Harga Kelapa Sawit Anjlok, Wabup Minta Pemprov Turun Tangan Mencari Solusi  

SAMPIT, PROKALTENG.CO – Anjloknya harga kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memukul perekonomian masyarakat.

Kondisi itu membuat Wakil Bupati Kotim, Irawati, meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah segera turun tangan mencari solusi, agar harga tandan buah segar (TBS) sawit kembali stabil.

Permintaan tersebut disampaikan Irawati usai memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Kalimantan Tengah di halaman Kantor Bupati Kotim, Sabtu (23/5).

Menurut dia, penurunan harga sawit dalam beberapa hari terakhir sangat dirasakan petani kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit.

“Turunnya harga sawit ini sangat dirasakan masyarakat. Banyak petani kecil yang mengeluh karena pendapatan mereka ikut merosot. Kami berharap persoalan ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi,” ujar Irawati.

Ia menilai, stabilitas harga sawit harus menjadi perhatian bersama karena komoditas tersebut merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Kotim. Karena itu, pemerintah daerah berharap Gubernur Kalimantan Tengah dapat menyampaikan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat.

Irawati menyebut, kebijakan tata kelola sawit melalui sistem satu pintu di bawah BUMN Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diduga turut berdampak terhadap penurunan harga di tingkat petani.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Alhamdulillah, Bupati Letakkan Batu Pertama Pembangunan Musala Al-Ikhlas

“Bagaimana masyarakat bisa sejahtera kalau petaninya justru terpuruk. Karena itu kami berharap gubernur turut memperjuangkan nasib petani sawit di daerah,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, laporan penurunan harga sawit mulai ramai diterima setelah pidato Presiden RI pada 20 Mei 2026 terkait kebijakan baru ekspor sawit. Dampaknya, harga sawit di tingkat pengepul turun drastis.

Di wilayah Pulau Hanaut, harga sawit bahkan disebut hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp1.700 per kilogram. Padahal sebelum nya harga masih berada di kisaran Rp2.800 sampai Rp3.000 per kilogram.

“Kondisi ini tentu sangat memberatkan petani, apalagi harga pupuk terus naik. Bahkan ada pengepul yang membeli sawit hanya Rp1.000 per kilogram,” katanya.

Irawati khawatir apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, komoditas sawit akan mengalami nasib serupa dengan usaha sarang burung walet, rotan, maupun karet yang pernah mengalami penurunan harga berkepanjangan.

“Jangan sampai sawit bernasib sama seperti walet, rotan, dan karet yang akhirnya melemah setelah tata niaganya berubah. Petani harus benar-benar diperhatikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Diklat Pemberdayaan Masyarakat Penting untuk Meningkatkan Kualitas Hidup dan Kemandirian Masyarakat

Selain harga yang anjlok, ia juga menyoroti adanya syarat tambahan dari sejumlah perusahaan pembeli sawit yang kini meminta kejelasan asal-usul buah sawit sebelum menerima hasil panen masyarakat.

Petani maupun pengepul diminta menunjukkan informasi terkait asal kebun dan legalitas buah sawit guna memastikan hasil panen bukan berasal dari kebun ilegal atau praktik pencurian.

“Sekarang penjual diminta menjelaskan buah itu berasal dari kebun siapa dan dibeli dari mana,” ucapnya.

Meski belum mengetahui pasti penyebab utama merosotnya harga sawit, Irawati berharap persoalan tersebut segera mendapat solusi agar tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat Kotim.

Ia mengungkapkan, laporan penurunan harga sawit mulai ramai diterima setelah pidato Presiden RI pada 20 Mei 2026 terkait kebijakan baru ekspor sawit.

“Kalau harga sawit terus turun, daya beli masyarakat ikut menurun. Petani juga akan kesulitan membeli pupuk dan memenuhi kebutuhan operasional kebun,” tandasnya. (bah/kpg)

SAMPIT, PROKALTENG.CO – Anjloknya harga kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memukul perekonomian masyarakat.

Kondisi itu membuat Wakil Bupati Kotim, Irawati, meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah segera turun tangan mencari solusi, agar harga tandan buah segar (TBS) sawit kembali stabil.

Permintaan tersebut disampaikan Irawati usai memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Kalimantan Tengah di halaman Kantor Bupati Kotim, Sabtu (23/5).

Electronic money exchangers listing

Menurut dia, penurunan harga sawit dalam beberapa hari terakhir sangat dirasakan petani kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit.

“Turunnya harga sawit ini sangat dirasakan masyarakat. Banyak petani kecil yang mengeluh karena pendapatan mereka ikut merosot. Kami berharap persoalan ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi,” ujar Irawati.

Ia menilai, stabilitas harga sawit harus menjadi perhatian bersama karena komoditas tersebut merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Kotim. Karena itu, pemerintah daerah berharap Gubernur Kalimantan Tengah dapat menyampaikan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat.

Irawati menyebut, kebijakan tata kelola sawit melalui sistem satu pintu di bawah BUMN Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diduga turut berdampak terhadap penurunan harga di tingkat petani.

Baca Juga :  Alhamdulillah, Bupati Letakkan Batu Pertama Pembangunan Musala Al-Ikhlas

“Bagaimana masyarakat bisa sejahtera kalau petaninya justru terpuruk. Karena itu kami berharap gubernur turut memperjuangkan nasib petani sawit di daerah,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, laporan penurunan harga sawit mulai ramai diterima setelah pidato Presiden RI pada 20 Mei 2026 terkait kebijakan baru ekspor sawit. Dampaknya, harga sawit di tingkat pengepul turun drastis.

Di wilayah Pulau Hanaut, harga sawit bahkan disebut hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp1.700 per kilogram. Padahal sebelum nya harga masih berada di kisaran Rp2.800 sampai Rp3.000 per kilogram.

“Kondisi ini tentu sangat memberatkan petani, apalagi harga pupuk terus naik. Bahkan ada pengepul yang membeli sawit hanya Rp1.000 per kilogram,” katanya.

Irawati khawatir apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, komoditas sawit akan mengalami nasib serupa dengan usaha sarang burung walet, rotan, maupun karet yang pernah mengalami penurunan harga berkepanjangan.

“Jangan sampai sawit bernasib sama seperti walet, rotan, dan karet yang akhirnya melemah setelah tata niaganya berubah. Petani harus benar-benar diperhatikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Diklat Pemberdayaan Masyarakat Penting untuk Meningkatkan Kualitas Hidup dan Kemandirian Masyarakat

Selain harga yang anjlok, ia juga menyoroti adanya syarat tambahan dari sejumlah perusahaan pembeli sawit yang kini meminta kejelasan asal-usul buah sawit sebelum menerima hasil panen masyarakat.

Petani maupun pengepul diminta menunjukkan informasi terkait asal kebun dan legalitas buah sawit guna memastikan hasil panen bukan berasal dari kebun ilegal atau praktik pencurian.

“Sekarang penjual diminta menjelaskan buah itu berasal dari kebun siapa dan dibeli dari mana,” ucapnya.

Meski belum mengetahui pasti penyebab utama merosotnya harga sawit, Irawati berharap persoalan tersebut segera mendapat solusi agar tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat Kotim.

Ia mengungkapkan, laporan penurunan harga sawit mulai ramai diterima setelah pidato Presiden RI pada 20 Mei 2026 terkait kebijakan baru ekspor sawit.

“Kalau harga sawit terus turun, daya beli masyarakat ikut menurun. Petani juga akan kesulitan membeli pupuk dan memenuhi kebutuhan operasional kebun,” tandasnya. (bah/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru