PROKALTENG.CO – Semangat saling berbagi dan membangun persaudaraan antardaerah mewarnai kunjungan kerja kaji tiru Pemerintah Kabupaten Barito Utara ke Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Selasa (5/8/2026). Rombongan yang dipimpin langsung Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin itu, disambut hangat oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, beserta jajaran di wilayah Bumi Handayani itu.
Tak sendirian, Shalahuddin didampingi Wakil Bupati Felix Soenadi Y. Tingan, Sekretaris Daerah Muhlis, para kepala SKPD, tokoh agama, serta undangan terkait. Kehadiran perwakilan tokoh agama dalam setiap kunjungan kerja menjadi ciri khas yang disoroti langsung oleh Bupati Endah.
Dalam sambutannya, Bupati Shalahuddin menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya atas sambutan penuh kehangatan. Ia menegaskan, kaji tiru ini bukan sekadar meniru seutuhnya, melainkan pintu masuk memperoleh wawasan, pengalaman, serta pembelajaran kebijakan dan inovasi yang nantinya akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di Barito Utara.
“Hasil kaji tiru ini tidak semata-mata untuk meniru secara utuh, melainkan menjadi bahan pembelajaran yang akan kami sesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan kemampuan Pemerintah Kabupaten Barito Utara,” tegas Shalahuddin.
Bupati Endah pun menyambut baik kedatangan rombongan. Ia menyoroti keunikan rombongan Barito Utara yang selalu didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat dalam setiap kunjungan kerja. Yakni sebuah bentuk sinergi antara pemerintah dan tokoh agama yang patut diapresiasi.
Pada kesempatan itu, Endah memaparkan sejumlah kebijakan khas Gunungkidul yang menyentuh langsung perekonomian rakyat sekaligus pelestarian lingkungan. Salah satunya, larangan penyajian makanan dan minuman berbahan gandum dalam kegiatan resmi kedinasan. Sebagai gantinya, seluruh jamuan memprioritaskan hasil pertanian lokal. Mulai dari olahan singkong, ubi, jagung, porang, kacang, hingga hasil laut.
Tidak hanya itu, buah-buahan impor pun tak lagi hadir dalam jamuan resmi. Semuanya digantikan buah lokal hasil tani warga, seperti pisang raja, sawo, dan jambu. Bahkan karangan bunga berbahan styrofoam pun diganti dengan tanaman hidup atau sayur-sayuran. Ini bukti nyata komitmen menjaga kelestarian lingkungan dari hal-hal kecil.
“Kebijakan sederhana ini ternyata berdampak besar. Selain melestarikan lingkungan, langkah ini juga ikut mengangkat harga dan pasar hasil tani warga sendiri. Semua kembali kepada rakyat dan bumi kita,” ujar Endah.
Melalui pertemuan strategis ini, kedua pemerintah daerah sepakat untuk saling bertukar pengalaman di berbagai sektor penting. Mulai dari pengelolaan infrastruktur, pengawasan berbasis digital, pemberdayaan UMKM, tata kelola pendidikan, hingga strategi penanggulangan kemiskinan ekstrem dan percepatan penurunan angka stunting.
Kunjungan kaji tiru ini diharapkan tak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga melahirkan terobosan-terobosan baru. Inovasi yang kelak berorientasi nyata pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, baik di Barito Utara maupun di Gunungkidul. (*)


