PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Di tengah duka mendalam setelah kehilangan dua buah hatinya yang masih balita dalam kebakaran di Jalan Mendawai I, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Krismon Aditya (28) atau yang akrab disapa Emon, masih berusaha menyambut orang-orang yang datang ke posko pengungsian.
Saat ditemui wartawan di rumah warga yang dijadikan posko, tepat di seberang lokasi kebakaran, Kamis (13/8/2026), kondisi Emon terlihat sangat lelah.
Kantung matanya tampak membengkak. Ia mengaku hanya tidur kurang dari satu jam pada malam sebelumnya. Hari ini, Emon bahkan harus bolak-balik antara rumah sakit dan posko untuk memantau kondisi keluarganya.
Namun, di tengah kondisi tersebut, Emon masih menunjukkan kebiasaan yang melekat pada dirinya. Ia datang menghampiri wartawan sambil menawarkan kopi.
“Kopi kah?” tanyanya.
Emon dikenal sebagai sosok yang ringan tangan dan suka bercanda. Bahkan dalam kondisi berduka, sesekali ia masih sempat melontarkan candaan. Namun, setiap kali pembicaraan mengarah kepada peristiwa yang merenggut dua anaknya, ekspresinya pun berubah.
Ia menghela napas panjang, kemudian terdiam. Kepalanya tertunduk dan tangannya memegang jidat. Beberapa kali ia mencoba melanjutkan cerita, tetapi kembali terdiam seolah kehabisan tenaga.
“Belum makan. Tadi malam tidur kurang dari satu jam,” ujarnya.
Emon mengaku kondisi kurang tidur membuat dirinya sulit berkonsentrasi ketika berbicara dengan orang lain.
“Kurang tidur. Saya tidak nyambung kalau ngomong sama orang. Kondisi seperti ini,” katanya.
Ia bahkan mengaku tidak sanggup ketika harus kembali menceritakan kejadian tersebut.
“Tidak sanggup saya. Orang bercerita, aku menjauh,” ucapnya lirih.
Sebagai seorang ayah dari tujuh anak, Emon mengaku masih sulit menggambarkan perasaannya setelah kehilangan dua balita dalam kebakaran tersebut.
Ia mengenang bagaimana dirinya mengetahui kebakaran saat sedang bekerja di kawasan Mendawai VI. Dari tempat kerja, ia melihat asap mengepul dari arah rumahnya.
“Perasaan seorang bapak, aku lagi kerja di Mendawai VI. Asap kelihatan dari tempat kerja, dapat kabar langsung ke sini,” tuturnya.
Begitu tiba di lokasi, yang ada dalam pikirannya hanya anak-anaknya. “Anak-anakku… anak-anakku,” teriaknya saat itu.
Saat ini, perhatian Emon juga tertuju kepada anaknya yang berusia 14 tahun yang masih menjalani perawatan. Ia mengatakan anaknya telah menjalani operasi di RSUD Doris Sylvanus.
Namun, ia mengaku bersyukur seluruh biaya pengobatan keluarganya mendapat bantuan dari Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran.
“Gratis semuanya, biaya dari gubernur. Dari penguburan kemarin dan perawatan,” ujarnya.
Di tengah kondisi yang belum pulih, Emon juga belum mengetahui akan tinggal di mana setelah posko nantinya tidak lagi digunakan. Untuk sementara, ia dan keluarganya tinggal di rumah keluarga.
“Belum tahu tinggal di mana. Tinggal tempat keluarga dulu, nanti cari barak,” katanya.
Sementara itu, salah seorang tetangga Emon, Arat, mengenang Emon sebagai sosok yang ringan tangan dan dekat dengan anak-anak. Menurutnya, kedekatan Emon dengan anak-anak tidak hanya terlihat dalam keseharian, tetapi juga dengan anak tirinya yang menganggap Emon seperti ayah kandung sendiri.
“Dia ringan tangan. Sosok yang sangat dekat dengan anak-anak. Bahkan anak tirinya menganggap dia seperti ayah kandung,” ungkap Arat.
Di posko yang berada tepat di seberang lokasi kebakaran, bantuan dari masyarakat terus berdatangan. Bantuan tersebut berupa pakaian layak pakai hingga bantuan uang untuk membantu keluarga Emon dan korban lainnya melewati masa sulit setelah kehilangan tempat tinggal dan dua buah hati.
Di tengah lalu-lalang bantuan dan orang-orang yang datang memberikan dukungan, Emon masih berusaha bertahan. Sesekali ia menawarkan kopi kepada orang yang ditemuinya, meski dirinya sendiri belum sempat makan dan hanya tidur kurang dari satu jam.
Duka itu terlihat jelas dari wajahnya. Setiap kali mencoba bercerita tentang anak-anaknya, Emon kembali menundukkan kepala dan memegang jidat. Seolah ada kesedihan yang terlalu berat untuk diucapkan. (jef)


