Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga, ada tangan-tangan yang bekerja dengan penuh ketelitian untuk memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dunia. Salah satunya adalah Aida, seorang perias jenazah di Palangka Raya.
————————
PROFESI yang dijalaninya bukan pekerjaan biasa. Dibutuhkan ketelitian, keterampilan, sekaligus kesiapan mental ketika merias seseorang yang telah meninggal dunia.
Baginya, pekerjaan tersebut bukan hanya soal penghasilan. Ada tanggung jawab yang lebih besar di baliknya, yakni menghidupi anak seorang diri dan memastikan pendidikan sang anak tetap berjalan hingga lulus sekolah.
Dia mengaku, penghasilan dari jasa merias jenazah cukup menjanjikan. Untuk sekali merias, tarifnya rata-rata berada di atas 700 ribu. Sementara untuk pelayanan memandikan jenazah, tarifnya berbeda.
“Rata-rata di atas 700 ribu untuk merias. Kalau memandikan beda lagi,” ujar Aida.
Menurutnya, perbedaan tarif tersebut bukan semata karena tenaga yang dikeluarkan. Merias jenazah membutuhkan keterampilan khusus agar hasilnya sesuai dengan harapan keluarga.
“Kalau memandikan butuh tenaga. Kalau merias itu butuh skill. Tidak semua orang suka dengan riasan kita,” jelasnya.
Dalam sehari, Aida bahkan pernah menangani hingga lima jenazah. Jumlah tersebut menjadi pengalaman tersendiri dalam menjalani pekerjaan yang tidak semua orang sanggup melakukannya.
Untuk satu jenazah, proses rias biasanya dapat diselesaikan sekitar 30 menit apabila kondisinya tidak terlalu sulit.
“Kalau tidak sulit, 30 menit selesai. Paling lama 30 menit,” katanya.
Aida menjelaskan, bagian yang paling utama dalam proses tersebut adalah wajah. Namun, riasan juga disesuaikan dengan pakaian yang dikenakan jenazah.
Jika terdapat bagian tubuh yang terbuka, ia akan menyesuaikan warna riasan agar terlihat lebih merata dan tetap pantas saat jenazah akan diserahkan kepada keluarga.
Di balik aktivitas tersebut, tersimpan cerita perjuangan Aida sebagai seorang ibu. Ia mengandalkan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai anaknya.
Menjalani semuanya seorang diri tentu bukan perkara mudah. Namun, kebutuhan anak dan keinginan agar sang anak dapat menyelesaikan pendidikan menjadi alasan Aida untuk terus bertahan.
Baginya, setiap jenazah yang dirias bukan sekadar pekerjaan yang menghasilkan uang. Ada amanah yang harus dijalankan dengan sebaik mungkin, sekaligus menjadi bagian dari perjuangannya membangun masa depan keluarga.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tersebut ia sisihkan untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak.
Dia berharap perjuangannya dapat membawa anaknya menyelesaikan pendidikan hingga lulus sekolah. Di balik profesi yang mungkin bagi sebagian orang dianggap berat tersebut, Aida menemukan cara untuk terus berdiri dan menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Baginya, bekerja di tengah suasana duka bukan berarti tanpa harapan. Justru dari pekerjaan itulah, ia berusaha memastikan masa depan anaknya tetap memiliki jalan.(mg2)


