25.3 C
Jakarta
Friday, January 23, 2026

Epilepsi Bukan Penyakit Menular, Dokter Ungkap Fakta Medis yang Masih Banyak Disalahpahami

PROKALTENG.CO – Epilepsi masih kerap diselimuti stigma dan mitos di tengah masyarakat, mulai dari anggapan penyakit menular hingga dikaitkan dengan hal mistis. Padahal secara medis, epilepsi merupakan gangguan sistem saraf akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal dan bisa dikendalikan dengan penanganan yang tepat.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, menegaskan epilepsi sama sekali bukan penyakit menular maupun gangguan kejiwaan. “Otak bekerja dengan sinyal listrik. Pada epilepsi, terjadi lonjakan listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran. Ini murni masalah medis, bukan mistis,” ujar dr. Wienorman dilansir dari JPNN, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan, salah satu kesalahpahaman paling sering ditemui adalah anggapan epilepsi bisa menular melalui kontak dengan penderita. Menurutnya, hal tersebut tidak memiliki dasar medis. Epilepsi tidak disebabkan oleh infeksi dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.

Baca Juga :  Alasan WHO Mewajibkan Anak Mulai Usia 12 Tahun Pakai Masker

Penyebab epilepsi sendiri cukup beragam. Bisa dipicu oleh cedera kepala, kelainan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, hingga gangguan struktur otak lainnya. Namun, pada sebagian kasus, penyebab epilepsi memang tidak selalu bisa ditemukan secara pasti.

Dr. Wienorman juga mengingatkan bahwa epilepsi tidak selalu ditandai kejang hebat. Pada beberapa orang, gejalanya justru lebih samar, seperti tatapan kosong mendadak, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau hilang kesadaran singkat. Karena itu, epilepsi sering tidak disadari sejak awal.
“Kalau sering mengalami episode blank atau kejang tanpa demam, jangan diabaikan. Itu sinyal dari otak bahwa ada yang perlu diperiksa,” katanya.

Terkait penanganan pertama saat melihat seseorang mengalami kejang epilepsi, dr. Wienorman menekankan pentingnya langkah yang tepat. Penderita sebaiknya diposisikan miring untuk menjaga jalan napas, benda keras atau tajam di sekitar disingkirkan, pakaian di leher dilonggarkan, serta durasi kejang dicatat bila memungkinkan.

Baca Juga :  Konsumsi Kulit Ayam Berlebih, Ternyata Miliki Dampak Negatif, Cek Apa Saja!

“Yang tidak boleh dilakukan adalah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien atau menahan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat sampai kesadarannya pulih,” tegasnya.

Electronic money exchangers listing

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Pitono, menyatakan pihaknya berkomitmen menjaga kualitas hidup penderita epilepsi melalui layanan kesehatan saraf yang komprehensif.
“Di bawah Bethsaida Healthcare, kami didukung tim dokter spesialis berpengalaman dan fasilitas diagnostik lengkap. Fokus kami bukan hanya penanganan medis, tapi juga kualitas hidup agar pasien tetap produktif,” ujarnya.

Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan dari spesialis, epilepsi bukan lagi penghalang bagi seseorang untuk menjalani hidup aktif dan bermartabat. (jpg)

PROKALTENG.CO – Epilepsi masih kerap diselimuti stigma dan mitos di tengah masyarakat, mulai dari anggapan penyakit menular hingga dikaitkan dengan hal mistis. Padahal secara medis, epilepsi merupakan gangguan sistem saraf akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal dan bisa dikendalikan dengan penanganan yang tepat.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, menegaskan epilepsi sama sekali bukan penyakit menular maupun gangguan kejiwaan. “Otak bekerja dengan sinyal listrik. Pada epilepsi, terjadi lonjakan listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran. Ini murni masalah medis, bukan mistis,” ujar dr. Wienorman dilansir dari JPNN, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan, salah satu kesalahpahaman paling sering ditemui adalah anggapan epilepsi bisa menular melalui kontak dengan penderita. Menurutnya, hal tersebut tidak memiliki dasar medis. Epilepsi tidak disebabkan oleh infeksi dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Alasan WHO Mewajibkan Anak Mulai Usia 12 Tahun Pakai Masker

Penyebab epilepsi sendiri cukup beragam. Bisa dipicu oleh cedera kepala, kelainan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, hingga gangguan struktur otak lainnya. Namun, pada sebagian kasus, penyebab epilepsi memang tidak selalu bisa ditemukan secara pasti.

Dr. Wienorman juga mengingatkan bahwa epilepsi tidak selalu ditandai kejang hebat. Pada beberapa orang, gejalanya justru lebih samar, seperti tatapan kosong mendadak, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau hilang kesadaran singkat. Karena itu, epilepsi sering tidak disadari sejak awal.
“Kalau sering mengalami episode blank atau kejang tanpa demam, jangan diabaikan. Itu sinyal dari otak bahwa ada yang perlu diperiksa,” katanya.

Terkait penanganan pertama saat melihat seseorang mengalami kejang epilepsi, dr. Wienorman menekankan pentingnya langkah yang tepat. Penderita sebaiknya diposisikan miring untuk menjaga jalan napas, benda keras atau tajam di sekitar disingkirkan, pakaian di leher dilonggarkan, serta durasi kejang dicatat bila memungkinkan.

Baca Juga :  Konsumsi Kulit Ayam Berlebih, Ternyata Miliki Dampak Negatif, Cek Apa Saja!

“Yang tidak boleh dilakukan adalah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien atau menahan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat sampai kesadarannya pulih,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Pitono, menyatakan pihaknya berkomitmen menjaga kualitas hidup penderita epilepsi melalui layanan kesehatan saraf yang komprehensif.
“Di bawah Bethsaida Healthcare, kami didukung tim dokter spesialis berpengalaman dan fasilitas diagnostik lengkap. Fokus kami bukan hanya penanganan medis, tapi juga kualitas hidup agar pasien tetap produktif,” ujarnya.

Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan dari spesialis, epilepsi bukan lagi penghalang bagi seseorang untuk menjalani hidup aktif dan bermartabat. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/