SAMPIT, PROKALTENG.CO– Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan. Produksi telur ayam ras dari peternak lokal hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut membuat pasokan telur di Kotim masih bergantung pada daerah lain.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, mengatakan populasi ayam petelur di Kalimantan Tengah masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Saat ini, total populasi ayam petelur di provinsi tersebut diperkirakan hanya sekitar 500 ribu ekor, sementara satu distributor besar saja dapat memiliki hingga dua juta ekor ayam petelur.
“Artinya, jika hanya mengandalkan produksi lokal, kebutuhan telur masyarakat belum bisa terpenuhi. Karena itu pasokan dari luar daerah masih menjadi penopang utama,” ujar Irawati, Senin (29/6).
Meski demikian, Pemkab Kotim berkomitmen menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan stabilitas harga, agar tetap terjangkau masyarakat tanpa merugikan peternak lokal. Langkah ini juga dinilai penting untuk menekan potensi inflasi daerah.
Sebelumnya, Irawati bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim melakukan peninjauan ke sejumlah distributor dan agen telur ayam di Sampit.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas aspirasi Aliansi Peternak Ayam Petelur Lokal Kotim yang mengeluhkan anjloknya harga telur di tingkat peternak.
Menurut Irawati, penurunan harga telur tidak hanya terjadi di Kotim, tetapi juga melanda berbagai daerah di Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap mengacu pada Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Untuk wilayah Pulau Jawa, HAP telur ayam ras berada pada kisaran Rp26.500 hingga Rp30.000 per kilogram. Sementara penerapan harga di Kalimantan Tengah nantinya akan disesuaikan dengan kondisi daerah serta kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. (bah/ans/kpg)


