26.2 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Pentingnya Asupan Gizi agar Tidak Defisiensi dan Gangguan Kesehatan

Pekan kesadaran malanutrisi yang tahun ini jatuh pada 18–22 September jadi pengingat pentingnya pemenuhan asupan gizi sesuai kebutuhan harian tubuh. Salah satunya zat gizi mikro agar tidak terjadi defisiensi dan menimbulkan gangguan kesehatan.

ADA tiga masalah gizi yang paling banyak dialami remaja, yakni kekurangan gizi (stunting), kelebihan gizi (obesitas), dan defisiensi mikronutrien. Pada kondisi defisiensi mikronutrien, tubuh kekurangan vitamin dan mineral esensial.

”Meski zat gizi mikro yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, perannya cukup penting untuk pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme tubuh yang baik,” tutur dr Dewa Ayu Liona Dewi MKes SpGK.

Bukan hanya bagi usia remaja. Mulai bayi hingga usia lanjut membutuhkan mikronutrien sebagai koenzim atau kofaktor dalam pembentukan hormon. Zat gizi mikro akan membantu tubuh memproduksi bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

”Termasuk berperan sebagai antioksidan dan membantu tubuh menangkal radikal bebas,” imbuh dokter spesialis gizi di RS Husada Utama Surabaya itu.

Kekurangan zat gizi mikro dapat menyebabkan berbagai kondisi penyakit. Mulai anemia, gondok, hingga rabun senja. Pada remaja perempuan lebih banyak terjadi defisiensi mikronutrien zat besi penyebab anemia.

”Remaja putri kehilangan zat besi (Fe) saat menstruasi sehingga butuh lebih banyak asupan zat besi,” jelas Liona, sapaan akrabnya.

Baca Juga :  Waspadai Gangguan Sistem Pencernaan GERD

Kebiasaan diet ketat remaja putri yang tidak terarah dan terukur juga dapat meningkatkan risiko terserang anemia. Sebab, mereka membatasi asupan makanan hariannya. Gejala yang tampak pada defisiensi zat besi seperti kulit pucat, lesu atau lemas, mudah lelah, pusing, nafsu makan menurun, dan detak jantung lebih cepat.

”Kalau defisiensi vitamin A, pandangannya kabur saat cahaya mulai meredup atau kesulitan melihat dalam kondisi gelap. Pada defisiensi vitamin B terjadi sariawan atau lesi di sekitar mulut,” terang dokter yang juga berpraktik di RS PHC Surabaya itu.

Beberapa gejala lain seperti rambut dan kuku rapuh, kelelahan kronis, nyeri otot, kram, serta kesemutan pada tangan dan kaki menunjukkan tubuh kekurangan biotin. Sementara gusi berdarah, kudis, kulit kering bersisik, mudah memar, dan sering mimisan adalah tanda-tanda umum defisiensi vitamin C.

”Kalau yang terjadi pembesaran kelenjar tiroid berarti itu defisiensi yodium,” tambah kepala program studi di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tersebut.

Jadi, pengobatannya bergantung pada jenis defisiensi dari mikronutriennya. Apabila kekurangan vitamin A, akan diberikan suplementasi vitamin A. Pasien juga akan diminta mengubah pola makan. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori dan kurang vitamin serta mineral harus dikurangi.

”Makannya harus beragam. Jangan hanya mengonsumsi satu atau sedikit jenis makanan karena tidak ada satu sumber bahan makanan yang mengandung semua zat gizi,” tandas dokter Liona. (lai/c9/nor/jpc/ind)

Baca Juga :  Waspada, Kurang Cairan Bisa Pengaruhi Performa

 

WTCH OUT!

– Diet yang tidak terarah berisiko defisiensi zat besi dan mengalami anemia.

– Pandangan kabur saat cahaya meredup atau sulit melihat dalam kondisi gelap bisa jadi disebabkan defisiensi vitamin A.

– Sariawan atau lesi di sekitar mulut bisa dipicu defisiensi vitamin B.

– Gusi berdarah, kudis, kulit kering bersisik, mudah memar, dan sering mimisan adalah tanda-tanda umum defisiensi vitamin C.

– Rambut dan kuku rapuh, kelelahan kronis, nyeri otot, kram, serta kesemutan pada tangan dan kaki menunjukkan tubuh kekurangan biotin.

– Defisiensi yodium bisa memicu pembesaran kelenjar tiroid.

Cegah Defisiensi Mikronutrien

  • Kurangi makan makanan cepat saji
  • Konsumsi makanan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan harian tubuh
  • Rajin makan buah dan sayur
  • Makan teratur. Hindari diet ketat yang tidak terarah
  • Hindari rokok dan obat-obatan terlarang

Penuhi Kebutuhan Zat Gizi Mikro

  • Karbohidrat (beras, kentang, ubi)
  • Protein hewani (daging, ikan, unggas)
  • Protein nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan)
  • Lemak (minyak, margarin, mentega)
  • Sayur dan buah

 

Sumber: dr Dewa Ayu Liona Dewi MKes SpGK

Pekan kesadaran malanutrisi yang tahun ini jatuh pada 18–22 September jadi pengingat pentingnya pemenuhan asupan gizi sesuai kebutuhan harian tubuh. Salah satunya zat gizi mikro agar tidak terjadi defisiensi dan menimbulkan gangguan kesehatan.

