PROKALTENG.CO-Hari ini, Rabu (18/2/2026) menjadi hari pertama Ramadan bagi umat Islam di Arab Saudi. Keputusan ini diambil setelah Mahkamah Agung Kerajaan mengonfirmasi laporan positif pemantauan hilal pada Selasa petang.
Sementara itu, di Indonesia, Pemerintah RI memutuskan bulan suci baru akan dimulai sehari kemudian, Kamis 19 Februari 2026, karena hilal dinilai belum memenuhi kriteria visibilitas 3 derajat.
Adapun Muhammadiyah secara kelembagaan memutuskan puasa hari ini yang berarti bersamaan dengan Arab Saudi. Ormas Islam tersebut menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Pengumuman Resmi dan Persiapan Ibadah
Pengumuman resmi dari Mahkamah Agung itu langsung disusul dengan persiapan menyambut bulan suci. Malam tadi, masjid-masjid di seluruh Saudi telah ramai menggelar salat Tarawih perdana. Pihak berwenang pun dikabarkan telah menyelesaikan segala persiapan untuk memastikan kelancaran ibadah jutaan jamaah selama sebulan penuh.
“Dengan konfirmasi itu, muslim di seluruh Arab Saudi memulai puasa saat subuh pada hari Rabu, memperingati bulan kesembilan kalender lunar Islam dengan ibadah, refleksi, dan amal kebajikan,” demikian bunyi laporan resmi yang dikutip media setempat.
Para Imam Pilihan di Masjidil Haram
Untuk memimpin ibadah di Masjidil Haram, tujuh imam terpilih telah ditunjuk. Mereka adalah Syekh Abdur Rahman As Sudais, Syekh Maher Al Muaiqly, Syekh Abdullah Juhany, Syekh Bandar Baleelah, Syekh Yasir Ad Dawsary, Syekh Badr Al Turki, dan Syekh Waleed Al Shamsan. Malam pertama Tarawih di Makkah sendiri sudah berlangsung khidmat.
Menurut laporan dari dalam kompleks haram, Tarawih perdana dipimpin oleh Syekh Badr Al Turki dan Syekh Waleed Al Shamsan pada rakaat awal. Kemudian, Syekh Abdur Rahman As Sudais tampil memimpin rakaat penutup serta salat witir.
Kriteria MABIMS dan Posisi Hilal di Indonesia
Di sisi lain, situasi di Indonesia ternyata berbeda. Pemerintah melalui Kementerian Agama memastikan awal Ramadan jatuh pada Kamis. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan dan pemantauan hilal.
Cecep Nurwendaya dari Tim Hisab Rukyat Kemenag memaparkan alasannya. Ia menjelaskan bahwa posisi hilal pada Selasa sore di seluruh wilayah Indonesia masih jauh di bawah angka yang disyaratkan, 3 derajat.
“Posisi hilal saat rukyat berada pada kisaran minus 2 derajat 24 menit 43 detik hingga minus 0 derajat 55 menit 41 detik, dengan elongasi antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik,” ungkapnya di Jakarta.
Kriteria MABIMS—yang diikuti Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura—menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Dengan angka yang masih negatif dan elongasi sangat kecil, Cecep menegaskan hilal mustahil terlihat. (bs-sam/fjr/jpg)


