25.1 C
Jakarta
Thursday, January 22, 2026

Abah Guru Sekumpul Pernah Menziarahi Makam Syekh Abu Hamid di tepi Pantai Ujung Pandaran, Sampit

SEMASA hidupnya, Abah Guru Sekumpul juga pernah melakukan perjalanan spiritual ke Bumi Tambun Bungai. Ketika itu tepatnya pada 9 November 1993, Abah Guru Sekumpul dapat menziarahi makam Syekh Abu Hamid di tepi Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Syekh Abu Hamid bin Muhammad As’ad Al-Banjari. Ia dikenal sebagai salah satu buyut dari Jaddina Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan. Ia adalah ulama besar dari Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), sekaligus pengarang kitab legendaris Sabilal Muhtadin.

Syekh Abu Hamid Al-Banjari wafat pada 25 Januari 1885, dan sejak saat itu, makamnya menjadi tujuan ziarah dari berbagai penjuru.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Jam’iyah Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Gusti Azi Burahman Al Arsyadi menceritakan, puncak perhatian terhadap makam ini terjadi ketika ulama karismatik dari Kalimantan Selatan, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul, datang menziarahi makam Syekh Abu Hamid pada 9 November 1993.

Beliau beserta rombongan datang menggunakan speed boat dari Sampit, disambut antusias oleh para ulama dan masyarakat.

“Saya waktu itu mendengar kabar bahwa Guru Sekumpul hendak ke Ujung Pandaran. Saya bersama Guru Kaspul Anwar, Gusti Haji Muchdar, dan Arip motoris dari Samuda langsung menyusul ke sana,” katanya.

Baca Juga :  BERHASIL ! Operasi Perdana Tulang Belakang Memakan Waktu 4,5 Jam

Menurutnya, kala itu Guru Sekumpul tampak terburuburu untuk bisa sampai ke makam tersebut. Sesampainya di sana, ia beserta rombongan dan masyarakat yang turut hadir langsung memanjatkan tawasul dan maulid di makam Syekh Abu Hamid.

“Begitu sampai beliau langsung ke makam. Beliau seperti sudah ditunggu oleh ahlil kubur itu,” sebutnya.

Electronic money exchangers listing

Ia melanjutkan, usai melaksanakan ziarah ke makam, Guru Sekumpul langsung mengajak semua yang ikut dari Sampit agar segera kembali ke Kota Sampit. Mereka yang kala itu ikut dalam rombongan, langsung menaiki speed boat dan bergegas kembali. Ternyata tak berselang lama, wilayah laut Ujung Pandaran dilanda gelombang besar.

“Beliau langsung menyuruh dan memberikan isyarat untuk segera kembali ke kota. Ternyata setelah sampai kota tidak lama di laut itu ada gelombang besar. Memang itu luar biasa karomah beliau,” bebernya.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah, Prof. Dr. H. Khairil Anwar, Syekh Abu Hamid bukan sekadar sosok biasa. Ia merupakan bagian dari silsilah keilmuan dan spiritual besar yang dikenal sebagai Syajaratul Arsadiyah keturunan dari Syekh Arsyad Al-Banjari, ulama besar penyebar Islam di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

Baca Juga :  DAD Turun Tangan Memediasi Konflik Warga dan Perusahaan

“Istimewanya, makam beliau ini pernah diziarahi oleh almarhum Guru Sekumpul atas petunjuk dari Guru Haji Muhammad Irsyad. Ini menunjukkan bahwa keberadaan makam beliau mendapat pengakuan dari para ulama besar di Kalimantan,” jelasnya.

Meski dokumentasi sejarah tertulis mengenai sosok Abu Hamid masih sangat terbatas dan sebagian besar informasi hanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi namun pengaruh beliau tetap dirasakan.

Masyarakat setempat meyakini keberadaan beliau sebagai bagian dari rangkaian penyebar Islam di Borneo, terutama melalui keturunan dan jejaring keulamaan Arsadiyah.

“Sejarah ini memang banyak berasal dari mulut ke mulut, belum banyak ditemukan sumber tertulis otentik. Tapi di kalangan ulama dan masyarakat yang memahami silsilah Syajaratul Arsadiyah, keberadaan Syekh Abu Hamid tidak diragukan,” tambah Prof. Khairil.

Menurut beberapa peneliti sejarah lokal, nama Abu Hamid belum banyak disebut dalam literatur populer atau ensiklopedia daring seperti Wikipedia. Oleh karena itu, penting untuk menggali sejarah ini dari para pewaris ilmu dan keturunan yang memahami silsilah dan perjalanan para wali di Kalimantan. (mif/zia/ala/kpg)

SEMASA hidupnya, Abah Guru Sekumpul juga pernah melakukan perjalanan spiritual ke Bumi Tambun Bungai. Ketika itu tepatnya pada 9 November 1993, Abah Guru Sekumpul dapat menziarahi makam Syekh Abu Hamid di tepi Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Syekh Abu Hamid bin Muhammad As’ad Al-Banjari. Ia dikenal sebagai salah satu buyut dari Jaddina Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan. Ia adalah ulama besar dari Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), sekaligus pengarang kitab legendaris Sabilal Muhtadin.

Syekh Abu Hamid Al-Banjari wafat pada 25 Januari 1885, dan sejak saat itu, makamnya menjadi tujuan ziarah dari berbagai penjuru.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Jam’iyah Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Gusti Azi Burahman Al Arsyadi menceritakan, puncak perhatian terhadap makam ini terjadi ketika ulama karismatik dari Kalimantan Selatan, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul, datang menziarahi makam Syekh Abu Hamid pada 9 November 1993.

Electronic money exchangers listing

Beliau beserta rombongan datang menggunakan speed boat dari Sampit, disambut antusias oleh para ulama dan masyarakat.

“Saya waktu itu mendengar kabar bahwa Guru Sekumpul hendak ke Ujung Pandaran. Saya bersama Guru Kaspul Anwar, Gusti Haji Muchdar, dan Arip motoris dari Samuda langsung menyusul ke sana,” katanya.

Baca Juga :  BERHASIL ! Operasi Perdana Tulang Belakang Memakan Waktu 4,5 Jam

Menurutnya, kala itu Guru Sekumpul tampak terburuburu untuk bisa sampai ke makam tersebut. Sesampainya di sana, ia beserta rombongan dan masyarakat yang turut hadir langsung memanjatkan tawasul dan maulid di makam Syekh Abu Hamid.

“Begitu sampai beliau langsung ke makam. Beliau seperti sudah ditunggu oleh ahlil kubur itu,” sebutnya.

Ia melanjutkan, usai melaksanakan ziarah ke makam, Guru Sekumpul langsung mengajak semua yang ikut dari Sampit agar segera kembali ke Kota Sampit. Mereka yang kala itu ikut dalam rombongan, langsung menaiki speed boat dan bergegas kembali. Ternyata tak berselang lama, wilayah laut Ujung Pandaran dilanda gelombang besar.

“Beliau langsung menyuruh dan memberikan isyarat untuk segera kembali ke kota. Ternyata setelah sampai kota tidak lama di laut itu ada gelombang besar. Memang itu luar biasa karomah beliau,” bebernya.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah, Prof. Dr. H. Khairil Anwar, Syekh Abu Hamid bukan sekadar sosok biasa. Ia merupakan bagian dari silsilah keilmuan dan spiritual besar yang dikenal sebagai Syajaratul Arsadiyah keturunan dari Syekh Arsyad Al-Banjari, ulama besar penyebar Islam di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

Baca Juga :  DAD Turun Tangan Memediasi Konflik Warga dan Perusahaan

“Istimewanya, makam beliau ini pernah diziarahi oleh almarhum Guru Sekumpul atas petunjuk dari Guru Haji Muhammad Irsyad. Ini menunjukkan bahwa keberadaan makam beliau mendapat pengakuan dari para ulama besar di Kalimantan,” jelasnya.

Meski dokumentasi sejarah tertulis mengenai sosok Abu Hamid masih sangat terbatas dan sebagian besar informasi hanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi namun pengaruh beliau tetap dirasakan.

Masyarakat setempat meyakini keberadaan beliau sebagai bagian dari rangkaian penyebar Islam di Borneo, terutama melalui keturunan dan jejaring keulamaan Arsadiyah.

“Sejarah ini memang banyak berasal dari mulut ke mulut, belum banyak ditemukan sumber tertulis otentik. Tapi di kalangan ulama dan masyarakat yang memahami silsilah Syajaratul Arsadiyah, keberadaan Syekh Abu Hamid tidak diragukan,” tambah Prof. Khairil.

Menurut beberapa peneliti sejarah lokal, nama Abu Hamid belum banyak disebut dalam literatur populer atau ensiklopedia daring seperti Wikipedia. Oleh karena itu, penting untuk menggali sejarah ini dari para pewaris ilmu dan keturunan yang memahami silsilah dan perjalanan para wali di Kalimantan. (mif/zia/ala/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru