DINAMIKA tren busana Muslim di Indonesia terus bergulir dengan cepat setiap tahunnya. Jika pada 2024 publik sempat dihebohkan dengan tren gamis shimmer yang berkilau, dan tahun 2025 didominasi oleh fenomena “Katbol” atau katun bolong, maka tahun 2026 membawa angin segar baru. Kini, perhatian para pecinta mode tertuju pada gamis rompi lepas sebagai tren utama baju Lebaran 2026.
Pantauan di berbagai pusat perbelanjaan konvensional maupun platform belanja daring (e-commerce) menunjukkan lonjakan permintaan yang signifikan terhadap model ini. Para pedagang mulai memajang koleksi terbaru mereka yang mengedepankan konsep dua lapis (two-layer) dengan nuansa yang jauh lebih kalem dan elegan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Daya tarik utama dari gamis rompi lepas ini terletak pada fungsionalitasnya. Berbeda dengan model gamis konvensional yang bersifat statis, desain terbaru ini menawarkan satu set busana yang terdiri dari gamis dasar dan outer berupa rompi yang dapat dilepas-pasang secara mandiri.
Desain ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi pemakainya untuk menciptakan dua gaya berbeda hanya dengan satu produk. Saat menggunakan rompi, pemakai akan mendapatkan kesan formal, terstruktur, dan berwibawa, yang sangat cocok untuk momen salat Idulfitri atau silaturahmi resmi. Sebaliknya, saat melepas rompi, gamis dasar memberikan tampilan yang lebih santai, simpel, namun tetap sopan untuk acara kumpul keluarga non-formal.
Tak hanya itu, rompi tersebut juga bisa menjadi fashion statement yang dipadupadankan dengan koleksi pakaian lain, seperti tunik atau kemeja polos. Keunggulan inilah yang memicu konsumen untuk berburu koleksi lebih awal, bahkan saat bulan Ramadan masih menyisakan beberapa pekan lagi.
Media Sosial sebagai Katalisator Tren
Kecepatan penyebaran tren gamis rompi lepas ini tidak lepas dari peran algoritma media sosial. Berbagai video pendek di TikTok dan Instagram yang memperlihatkan pedagang memamerkan cara penggunaan rompi lepas tersebut sukses memancing rasa penasaran publik. Narasi bahwa busana ini telah “terpilih” menjadi seragam nasional Lebaran 2026 membuat banyak orang berbondong-bondong mengunjungi pasar untuk melihat material kain secara langsung.
Para pelaku usaha di pusat grosir seperti Tanah Abang hingga pasar-pasar daerah mengakui bahwa viralitas di media sosial membantu meningkatkan konversi penjualan mereka. Fenomena ini membuktikan bahwa selera pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh konten visual yang menunjukkan kemudahan dalam memadupadankan pakaian (mix and match).
Dominasi Warna Pastel dan Material Premium
Dari segi estetika, tren 2026 meninggalkan warna-warna yang terlalu mencolok. Lapak-lapak pedagang kini didominasi oleh palet warna bumi (earth tone) dan warna pastel yang memberikan kesan menenangkan. Warna-warna seperti krem, moka, beige, sage green, hingga merah muda pucat menjadi pilihan utama. Bagi mereka yang menyukai gaya konservatif, hitam klasik tetap tersedia namun dengan sentuhan tekstur pada bagian rompi.
Mengenai material, para produsen tampaknya lebih mengutamakan kenyamanan mengingat cuaca yang kian sulit diprediksi. Untuk gaya kasual, bahan linen dan katun premium menjadi primadona karena kemampuannya menyerap keringat dengan baik. Sementara itu, untuk mereka yang mengejar kesan mewah, bahan woolpeach, ceruty, dan satin matte menjadi pilihan untuk menciptakan siluet jatuh yang elegan.
Penggunaan berbagai tekstur pada rompi seperti bordir tipis atau pola minimalis turut menambah dimensi pada tampilan keseluruhan, sehingga busana tidak terlihat datar meski menggunakan warna-warna lembut.
Gamis rompi lepas bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjawab kebutuhan gaya hidup perempuan modern yang memiliki mobilitas tinggi. Busana ini sangat relevan untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja di kantor, menghadiri kajian, hingga mengikuti acara arisan keluarga.
Dengan kombinasi antara kenyamanan, fleksibilitas gaya, dan harga yang kompetitif, gamis rompi lepas dipastikan akan menghiasi momen hari raya di seluruh penjuru Indonesia tahun ini. Transisi dari tren shimmer yang mencolok menuju rompi lepas yang fungsional menandai era baru busana Muslim yang lebih mengedepankan nilai guna tanpa mengorbankan estetika.(*)