ADA tiga masalah gizi yang paling banyak dialami remaja, yakni kekurangan gizi (stunting), kelebihan gizi (obesitas), dan defisiensi mikronutrien. Pada kondisi defisiensi mikronutrien, tubuh kekurangan vitamin dan mineral esensial.

”Meski zat gizi mikro yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, perannya cukup penting untuk pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme tubuh yang baik,” tutur dr Dewa Ayu Liona Dewi MKes SpGK.

Bukan hanya bagi usia remaja. Mulai bayi hingga usia lanjut membutuhkan mikronutrien sebagai koenzim atau kofaktor dalam pembentukan hormon. Zat gizi mikro akan membantu tubuh memproduksi bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

”Termasuk berperan sebagai antioksidan dan membantu tubuh menangkal radikal bebas,” imbuh dokter spesialis gizi di RS Husada Utama Surabaya itu.

Kekurangan zat gizi mikro dapat menyebabkan berbagai kondisi penyakit. Mulai anemia, gondok, hingga rabun senja. Pada remaja perempuan lebih banyak terjadi defisiensi mikronutrien zat besi penyebab anemia.

”Remaja putri kehilangan zat besi (Fe) saat menstruasi sehingga butuh lebih banyak asupan zat besi,” jelas Liona, sapaan akrabnya.

Baca Juga :  Waspadai Gangguan Sistem Pencernaan GERD

Kebiasaan diet ketat remaja putri yang tidak terarah dan terukur juga dapat meningkatkan risiko terserang anemia. Sebab, mereka membatasi asupan makanan hariannya. Gejala yang tampak pada defisiensi zat besi seperti kulit pucat, lesu atau lemas, mudah lelah, pusing, nafsu makan menurun, dan detak jantung lebih cepat.

”Kalau defisiensi vitamin A, pandangannya kabur saat cahaya mulai meredup atau kesulitan melihat dalam kondisi gelap. Pada defisiensi vitamin B terjadi sariawan atau lesi di sekitar mulut,” terang dokter yang juga berpraktik di RS PHC Surabaya itu.

Beberapa gejala lain seperti rambut dan kuku rapuh, kelelahan kronis, nyeri otot, kram, serta kesemutan pada tangan dan kaki menunjukkan tubuh kekurangan biotin. Sementara gusi berdarah, kudis, kulit kering bersisik, mudah memar, dan sering mimisan adalah tanda-tanda umum defisiensi vitamin C.

”Kalau yang terjadi pembesaran kelenjar tiroid berarti itu defisiensi yodium,” tambah kepala program studi di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tersebut.

Jadi, pengobatannya bergantung pada jenis defisiensi dari mikronutriennya. Apabila kekurangan vitamin A, akan diberikan suplementasi vitamin A. Pasien juga akan diminta mengubah pola makan. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori dan kurang vitamin serta mineral harus dikurangi.

”Makannya harus beragam. Jangan hanya mengonsumsi satu atau sedikit jenis makanan karena tidak ada satu sumber bahan makanan yang mengandung semua zat gizi,” tandas dokter Liona. (lai/c9/nor/jpc/ind)

Baca Juga :  Waspada, Kurang Cairan Bisa Pengaruhi Performa

 

WTCH OUT!

– Diet yang tidak terarah berisiko defisiensi zat besi dan mengalami anemia.

– Pandangan kabur saat cahaya meredup atau sulit melihat dalam kondisi gelap bisa jadi disebabkan defisiensi vitamin A.

– Sariawan atau lesi di sekitar mulut bisa dipicu defisiensi vitamin B.

– Gusi berdarah, kudis, kulit kering bersisik, mudah memar, dan sering mimisan adalah tanda-tanda umum defisiensi vitamin C.

– Rambut dan kuku rapuh, kelelahan kronis, nyeri otot, kram, serta kesemutan pada tangan dan kaki menunjukkan tubuh kekurangan biotin.

– Defisiensi yodium bisa memicu pembesaran kelenjar tiroid.

Cegah Defisiensi Mikronutrien

  • Kurangi makan makanan cepat saji
  • Konsumsi makanan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan harian tubuh
  • Rajin makan buah dan sayur
  • Makan teratur. Hindari diet ketat yang tidak terarah
  • Hindari rokok dan obat-obatan terlarang

Penuhi Kebutuhan Zat Gizi Mikro

  • Karbohidrat (beras, kentang, ubi)
  • Protein hewani (daging, ikan, unggas)
  • Protein nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan)
  • Lemak (minyak, margarin, mentega)
  • Sayur dan buah

 

Sumber: dr Dewa Ayu Liona Dewi MKes SpGK

Terpopuler

Artikel Terbaru