alexametrics
23.2 C
Palangkaraya
Monday, August 15, 2022

5 Pemicu Disfungsi Seksual pada Perempuan

Disfungsi seksual merupakan
masalah yang terjadi selama fase siklus respons seksual yang menghambat
individu atau pasangan saat berhubungan. Tapi, tak hanya pria, disfungsi
seksual dapat dialami oleh perempuan dewasa.

Dokter Spesialis Kandungan dan
Kebidanan di Bamed Women’s Clinic dr. Grace Valentine, SpOG, mengatakan
disfungsi seksual dibagai menjadi 4 kelompok besar, yaitu gangguan libido atau
hasrat seksual, gangguan orgasme, ganggun rangsangan seksual, dan nyeri saat
berhubungan seksual.

Berdasarkan laporan saat ini
semakin banyak pasangan usia muda mengalami disfungsi seksual. Penelitian
diberbagai negara menunjukkan bahwa disfungsi seksual adalah hal yang umum
(dilaporkan terjadi pada 43 persen perempuan dan 31 persen pria).

“Seorang perempuan bisa
mengalami satu atau beberapa jenis disfungsi seksual sekaligus dalam waktu
bersamaan. Gangguan ini dapat terjadi sejak perempuan mulai aktif secara
seksual atau baru muncul di kemudian hari meskipun sebelumnya tidak ada
masalah,” jelasnya dalam diskusi baru-baru ini.

Baca Juga :  Pecandu Kopi, Waspadai Sakit Kepala

Disfungsi seksual pada
perempuan bisa terjadi pada saat kadar hormon berubah. Hal ini biasanya terjadi
pada saat kehamilan, setelah melahirkan atau saat menyusui. Selain itu saat
menopause, kadar hormon estrogen mulai menurun yang akan memicu perubahan pada
jaringan di organ kelamin serta respon terhadap rangsangan seksual.

Hasil penelitian di Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta (2018) ditemukan sebesar 90 persen dari 300
perempuan yang disurvei pernah mengalami disfungsi seksual. Hasil ini cukup
mengejutkan. Namun, hanya 6 persen dari perempuan tersebut yang mengakui
dirinya merasa terganggu akibat disfungsi seksual. Berdasarkan hasil penelitian
dapat diketahui bahwa sebagian besar perempuan Indonesia masih enggan mengakui
kepada pasangan atau bahkan mencari

Beberapa penyebab disfungsi
seksual yang dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Kondisi ini cepat atau
lambat akan mempengaruhi keharmonisan suami istri.

“Meski sudah dilakukan foreplay (pemanasan)
seringkali masih sulit bagi perempuan, dan suami harus mengetahuinya dengan komunikasi
yang baik,” jelas dr Grace.

Baca Juga :  Belum Kelar Covid, Kini Norovirus Juga Ditemukan di Indonesia, Ini Gej

1. Kondisi Fisik

Disfungsi seperti gangguan
pada organ genitalia, bekas operasi, akibat penyakit tertentu, dan efek samping
dari obat-obatan termasuk obat antidepressan.

 2. Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang
disebabkan oleh stres dan kecemasan terkait pekerjaan, efek atau trauma seksual
masa lalu, kekhawatiran saat hamil atau perubahan situasi saat menjadi ibu
baru.

3. Faktor Hormonal

Faktor hormonal yang mengalami
perubahan pada saat hamil, setelah melahirkan dan selama menyusui, terjadi
penurunan kadar hormon saat menopause yang memicu perubahan pada jaringan di
organ kelamin serta respon terhadap rangsangan.

4. Perubahan Gaya Hidup

Pola makan yang buruk, jarang
berolahraga, merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat-obatan.

5. Konflik dengan Pasangan

Kualitas hubungan dengan
pasangan yang menurun akibat konfik berkepanjangan dapat menurukan gairah dan
respon seksual perempuan.

 

Disfungsi seksual merupakan
masalah yang terjadi selama fase siklus respons seksual yang menghambat
individu atau pasangan saat berhubungan. Tapi, tak hanya pria, disfungsi
seksual dapat dialami oleh perempuan dewasa.

Dokter Spesialis Kandungan dan
Kebidanan di Bamed Women’s Clinic dr. Grace Valentine, SpOG, mengatakan
disfungsi seksual dibagai menjadi 4 kelompok besar, yaitu gangguan libido atau
hasrat seksual, gangguan orgasme, ganggun rangsangan seksual, dan nyeri saat
berhubungan seksual.

Berdasarkan laporan saat ini
semakin banyak pasangan usia muda mengalami disfungsi seksual. Penelitian
diberbagai negara menunjukkan bahwa disfungsi seksual adalah hal yang umum
(dilaporkan terjadi pada 43 persen perempuan dan 31 persen pria).

“Seorang perempuan bisa
mengalami satu atau beberapa jenis disfungsi seksual sekaligus dalam waktu
bersamaan. Gangguan ini dapat terjadi sejak perempuan mulai aktif secara
seksual atau baru muncul di kemudian hari meskipun sebelumnya tidak ada
masalah,” jelasnya dalam diskusi baru-baru ini.

Baca Juga :  Jangan Berlebihan Makan Makanan Manis, Ini Bahayanya

Disfungsi seksual pada
perempuan bisa terjadi pada saat kadar hormon berubah. Hal ini biasanya terjadi
pada saat kehamilan, setelah melahirkan atau saat menyusui. Selain itu saat
menopause, kadar hormon estrogen mulai menurun yang akan memicu perubahan pada
jaringan di organ kelamin serta respon terhadap rangsangan seksual.

Hasil penelitian di Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta (2018) ditemukan sebesar 90 persen dari 300
perempuan yang disurvei pernah mengalami disfungsi seksual. Hasil ini cukup
mengejutkan. Namun, hanya 6 persen dari perempuan tersebut yang mengakui
dirinya merasa terganggu akibat disfungsi seksual. Berdasarkan hasil penelitian
dapat diketahui bahwa sebagian besar perempuan Indonesia masih enggan mengakui
kepada pasangan atau bahkan mencari

Beberapa penyebab disfungsi
seksual yang dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Kondisi ini cepat atau
lambat akan mempengaruhi keharmonisan suami istri.

“Meski sudah dilakukan foreplay (pemanasan)
seringkali masih sulit bagi perempuan, dan suami harus mengetahuinya dengan komunikasi
yang baik,” jelas dr Grace.

Baca Juga :  Pecandu Kopi, Waspadai Sakit Kepala

1. Kondisi Fisik

Disfungsi seperti gangguan
pada organ genitalia, bekas operasi, akibat penyakit tertentu, dan efek samping
dari obat-obatan termasuk obat antidepressan.

 2. Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang
disebabkan oleh stres dan kecemasan terkait pekerjaan, efek atau trauma seksual
masa lalu, kekhawatiran saat hamil atau perubahan situasi saat menjadi ibu
baru.

3. Faktor Hormonal

Faktor hormonal yang mengalami
perubahan pada saat hamil, setelah melahirkan dan selama menyusui, terjadi
penurunan kadar hormon saat menopause yang memicu perubahan pada jaringan di
organ kelamin serta respon terhadap rangsangan.

4. Perubahan Gaya Hidup

Pola makan yang buruk, jarang
berolahraga, merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat-obatan.

5. Konflik dengan Pasangan

Kualitas hubungan dengan
pasangan yang menurun akibat konfik berkepanjangan dapat menurukan gairah dan
respon seksual perempuan.

 

Most Read

Artikel Terbaru

/