2026 sebesar 136,74 atau turun 2,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 139,72.

Maria menjelaskan. Penurunan NTP dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas. Seperti kelapa sawit, ayam ras pedaging, sapi potong, gabah, ketimun, dan kelapa, sementara harga bensin, pupuk NPK, solar, oli, bawang merah, dan bawang putih mengalami kenaikan.

“Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, NTP Kalimantan Tengah pada Juni 2026 masih berada di atas angka 100. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pendapatan yang diterima petani dari hasil pertaniannya masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus dikeluarkan,” lanjutnya

Baca Juga :  BRI Bina UMKM Hijasmita, Scarf Motif Lokal Ini Kini Tembus Pasar Korea

Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Tengah selama Januari–Mei 2026 mencapai 1,43 miliar dolar AS atau naik 3,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan nilai impor mencapai 15,83 juta dolar AS atau meningkat 8,57 persen.

BPS juga mencatat neraca perdagangan Kalimantan Tengah selama Januari–Mei 2026 masih mengalami surplus sebesar 1,47 miliar dolar AS yang ditopang oleh ekspor batu bara, minyak kelapa sawit, kayu olahan, karet remah, dan sejumlah produk hasil hutan lainnya.

“Jepang, India, dan Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor. Sementara Malaysia, Singapura dan Federasi Rusia menjadi negara pemasok impor utama,” tutupnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru