27.2 C
Jakarta
Monday, June 24, 2024
spot_img

Wah! Dampak Korona Lebih Fatal Bagi Pria Dibanding Perempuan

BERDASARKAN data yang telah dihimpun, menunjukkan
bahwa, tingkat kematian akibat korona (Covid-19) pada pria lebih tinggi
dibanding pada perempuan.

Selain kondisi kesehatan yang secara umum buruk dan kebiasaan seperti
merokok dan minum minuman keras, yang dapat merusak paru-paru, di kalangan
pria, sejumlah pakar terkemuka mengatakan kepada Xinhua seperti dilansir oleh
Antara pada Kamis (26/3), bahwa pengaruh hormon terhadap respons kekebalan
tubuh kemungkinan juga memainkan peran penting dalam fenomena ini.

Ketika berbicara dalam taklimat harian yang digelar di Gedung Putih,
Washington DC, Dr. Deborah Birx, direktur Gugus Tugas Covid-19 Gedung Putih,
mengatakan, sebuah laporan dari Italia menunjukkan bahwa tingkat kematian pria
dari hampir seluruh kelompok usia lebih tinggi dibandingkan perempuan. “Ini
adalah tren yang meresahkan,” sebutnya.

Menurut otoritas kesehatan Italia, pria menguasai 58 persen dari seluruh
13.882 kasus Covid-19 di negara tersebut antara 21 Februari hingga 12 Maret,
serta 72 persen dari 803 kematian yang dilaporkan saat itu. Pasien pria yang
terjangkit korona dan dirawat di rumah sakit 75 persen lebih mungkin meninggal
dibandingkan pasien perempuan yang menjalani perawatan serupa.

Data dari beberapa negara lainnya juga menunjukkan bahwa kematian akibat
korona lebih banyak terjadi pada pria ketimbang perempuan. laporan dari at
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, mengindikasikan bahwa tingkat
mortalitas di kalangan pria yang dikonfirmasi terinfeksi korona sekitar 65
persen lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian di kalangan wanita.

Baca Juga :  Alami Salah Satu dari 8 Masalah Ini? Bisa Jadi Tanda Racun di Tubuh

Berbagai kebiasaan tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi minuman
beralkohol, lebih sering dilakukan oleh pria dibandingkan perempuan.
’’Kebiasaan-kebiasaan itu dapat merusak paru-paru dan mengakibatkan peradangan
ketika melawan infeksi, kata Birx.

Pria juga cenderung memiliki lebih banyak penyakit terselubung, seperti
hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru kronis, menurut Global
Health 50/50, sebuah institut penelitian yang mempelajari ketidaksetaraan gender
di bidang kesehatan global.

Meski sejumlah faktor lain yang dapat memicu infeksi parah, seperti riwayat
merokok dan penyakit jantung, juga berbeda pada laki-laki dan perempuan, sistem
imun diketahui berfungsi dengan cara yang berbeda pada tubuh keduanya. Ha itu
dipaparkan oleh Susan Kovats, ahli imunologi dan mikrobiologi dari Yayasan
Penelitian Medis Oklahoma (Oklahoma Medical Research Foundation) dalam sebuah
wawancara dengan Xinhua seperti dilansir oleh Antara pada Kamis (26/3).

Perbedaan terkait gender dalam tingkat kemunculan dan keparahan infeksi
virus pernapasan terlihat jelas pada manusia dan model tikus, serta sejalan
dengan perbedaan dalam hal aktivitas sel imun, imbuhnya. ’’Sel-sel imun mampu
merespons hormon estrogen dan testosteron, yang mengindikasikan bahwa perbedaan
kadar hormon-hormon ini pada pria dan wanita mungkin saja berperan dalam
respons imun mereka yang berbeda,’’ terang Kovats.

Baca Juga :  36 Persen Luka Terjadi di Rumah, Simak Tips Dokter

Ketika merespons beberapa virus, jika dibandingkan dengan sel-sel pria,
sel-sel pada tubuh perempuan memproduksi protein yang disebut interferon dengan
level lebih tinggi. Interferon merupakan bagian penting dari respons imun
bawaan awal. Protein tersebut memicu aliran protein yang secara langsung
bersifat antivirus dan bertindak untuk meredakan penyebaran virus, menurut
Kovats.

“Bukti memang menunjukkan bahwa produksi interferon didukung oleh estrogen.
Dalam infeksi virus pernapasan, kapasitas yang lebih besar untuk memproduksi
interferon dapat membantu meredakan penyebaran virus dan kerusakan paru-paru
pada wanita,” tuturnya.

Dr. Stanley Perlman, profesor mikrobiologi dan imunologi dari Universitas
Iowa, mempelajari sejumlah tikus jantan dan betina yang terinfeksi beberapa
jenis coronavirus, yaitu coronavirus pemicu sindrom pernapasan akut berat
(severe acute respiratory syndrome/SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah
(Middle East respiratory syndrome/MERS). Dia menemukan bahwa tikus-tikus jantan
lebih rentan terinfeksi dibandingkan tikus betina di segala usia.

“Eksperimen-eksperimen yang kami lakukan pada tikus mengindikasikan bahwa
hal ini sebagian bersifat hormonal. Jika kita menghilangkan estrogen dari
tikus-tikus itu, mereka (tikus betina) akan sama sensitifnya terhadap SARS-CoV
dengan tikus jantan,” kata Perlman.

“Respons imun antara laki-laki dan perempuan kemungkinan berkaitan dengan
hormon, tetapi masih belum dipahami dengan baik,” kata Kent Pinkerton, profesor
dari Fakultas Kedokteran Universitas California Davis.

BERDASARKAN data yang telah dihimpun, menunjukkan
bahwa, tingkat kematian akibat korona (Covid-19) pada pria lebih tinggi
dibanding pada perempuan.

Selain kondisi kesehatan yang secara umum buruk dan kebiasaan seperti
merokok dan minum minuman keras, yang dapat merusak paru-paru, di kalangan
pria, sejumlah pakar terkemuka mengatakan kepada Xinhua seperti dilansir oleh
Antara pada Kamis (26/3), bahwa pengaruh hormon terhadap respons kekebalan
tubuh kemungkinan juga memainkan peran penting dalam fenomena ini.

Ketika berbicara dalam taklimat harian yang digelar di Gedung Putih,
Washington DC, Dr. Deborah Birx, direktur Gugus Tugas Covid-19 Gedung Putih,
mengatakan, sebuah laporan dari Italia menunjukkan bahwa tingkat kematian pria
dari hampir seluruh kelompok usia lebih tinggi dibandingkan perempuan. “Ini
adalah tren yang meresahkan,” sebutnya.

Menurut otoritas kesehatan Italia, pria menguasai 58 persen dari seluruh
13.882 kasus Covid-19 di negara tersebut antara 21 Februari hingga 12 Maret,
serta 72 persen dari 803 kematian yang dilaporkan saat itu. Pasien pria yang
terjangkit korona dan dirawat di rumah sakit 75 persen lebih mungkin meninggal
dibandingkan pasien perempuan yang menjalani perawatan serupa.

Data dari beberapa negara lainnya juga menunjukkan bahwa kematian akibat
korona lebih banyak terjadi pada pria ketimbang perempuan. laporan dari at
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, mengindikasikan bahwa tingkat
mortalitas di kalangan pria yang dikonfirmasi terinfeksi korona sekitar 65
persen lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian di kalangan wanita.

Baca Juga :  Alami Salah Satu dari 8 Masalah Ini? Bisa Jadi Tanda Racun di Tubuh

Berbagai kebiasaan tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi minuman
beralkohol, lebih sering dilakukan oleh pria dibandingkan perempuan.
’’Kebiasaan-kebiasaan itu dapat merusak paru-paru dan mengakibatkan peradangan
ketika melawan infeksi, kata Birx.

Pria juga cenderung memiliki lebih banyak penyakit terselubung, seperti
hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru kronis, menurut Global
Health 50/50, sebuah institut penelitian yang mempelajari ketidaksetaraan gender
di bidang kesehatan global.

Meski sejumlah faktor lain yang dapat memicu infeksi parah, seperti riwayat
merokok dan penyakit jantung, juga berbeda pada laki-laki dan perempuan, sistem
imun diketahui berfungsi dengan cara yang berbeda pada tubuh keduanya. Ha itu
dipaparkan oleh Susan Kovats, ahli imunologi dan mikrobiologi dari Yayasan
Penelitian Medis Oklahoma (Oklahoma Medical Research Foundation) dalam sebuah
wawancara dengan Xinhua seperti dilansir oleh Antara pada Kamis (26/3).

Perbedaan terkait gender dalam tingkat kemunculan dan keparahan infeksi
virus pernapasan terlihat jelas pada manusia dan model tikus, serta sejalan
dengan perbedaan dalam hal aktivitas sel imun, imbuhnya. ’’Sel-sel imun mampu
merespons hormon estrogen dan testosteron, yang mengindikasikan bahwa perbedaan
kadar hormon-hormon ini pada pria dan wanita mungkin saja berperan dalam
respons imun mereka yang berbeda,’’ terang Kovats.

Baca Juga :  36 Persen Luka Terjadi di Rumah, Simak Tips Dokter

Ketika merespons beberapa virus, jika dibandingkan dengan sel-sel pria,
sel-sel pada tubuh perempuan memproduksi protein yang disebut interferon dengan
level lebih tinggi. Interferon merupakan bagian penting dari respons imun
bawaan awal. Protein tersebut memicu aliran protein yang secara langsung
bersifat antivirus dan bertindak untuk meredakan penyebaran virus, menurut
Kovats.

“Bukti memang menunjukkan bahwa produksi interferon didukung oleh estrogen.
Dalam infeksi virus pernapasan, kapasitas yang lebih besar untuk memproduksi
interferon dapat membantu meredakan penyebaran virus dan kerusakan paru-paru
pada wanita,” tuturnya.

Dr. Stanley Perlman, profesor mikrobiologi dan imunologi dari Universitas
Iowa, mempelajari sejumlah tikus jantan dan betina yang terinfeksi beberapa
jenis coronavirus, yaitu coronavirus pemicu sindrom pernapasan akut berat
(severe acute respiratory syndrome/SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah
(Middle East respiratory syndrome/MERS). Dia menemukan bahwa tikus-tikus jantan
lebih rentan terinfeksi dibandingkan tikus betina di segala usia.

“Eksperimen-eksperimen yang kami lakukan pada tikus mengindikasikan bahwa
hal ini sebagian bersifat hormonal. Jika kita menghilangkan estrogen dari
tikus-tikus itu, mereka (tikus betina) akan sama sensitifnya terhadap SARS-CoV
dengan tikus jantan,” kata Perlman.

“Respons imun antara laki-laki dan perempuan kemungkinan berkaitan dengan
hormon, tetapi masih belum dipahami dengan baik,” kata Kent Pinkerton, profesor
dari Fakultas Kedokteran Universitas California Davis.

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru