Hutan Terbakar Dianggap Biasa, Seniman Bangkitkan Kesadaran Publik

PROKALTENG.CO-Seni dapat menjadi medium kritik untuk menggugah kesadaran publik terhadap krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatra dan Kalimantan.

Melalui karya visual, seniman tidak hanya menggambarkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengingatkan masyarakat tentang ancaman terhadap kesehatan, identitas budaya, dan ruang hidup.

Pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai seni memiliki peran penting dalam mendorong masyarakat melihat persoalan lingkungan secara lebih kritis.

Menurut dia, karya seni dapat mengusik anggapan bahwa kebakaran hutan dan kabut asap merupakan peristiwa biasa yang harus diterima.

“Seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat kritik untuk menggugah kesadaran publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan,” ujar dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Umsura tersebut, Senin (12/10).

Foto Seniman Jambi Soroti Dampak Karhutla

Salah satu karya yang menyoroti krisis karhutla dibuat Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi. Melalui fotografi, dia menggambarkan kondisi masyarakat di tengah kerusakan hutan.

Electronic money exchangers listing

Karya yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, @ichalago, pada Minggu (11/10), menampilkan sejumlah perempuan mengenakan busana adat berwarna merah dan hitam serta masker.

Mereka berdiri dengan latar pepohonan yang menghitam dan sisa-sisa kebakaran.

Baca Juga :  Pameran Seni Arto.id di Palangka Raya: Tampilkan Karya Orisinal Seniman Kalimantan

Kontras antara busana adat dan hutan yang hangus menghadirkan pesan kuat mengenai ancaman krisis lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.

Busana adat merepresentasikan identitas budaya, sedangkan masker menggambarkan ancaman kesehatan akibat pencemaran udara.

Latar hutan yang terbakar mempertegas bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan ekosistem.

Bencana tersebut juga mengancam kesehatan masyarakat dan keberlangsungan ruang hidup mereka.

Radius menjelaskan, dalam perspektif cultural studies atau kajian budaya, kebudayaan bukan sekadar tradisi yang dirayakan.

Kebudayaan juga menjadi ruang untuk mempertemukan, mempertanyakan, dan mempertentangkan berbagai pandangan serta makna.

Melalui simbol, gambar, dan pertunjukan, seni dapat menghadirkan sudut pandang berbeda terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat.

Seni juga bisa mengkritik cara pandang yang membuat kerusakan lingkungan seolah-olah menjadi hal lumrah.

Seni Lawan Normalisasi Bencana

Radius mengingatkan bahwa salah satu tantangan dalam menghadapi karhutla adalah kecenderungan masyarakat menormalisasi bencana yang terjadi berulang kali.

Kebakaran hutan dari tahun ke tahun berisiko dianggap sebagai peristiwa rutin. Begitu pula kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan perlahan dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.

Padahal, karhutla berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, termasuk kerusakan ekosistem dan tata kelola lingkungan.

Baca Juga :  Pameran Tunggal Oky Rey Montha: Mengarungi Kembali 15 Tahun Perjalanan Artistik

Karena itu, masyarakat perlu diajak memahami dampaknya secara kritis sekaligus mempertanyakan tanggung jawab dan langkah pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang.

Menurut Radius, kekuatan seni tidak hanya terletak pada kemampuannya menggambarkan kenyataan.

Karya seni juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dan merespons persoalan di sekitarnya.

“Bahaya terbesar bukan hanya ketika hutan terbakar, tetapi ketika kita mulai menganggapnya biasa.

Seni dapat menginterupsi kewajaran itu dan mengingatkan publik bahwa ada persoalan yang harus diselesaikan,” tegasnya.

Dia menambahkan, kritik melalui seni penting untuk menjaga kepekaan masyarakat terhadap krisis lingkungan.

Karya seni dapat membuka ruang refleksi mengenai tanggung jawab bersama, kebijakan lingkungan, dan keberlanjutan ruang hidup.

Di tengah ancaman karhutla dan kabut asap di Sumatra dan Kalimantan, seni menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan hutan yang hangus. Kesehatan masyarakat, identitas budaya, dan masa depan kehidupan turut dipertaruhkan.

