25.6 C
Jakarta
Sunday, April 6, 2025

12 Koleksi Bateeq Ajak Fashionista Kenali Indahnya Budaya Suku Tengger

Rindu
traveling atau wisata keliling Indonesia memang sedikit terbatas karena adanya pandemi
Covid-19. Namun label Bateeq mengajak pencinta fashion untuk jalan-jalan
mengenal budaya suku Tengger, Jawa Timur, lewat koleksinya di Jakarta Fashion
Week 2021.

Pada
Kamis (26/11), Bateeq mempersembahkan 12 tampilan siap pakai dari koleksi
berjudul ‘Kasada’ untuk koleksi musim gugur/musim dingin 2020 dalam kolaborasi
Fashionlink x BLCKVNUE. Inspirasi datang dari Upacara Yadnya Kasada (atau
Kesodo) yang dilakukan oleh suku Tengger orang jawa timur. Ritual tahunan
tersebut berlangsung di lereng Gunung Bromo, tempat sesaji dibuat untuk
bersyukur kepada para dewa.

Pertunjukan
tersebut menyoroti Ambawani yakni motif asli yang terinspirasi dari batik
tambal, dan kombinasi batik tradisional kawung, parang, dan truntum. Dalam
Bahasa Indonesia, ‘tambal’ berarti ‘tambalan’ mewakili menyusun atau
memperbaiki hal-hal yang rusak.

Baca Juga :  Kate Middleton Mirip Peneliti Sungguhan saat Pakai Jas Laboratorium

 â€œIdenya adalah bahwa dalam perjalanan hidup
seseorang, manusia harus selalu melihat dirinya yang lebih baik, lahir dan
batin. Dulu, orang yang sakit akan menutupi dirinya dengan kain batik tambal,
seperti yang diyakini sifat penyembuhan,” kata Bateeq dalam pernyataan
tertulisnya.

Musim
ini Bateeq menampilkan palet warna gelap keseluruhan. Berpusat di sekitar satu
nada tebal yakni nada hitam, biru, abu-abu, zaitun, putih pudar, dan kuning
menandakan musim gugur yang cerah.

Hebatnya
lagi Bateeq menggunakan konsep sustainable fashion atau berkelanjutan melalui
penggunaan bahan ramah lingkungan. Salah satunya serat semi-sintetik biodegradable
Bemberg dan Tencel.

“Kami
terus mengambil kapas dari Better Cotton Initiative (BCI), grup tata kelola
nirlaba yang mempromosikan kapas berkelanjutan,” ungkap Bateeq.

Baca Juga :  Mankoraya Ekspolrasi Kemampuan Siswa

Tenun
Lurik, kain tradisional bergaris-garis yang berasal dari Jawa juga dikembangkan
menggunakan limbah kapas daur ulang dari pabrik produksi kami. Untuk musim
ketiga berturut-turut, Bateeq bekerja sama dengan komunitas skala kecil bisnis,
sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk melestarikan warisan dan
mempraktikkan etika merek nilai-nilai.

“Kami
bekerja sama dengan home industri di Klaten yang mempekerjakan lansia untuk
menenun. Tenun lurik menggunakan alat tenun bukan mesin,” ungkap Bateeq.

Koleksi
Bateeq terdiri dari cross sling bag, headpieces, dan scarf. Kasada dibangun di
atas gaya pakaian dari budaya Tengger, dengan sentuhan dan sentuhan pakaian
sehari-hari.

Rindu
traveling atau wisata keliling Indonesia memang sedikit terbatas karena adanya pandemi
Covid-19. Namun label Bateeq mengajak pencinta fashion untuk jalan-jalan
mengenal budaya suku Tengger, Jawa Timur, lewat koleksinya di Jakarta Fashion
Week 2021.

Pada
Kamis (26/11), Bateeq mempersembahkan 12 tampilan siap pakai dari koleksi
berjudul ‘Kasada’ untuk koleksi musim gugur/musim dingin 2020 dalam kolaborasi
Fashionlink x BLCKVNUE. Inspirasi datang dari Upacara Yadnya Kasada (atau
Kesodo) yang dilakukan oleh suku Tengger orang jawa timur. Ritual tahunan
tersebut berlangsung di lereng Gunung Bromo, tempat sesaji dibuat untuk
bersyukur kepada para dewa.

Pertunjukan
tersebut menyoroti Ambawani yakni motif asli yang terinspirasi dari batik
tambal, dan kombinasi batik tradisional kawung, parang, dan truntum. Dalam
Bahasa Indonesia, ‘tambal’ berarti ‘tambalan’ mewakili menyusun atau
memperbaiki hal-hal yang rusak.

Baca Juga :  Kate Middleton Mirip Peneliti Sungguhan saat Pakai Jas Laboratorium

 â€œIdenya adalah bahwa dalam perjalanan hidup
seseorang, manusia harus selalu melihat dirinya yang lebih baik, lahir dan
batin. Dulu, orang yang sakit akan menutupi dirinya dengan kain batik tambal,
seperti yang diyakini sifat penyembuhan,” kata Bateeq dalam pernyataan
tertulisnya.

Musim
ini Bateeq menampilkan palet warna gelap keseluruhan. Berpusat di sekitar satu
nada tebal yakni nada hitam, biru, abu-abu, zaitun, putih pudar, dan kuning
menandakan musim gugur yang cerah.

Hebatnya
lagi Bateeq menggunakan konsep sustainable fashion atau berkelanjutan melalui
penggunaan bahan ramah lingkungan. Salah satunya serat semi-sintetik biodegradable
Bemberg dan Tencel.

“Kami
terus mengambil kapas dari Better Cotton Initiative (BCI), grup tata kelola
nirlaba yang mempromosikan kapas berkelanjutan,” ungkap Bateeq.

Baca Juga :  Mankoraya Ekspolrasi Kemampuan Siswa

Tenun
Lurik, kain tradisional bergaris-garis yang berasal dari Jawa juga dikembangkan
menggunakan limbah kapas daur ulang dari pabrik produksi kami. Untuk musim
ketiga berturut-turut, Bateeq bekerja sama dengan komunitas skala kecil bisnis,
sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk melestarikan warisan dan
mempraktikkan etika merek nilai-nilai.

“Kami
bekerja sama dengan home industri di Klaten yang mempekerjakan lansia untuk
menenun. Tenun lurik menggunakan alat tenun bukan mesin,” ungkap Bateeq.

Koleksi
Bateeq terdiri dari cross sling bag, headpieces, dan scarf. Kasada dibangun di
atas gaya pakaian dari budaya Tengger, dengan sentuhan dan sentuhan pakaian
sehari-hari.

Terpopuler

Artikel Terbaru