PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kegiatan buka puasa bersama menjadi salah satu momen yang paling dinanti guna mempererat silaturahmi di bulan suci Ramadan.
Semangat gotong royong ini terlihat jelas di lingkungan warga setempat, di mana para penduduk dan pemuda masjid (takmir) bersinergi menggelar acara buka bersama yang rutin diadakan setiap hari sepanjang bulan puasa.
Salah satunya Masjid Syaikhuna yang berada di jl. G obos VI, Tradisi yang dilaksanakan di masjid ini selama lima tahun terakhir ini menjadi bukti nyata tingginya partisipasi masyarakat.
Uniknya, seluruh hidangan utama berbuka puasa merupakan hasil sumbangsih langsung dari warga sekitar yang telah diatur secara sistematis.
“Dalam sehari itu ada jadwal untuk lima orang warga. Satu orang membawa 25 kotak nasi. Semuanya bergiliran dan namanya sudah terdaftar sesuai tanggal masing-masing,” ungkap Rama (20) salah seorang Takmir Masjid Syaikhuna, Rabu (25/2/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembiayaan kegiatan ini mengandalkan kolaborasi pendanaan.
Warga secara mandiri menggunakan dana pribadi untuk menyediakan nasi kotak, sementara kas masjid dialokasikan untuk menyediakan hidangan pelengkap seperti sirup dan buah-buahan segar bagi para jamaah.
Kelancaran tradisi harian ini juga tidak lepas dari dedikasi para takmir masjid yang mayoritas merupakan pemuda dari lingkungan sekitar, khususnya dari kawasan G Obos VI, dan G obos VIII.
Setiap harinya, persiapan telah dimulai sejak selepas waktu salat Asar hingga menjelang waktu berbuka.
Para pemuda ini membagi tugas untuk memastikan kenyamanan para jamaah.
Mereka bahu-membahu membersihkan area dalam masjid seperti menyapu dan mengepel, membersihkan halaman dari dedaunan kering, hingga menyusun ratusan nasi kotak agar siap dinikmati bersama saat azan Magrib berkumandang.
“Memang kami kebanyakan dari kompleks sini saja yang dekat dengan masjid. Kalau di luar Ramadan, kegiatan bersih-bersih tetap ada meski tidak sepadat saat bulan puasa,” tambah Rama.
Kehadiran tradisi ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para jamaah, salah satunya Fahrul (21) , mahasiswa perantauan dari Puruk Cahu yang kerap ikut berbuka puasa di masjid tersebut.
Bagi Fahrul, inisiatif warga ini bukan sekadar urusan menahan lapar, melainkan menjadi pengobat rindu pada suasana kekeluargaan di kampung halaman.
​”Sebagai mahasiswa rantau, acara buka bersama yang rutin seperti ini tentu sangat membantu. Selain menghemat pengeluaran anak kos, kebersamaan dan sambutan hangat dari warga serta para takmir di sini membuat saya merasa tidak sendirian, meskipun sedang jauh dari keluarga,” tutur Fahrul usai menyantap hidangan berbuka.
​Sinergi antara warga yang konsisten menyisihkan rezekinya dan para pemuda yang rela meluangkan tenaga ini menjadi wujud nyata indahnya kebersamaan di bulan Ramadan. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga payung kepedulian sosial yang merangkul siapa saja, termasuk mereka yang tengah merantau. (Her)


