FBIM 2026: Mangaruhi Jadi Sarana Pelestarian Budaya Menangkap Ikan secara Tradisional

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Lomba keterampilan tradisional Mangaruhi kembali digelar dalam rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026. Keseruan pelaksanaan lomba ini di kawasan Stadion Tuah Pahoe, Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya, sebagai upaya memperkenalkan kembali budaya tradisional masyarakat Dayak kepada generasi muda.

“Mangaruhi itu kegiatannya setiap tahun untuk mengenalkan budaya atau memperkenalkan permainan tradisional. Jarang anak-anak zaman sekarang mengetahui apa itu mangaruhi. Jadi kami memperkenalkan kebudayaan yang dianggap mulai hilang,” kata Koordinator Lomba Keterampilan Tradisional Mangaruhi, Lilik Margiatsih di kawasan Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya, Jumat (22/5/2026).

Mangaruhi ini merupakan teknik menangkap ikan tradisional menggunakan tangan kosong di kolam berlumpur. Dalam praktiknya, peserta harus mengaduk-aduk lumpur kolam hingga air menjadi keruh agar ikan yang berada di dasar kolam muncul ke permukaan dan lebih mudah ditangkap.

Baca Juga :  Lomba Manyipet FBIM 2023 Minus Peserta dari Kabupaten Seruyan

“Harapannya ke depan kegiatan mangaruhi ini terus berkelanjutan, lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Semoga penonton tidak terlalu dekat dengan kolam karena kadang ada hal-hal yang tidak diinginkan. Tadi ada sedikit kekurangan, tapi mudah-mudahan ke depannya lebih baik,” ujarnya.

Lilik menjelaskan, mangaruhi memiliki filosofi tersendiri dalam masyarakat Dayak. Yakni proses mengeruhkan air terlebih dahulu sebelum melakukan penangkapan ikan. Istilah mangaruhi berasal dari kata karuh yang merujuk pada kondisi air yang dibuat keruh.

“Airnya itu sebenarnya dikaruh dulu, baru dimasukkan ikannya. Untuk penangkapan ikan itu mengaruh dulu, baru pesertanya terjun,” katanya.

Pada pelaksanaan tahun ini, lomba mangaruhi diikuti 12 kabupaten untuk kategori putra dan putri. Sementara dua daerah yakni Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Gunung Mas tidak berpartisipasi. Selain itu, terdapat kategori ekshibisi yang diikuti organisasi perangkat daerah (OPD) dengan total 14 peserta.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Agustiar Sabran: Hari Jadi ke-69 Kalteng Jadi Momentum Dorong Ekonomi Daerah

“Untuk aturan lombanya, setiap pemain diberi waktu 10 menit, dibagi lima menit di bagian atas dan lima menit di bagian bawah,”ujar Lilik. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Lomba keterampilan tradisional Mangaruhi kembali digelar dalam rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026. Keseruan pelaksanaan lomba ini di kawasan Stadion Tuah Pahoe, Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya, sebagai upaya memperkenalkan kembali budaya tradisional masyarakat Dayak kepada generasi muda.

“Mangaruhi itu kegiatannya setiap tahun untuk mengenalkan budaya atau memperkenalkan permainan tradisional. Jarang anak-anak zaman sekarang mengetahui apa itu mangaruhi. Jadi kami memperkenalkan kebudayaan yang dianggap mulai hilang,” kata Koordinator Lomba Keterampilan Tradisional Mangaruhi, Lilik Margiatsih di kawasan Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya, Jumat (22/5/2026).

Mangaruhi ini merupakan teknik menangkap ikan tradisional menggunakan tangan kosong di kolam berlumpur. Dalam praktiknya, peserta harus mengaduk-aduk lumpur kolam hingga air menjadi keruh agar ikan yang berada di dasar kolam muncul ke permukaan dan lebih mudah ditangkap.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Lomba Manyipet FBIM 2023 Minus Peserta dari Kabupaten Seruyan

“Harapannya ke depan kegiatan mangaruhi ini terus berkelanjutan, lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Semoga penonton tidak terlalu dekat dengan kolam karena kadang ada hal-hal yang tidak diinginkan. Tadi ada sedikit kekurangan, tapi mudah-mudahan ke depannya lebih baik,” ujarnya.

Lilik menjelaskan, mangaruhi memiliki filosofi tersendiri dalam masyarakat Dayak. Yakni proses mengeruhkan air terlebih dahulu sebelum melakukan penangkapan ikan. Istilah mangaruhi berasal dari kata karuh yang merujuk pada kondisi air yang dibuat keruh.

“Airnya itu sebenarnya dikaruh dulu, baru dimasukkan ikannya. Untuk penangkapan ikan itu mengaruh dulu, baru pesertanya terjun,” katanya.

Pada pelaksanaan tahun ini, lomba mangaruhi diikuti 12 kabupaten untuk kategori putra dan putri. Sementara dua daerah yakni Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Gunung Mas tidak berpartisipasi. Selain itu, terdapat kategori ekshibisi yang diikuti organisasi perangkat daerah (OPD) dengan total 14 peserta.

Baca Juga :  Agustiar Sabran: Hari Jadi ke-69 Kalteng Jadi Momentum Dorong Ekonomi Daerah

“Untuk aturan lombanya, setiap pemain diberi waktu 10 menit, dibagi lima menit di bagian atas dan lima menit di bagian bawah,”ujar Lilik. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru