24.7 C
Jakarta
Thursday, March 12, 2026

Jangan Asal Banyak Minum! Ahli Ungkap Risiko Overhidrasi yang Bisa Ganggu Kesehatan Ginjal

PROKALTENG.CO – Minum air putih memang penting bagi tubuh. Namun, kebiasaan minum air terlalu banyak ternyata tidak selalu baik. Bahkan, menurut ahli nefrologi, konsumsi air berlebihan dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan ginjal.

Dilansir dari Hindustan Times, konsultan nefrologi di ISIC Multispeciality Hospital, Dr. Udit Gupta menjelaskan anjuran “minum lebih banyak air” tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Kebutuhan cairan setiap individu berbeda, sehingga penting memahami batas konsumsi agar tidak mengalami overhidrasi atau kelebihan cairan dalam tubuh.

Menurut Dr. Gupta, kebutuhan cairan tidak bersifat universal. Kebutuhan hidrasi bisa berbeda tergantung berbagai faktor, seperti berat badan, iklim, tingkat aktivitas, hingga kondisi kesehatan seseorang.

Ia mencontohkan, anak yang bermain olahraga di luar ruangan saat musim panas tentu membutuhkan lebih banyak cairan dibandingkan orang dewasa yang bekerja santai di kantor dengan pendingin udara (AC).

Hal serupa juga berlaku bagi orang yang rutin mengonsumsi makanan kaya air seperti buah dan sayuran. Kelompok ini biasanya memerlukan asupan air minum yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi makanan berair.

“Untuk kesehatan ginjal, yang terpenting adalah hidrasi yang konsisten sehingga mendukung produksi urine normal, biasanya sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari pada orang dewasa, disesuaikan untuk anak-anak berdasarkan ukuran dan usia,” ujar Dr. Gupta.

Baca Juga :  Tips Kesehatan dan Kebugaran Pra-Pernikahan agar Pengantin Tampil Bugar, Cantik, dan Tenang

Menurut dia, fokus utama seharusnya bukan pada jumlah gelas air yang diminum, melainkan memastikan tubuh mampu menghasilkan urine dalam jumlah sehat agar proses penyaringan racun tetap berjalan optimal.

Electronic money exchangers listing

Dr. Gupta juga mengingatkan bahwa minum air secara berlebihan tidak selalu membawa manfaat. Kondisi overhidrasi justru dapat mengencerkan kadar natrium dalam darah, yang dikenal sebagai hiponatremia.

Kondisi tersebut dapat berbahaya karena berpotensi mengganggu fungsi tubuh, termasuk kesehatan ginjal.

“Bagi kebanyakan orang sehat, minum melebihi rasa haus tidak akan ‘meningkatkan’ fungsi ginjal secara luar biasa. Ginjal bekerja secara efisien dalam rentang asupan cairan yang cukup luas,” katanya.

Selama ini, warna urine sering dijadikan indikator kecukupan hidrasi. Namun, menurut Dr. Gupta, urine tidak harus selalu tidak berwarna.

Dalam beberapa kasus, urine yang benar-benar bening justru bisa menjadi tanda tubuh mengalami overhidrasi. Sebaliknya, urine berwarna kuning pucat biasanya menunjukkan kondisi hidrasi yang cukup.

Baca Juga :  Cegah Bau Mulut saat Puasa, Ikuti Tips Ini!

Sementara itu, urine berwarna kuning gelap atau keemasan tua dapat menandakan tubuh mengalami dehidrasi sehingga perlu meningkatkan asupan cairan.

Dr. Gupta menambahkan, rasa haus yang ditandai tenggorokan kering atau dorongan untuk minum biasanya muncul ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi ringan.

Ia juga mengingatkan bahwa beberapa kelompok, seperti anak kecil dan lansia, terkadang tidak mampu mengenali sinyal haus dengan baik.

“Karena itu, atlet, orang yang sedang demam, muntah, atau diare, serta mereka yang tinggal di iklim panas perlu lebih aktif menjaga hidrasi, tidak hanya mengandalkan rasa haus,” jelasnya.

Secara umum, Dr. Gupta menyebut sebagian besar orang dewasa membutuhkan sekitar 2 hingga 3 liter total cairan setiap hari, termasuk cairan yang berasal dari makanan dan minuman.

Sementara kebutuhan cairan pada anak-anak bergantung pada usia serta ukuran tubuh.

Namun, bagi orang dengan kondisi medis tertentu, konsumsi cairan harus diperhatikan lebih ketat.

“Penderita penyakit ginjal, gangguan jantung, atau kondisi medis tertentu perlu mengikuti saran dokter, karena dalam beberapa kasus justru dianjurkan pembatasan cairan,” tutupnya. (antara)

PROKALTENG.CO – Minum air putih memang penting bagi tubuh. Namun, kebiasaan minum air terlalu banyak ternyata tidak selalu baik. Bahkan, menurut ahli nefrologi, konsumsi air berlebihan dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan ginjal.

Dilansir dari Hindustan Times, konsultan nefrologi di ISIC Multispeciality Hospital, Dr. Udit Gupta menjelaskan anjuran “minum lebih banyak air” tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Kebutuhan cairan setiap individu berbeda, sehingga penting memahami batas konsumsi agar tidak mengalami overhidrasi atau kelebihan cairan dalam tubuh.

Menurut Dr. Gupta, kebutuhan cairan tidak bersifat universal. Kebutuhan hidrasi bisa berbeda tergantung berbagai faktor, seperti berat badan, iklim, tingkat aktivitas, hingga kondisi kesehatan seseorang.

Electronic money exchangers listing

Ia mencontohkan, anak yang bermain olahraga di luar ruangan saat musim panas tentu membutuhkan lebih banyak cairan dibandingkan orang dewasa yang bekerja santai di kantor dengan pendingin udara (AC).

Hal serupa juga berlaku bagi orang yang rutin mengonsumsi makanan kaya air seperti buah dan sayuran. Kelompok ini biasanya memerlukan asupan air minum yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi makanan berair.

“Untuk kesehatan ginjal, yang terpenting adalah hidrasi yang konsisten sehingga mendukung produksi urine normal, biasanya sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari pada orang dewasa, disesuaikan untuk anak-anak berdasarkan ukuran dan usia,” ujar Dr. Gupta.

Baca Juga :  Tips Kesehatan dan Kebugaran Pra-Pernikahan agar Pengantin Tampil Bugar, Cantik, dan Tenang

Menurut dia, fokus utama seharusnya bukan pada jumlah gelas air yang diminum, melainkan memastikan tubuh mampu menghasilkan urine dalam jumlah sehat agar proses penyaringan racun tetap berjalan optimal.

Dr. Gupta juga mengingatkan bahwa minum air secara berlebihan tidak selalu membawa manfaat. Kondisi overhidrasi justru dapat mengencerkan kadar natrium dalam darah, yang dikenal sebagai hiponatremia.

Kondisi tersebut dapat berbahaya karena berpotensi mengganggu fungsi tubuh, termasuk kesehatan ginjal.

“Bagi kebanyakan orang sehat, minum melebihi rasa haus tidak akan ‘meningkatkan’ fungsi ginjal secara luar biasa. Ginjal bekerja secara efisien dalam rentang asupan cairan yang cukup luas,” katanya.

Selama ini, warna urine sering dijadikan indikator kecukupan hidrasi. Namun, menurut Dr. Gupta, urine tidak harus selalu tidak berwarna.

Dalam beberapa kasus, urine yang benar-benar bening justru bisa menjadi tanda tubuh mengalami overhidrasi. Sebaliknya, urine berwarna kuning pucat biasanya menunjukkan kondisi hidrasi yang cukup.

Baca Juga :  Cegah Bau Mulut saat Puasa, Ikuti Tips Ini!

Sementara itu, urine berwarna kuning gelap atau keemasan tua dapat menandakan tubuh mengalami dehidrasi sehingga perlu meningkatkan asupan cairan.

Dr. Gupta menambahkan, rasa haus yang ditandai tenggorokan kering atau dorongan untuk minum biasanya muncul ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi ringan.

Ia juga mengingatkan bahwa beberapa kelompok, seperti anak kecil dan lansia, terkadang tidak mampu mengenali sinyal haus dengan baik.

“Karena itu, atlet, orang yang sedang demam, muntah, atau diare, serta mereka yang tinggal di iklim panas perlu lebih aktif menjaga hidrasi, tidak hanya mengandalkan rasa haus,” jelasnya.

Secara umum, Dr. Gupta menyebut sebagian besar orang dewasa membutuhkan sekitar 2 hingga 3 liter total cairan setiap hari, termasuk cairan yang berasal dari makanan dan minuman.

Sementara kebutuhan cairan pada anak-anak bergantung pada usia serta ukuran tubuh.

Namun, bagi orang dengan kondisi medis tertentu, konsumsi cairan harus diperhatikan lebih ketat.

“Penderita penyakit ginjal, gangguan jantung, atau kondisi medis tertentu perlu mengikuti saran dokter, karena dalam beberapa kasus justru dianjurkan pembatasan cairan,” tutupnya. (antara)

Terpopuler

Artikel Terbaru