Bagi jemaah di Kecamatan Teluk Kepayang, majelis ilmu bukan sekadar ruang belajar agama. Majelis juga menjadi pelipur kerinduan pada mereka yang telah tiada.
****
KIAI Haji Muhammad Ilmi memimpin pengajian rutin di Musala Darul Hikmah. Pengajian ini merupakan yang terakhir sebelum Ramadan. Berlangsung pada Selasa (26/2) malam di Kecamatan Teluk Kepayang. Sekitar 75 Km dari Batulicin, ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu.
Kiai Ilmi termasuk golongan kiai sepuh. Usianya 75 tahun. Pimpinan Pondok Pesantren Al Kautsar Satiung di Kecamatan Kusan Tengah. Penampilannya sederhana: peci, baju koko, dan sarung. Wajahnya yang teduh dihiasi garis-garis halus pertanda usia.
Usai menunaikan salat Magrib, para jemaah mengubah formasi duduk. Membentuk lingkaran. Kiai Ilmi membuka kitab di atas meja majelis. Kitab Sifat 20 karya Habib Usman bin Yahya (1822-1913 M), seorang Mufti Agung Batavia pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Habib Usman adalah murid Sayid Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Makkah. Dari Sayid Ahmad, banyak ulama besar di Nusantara dilahirkan. Seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Kiai Muhammad Sholeh Darat as-Samarangi, Syaikh Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan, dan banyak lagi.
Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab-Melayu. Meski ditulis secara ringkas, kitab ini memuat pokok-pokok ajaran Islam. Disebut ilmu tauhid, mengajarkan tentang keesaan Allah. Di pesantren, Kitab Sifat 20 diajarkan turun-temurun. Kitab ini juga diajarkan dalam majelis-majelis umum untuk dipelajari oleh masyarakat luas.
Malam itu, Kiai Ilmi membahas rukun iman kedua, iman kepada malaikat. Ia menjelaskan 10 malaikat yang wajib diketahui beserta tugas-tugasnya. Kata Kiai Ilmi, malaikat hanya beribadah kepada Allah, tidak bisa makan atau minum.
Kiai Ilmi menjelaskan materinya dengan tenang. Tiba-tiba, suaranya meninggi saat ia melontarkan pertanyaan, “man rabbuka (siapa Tuhanmu, red)?” Pertanyaan ini sontak mengejutkan jemaah yang hadir.
Saat itu, Kiai Ilmi membahas malaikat Munkar dan Nakir yang bertugas menanyai orang-orang yang sudah meninggal di alam kubur. Ia mengatakan, orang yang tidak menjawab akan disiksa.
Dalam salah satu hadis riwayat Tirmidzi, orang mukmin yang benar imannya akan menjawab lancar pertanyaan kedua malaikat tersebut. Sebagai balasan, kuburan mereka lapang dan nyaman.
Sebaliknya, orang munafik akan ragu menjawab, dan kuburan akan menyiksa mereka. Dikatakan, bumi akan menghimpit jenazah mereka sampai tulang rusuknya berserakan. Azab itu selalu dirasakannya sampai hari kiamat. “Malaikat akan bertanya dengan suara menggelegar seperti halilintar dan mulutnya berapi kepada mereka yang tidak punya amal saleh,” ucap Kiai Ilmi.
Darham (52), salah satu jemaah di Teluk Kepayang, merasakan kehilangan ulama setempat, Guru Yohani, yang wafat pada Agustus 2022. Guru Yohani merupakan sosok penting yang mengajarkan berbagai ilmu agama, seperti tauhid, fikih, dan akhlak kepada masyarakat. “Majelis Guru Ilmi baru, rasanya tidak sampai setahun,” katanya.
Darham mengenang, majelis Guru Yohani dulu tidak terlalu ramai. Namun, setelah kepergian sang guru, jemaah merasakan kesunyian dan kekosongan. “Masyarakat menyesal tidak banyak belajar dari guru semasa hidupnya,” ujarnya.
Tergerak oleh situasi ini, Darham dan teman-temannya berinisiatif untuk kembali meramaikan desa dengan mengundang ustaz untuk mengisi majelis. Mereka mengundang ustaz dari Pagatan dan desa lain untuk berbagi ilmu agama kepada masyarakat. Kiai Ilmi salah satunya. Rutin tiap Selasa malam. “Alhamdulillah, sekarang majelis di sini ramai,” tutupnya. (jpg)