“Dalam konteks krisis lingkungan, seni dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering terjadi bukan berarti sesuatu yang seharusnya diterima,” pungkas Radius. (sam/jpg)

PROKALTENG.CO-Seni dapat menjadi medium kritik untuk menggugah kesadaran publik terhadap krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatra dan Kalimantan.

Melalui karya visual, seniman tidak hanya menggambarkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengingatkan masyarakat tentang ancaman terhadap kesehatan, identitas budaya, dan ruang hidup.

Pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai seni memiliki peran penting dalam mendorong masyarakat melihat persoalan lingkungan secara lebih kritis.

Electronic money exchangers listing

Menurut dia, karya seni dapat mengusik anggapan bahwa kebakaran hutan dan kabut asap merupakan peristiwa biasa yang harus diterima.

“Seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat kritik untuk menggugah kesadaran publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan,” ujar dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Umsura tersebut, Senin (12/10).

Foto Seniman Jambi Soroti Dampak Karhutla

Salah satu karya yang menyoroti krisis karhutla dibuat Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi. Melalui fotografi, dia menggambarkan kondisi masyarakat di tengah kerusakan hutan.

Karya yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, @ichalago, pada Minggu (11/10), menampilkan sejumlah perempuan mengenakan busana adat berwarna merah dan hitam serta masker.

Mereka berdiri dengan latar pepohonan yang menghitam dan sisa-sisa kebakaran.

Baca Juga :  Pameran Seni Arto.id di Palangka Raya: Tampilkan Karya Orisinal Seniman Kalimantan

Kontras antara busana adat dan hutan yang hangus menghadirkan pesan kuat mengenai ancaman krisis lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.

Busana adat merepresentasikan identitas budaya, sedangkan masker menggambarkan ancaman kesehatan akibat pencemaran udara.

Latar hutan yang terbakar mempertegas bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan ekosistem.

Bencana tersebut juga mengancam kesehatan masyarakat dan keberlangsungan ruang hidup mereka.

Radius menjelaskan, dalam perspektif cultural studies atau kajian budaya, kebudayaan bukan sekadar tradisi yang dirayakan.

Kebudayaan juga menjadi ruang untuk mempertemukan, mempertanyakan, dan mempertentangkan berbagai pandangan serta makna.

Melalui simbol, gambar, dan pertunjukan, seni dapat menghadirkan sudut pandang berbeda terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat.

Seni juga bisa mengkritik cara pandang yang membuat kerusakan lingkungan seolah-olah menjadi hal lumrah.

Seni Lawan Normalisasi Bencana

Radius mengingatkan bahwa salah satu tantangan dalam menghadapi karhutla adalah kecenderungan masyarakat menormalisasi bencana yang terjadi berulang kali.

Kebakaran hutan dari tahun ke tahun berisiko dianggap sebagai peristiwa rutin. Begitu pula kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan perlahan dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.

Padahal, karhutla berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, termasuk kerusakan ekosistem dan tata kelola lingkungan.

Baca Juga :  Pameran Tunggal Oky Rey Montha: Mengarungi Kembali 15 Tahun Perjalanan Artistik

Karena itu, masyarakat perlu diajak memahami dampaknya secara kritis sekaligus mempertanyakan tanggung jawab dan langkah pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang.

Menurut Radius, kekuatan seni tidak hanya terletak pada kemampuannya menggambarkan kenyataan.

Karya seni juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dan merespons persoalan di sekitarnya.

“Bahaya terbesar bukan hanya ketika hutan terbakar, tetapi ketika kita mulai menganggapnya biasa.

Seni dapat menginterupsi kewajaran itu dan mengingatkan publik bahwa ada persoalan yang harus diselesaikan,” tegasnya.

Dia menambahkan, kritik melalui seni penting untuk menjaga kepekaan masyarakat terhadap krisis lingkungan.

Karya seni dapat membuka ruang refleksi mengenai tanggung jawab bersama, kebijakan lingkungan, dan keberlanjutan ruang hidup.

Di tengah ancaman karhutla dan kabut asap di Sumatra dan Kalimantan, seni menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan hutan yang hangus. Kesehatan masyarakat, identitas budaya, dan masa depan kehidupan turut dipertaruhkan.

“Dalam konteks krisis lingkungan, seni dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering terjadi bukan berarti sesuatu yang seharusnya diterima,” pungkas Radius. (sam/jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru