25.3 C
Jakarta
Thursday, February 12, 2026

Kemenag Pantau Hilal 17 Februari 2026 di 96 Titik, untuk Menentukan Awal Ramadan 1447 Hijriah

Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) pada 17 Februari 2026 untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah. Pemantauan akan dilakukan di 96 titik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hasil rukyatul hilal tersebut akan dibahas dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H yang digelar pada hari yang sama di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jalan M.H. Thamrin No. 6, Jakarta.

Sidang isbat akan dihadiri sejumlah pihak, antara lain duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, pakar falak dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, pimpinan ormas Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Baca Juga :  Sidang Isbat untuk Menentukan 1 Syawal 1445 H Digelar 9 April 2024

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan sidang isbat merupakan forum penting yang mengedepankan kehati-hatian, keilmuan, dan kebersamaan umat.

“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” kata Abu Rokhmad dalam keterangan tertulis, Kamis (12/2).

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Saat matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Sementara itu, sudut elongasi berkisar antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

Baca Juga :  Kemenag Minta Garuda Profesional Layani JCH Indonesia

Data tersebut menunjukkan bahwa hilal secara teoritis belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan, termasuk kriteria MABIMS.

Electronic money exchangers listing

Untuk melengkapi data hisab, Kemenag tetap melaksanakan rukyatul hilal di 96 lokasi. Pengamatan dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi serta Kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, dan instansi terkait lainnya.

“Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam sidang isbat,” tegas Abu Rokhmad.

Ia menambahkan, keputusan akhir penetapan 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan secara resmi melalui konferensi pers setelah sidang isbat selesai.

“Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir akan disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia,” pungkasnya. (jpc)

Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) pada 17 Februari 2026 untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah. Pemantauan akan dilakukan di 96 titik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hasil rukyatul hilal tersebut akan dibahas dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H yang digelar pada hari yang sama di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jalan M.H. Thamrin No. 6, Jakarta.

Sidang isbat akan dihadiri sejumlah pihak, antara lain duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, pakar falak dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, pimpinan ormas Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Sidang Isbat untuk Menentukan 1 Syawal 1445 H Digelar 9 April 2024

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan sidang isbat merupakan forum penting yang mengedepankan kehati-hatian, keilmuan, dan kebersamaan umat.

“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” kata Abu Rokhmad dalam keterangan tertulis, Kamis (12/2).

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Saat matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Sementara itu, sudut elongasi berkisar antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

Baca Juga :  Kemenag Minta Garuda Profesional Layani JCH Indonesia

Data tersebut menunjukkan bahwa hilal secara teoritis belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan, termasuk kriteria MABIMS.

Untuk melengkapi data hisab, Kemenag tetap melaksanakan rukyatul hilal di 96 lokasi. Pengamatan dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi serta Kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, dan instansi terkait lainnya.

“Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam sidang isbat,” tegas Abu Rokhmad.

Ia menambahkan, keputusan akhir penetapan 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan secara resmi melalui konferensi pers setelah sidang isbat selesai.

“Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir akan disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia,” pungkasnya. (jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/