alexametrics
24.3 C
Palangkaraya
Thursday, August 11, 2022

Deretan Fakta Perempuan 4 Kali Lebih Rentan Terserang Osteoporosis

BUKAN hanya lansia, kini osteoporosis bisa bergeser
ke usia muda lho. Maka, perempuan
yang sudah memasuki usia pramenopause atau di atas 40 tahun, diminta untuk
waspada sejak dini. Jangan sampai menunggu adanya keluhan.

Osteoporosis merupakan penurunan kualitas dan
kepadatan tulang. Sehingga membuat tulang lebih rapuh dan mudah patah. Nutrisi
seperti Kalsium dan vitamin D sangat penting
untuk kesehatan tulang.

International
Journal of Nutrition and Food Science Literatur: ‘Relevance of Calcium and
Vitamin D in Supporting Bone Health: An Expert Panel Recommendation in
Indonesia
‘ menyebutkan bahwa kalsium dan vitamin D bekerja
secara sinergis untuk menjaga kesehatan tulang. Asupan kalsium dan vitamin D
harus dimulai sejak dini. Dan suplementasi dapat mengimbangi kekurangan asupan
Kalsium dan vitamin D yang direkomendasikan setiap hari.

Penelitian International Osteoporosis Foundation
menunjukkan, risiko perempuan untuk terkena Osteoporosis 4 kali lebih tinggi
dibandingkan laki-laki. Sebanyak 40,6 persen perempuan
Indonesia berusia 20-29 tahun memiliki massa tulang rendah, yang meningkatkan
risiko osteoporosis dan patah tulang dalam 20 tahun ke depan saat mereka
mencapai menopause.

Baca Juga :  Penderita Maag Sebaiknya Hindari 5 Jenis Makanan Ini Saat Sahur

“Proses osteoporosis berlangsung dalam jangka
panjang sehingga terkadang penderitanya tidak menyadarinya sampai kerusakan
benar-benar terjadi. Osteoporosis yang seringkali dikaitkan dengan orang-orang
berusia lanjut, namun nyatanya bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia muda
sekalipun,” kata Ketua Peneliti Studi tersebut sekaligus Pakar Gizi Medik
FKUI-RSCM Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc, dalam Webinar bersama CDR,
Kamis (22/10).

Studi yang dilakukan para Pakar di Indonesia tentang
‘Relevansi Kalsium dan Vitamin D untuk mendukung kesehatan Tulang’ memperkuat
fakta bahwa sangat penting untuk mencegah osteoporosis sejak usia muda. Menurut
Prof Saptawati, perempuan banyak mengalami fase dalam kehidupannya, yang bisa
mengurangi kepadatan tulang. Seperti apa saja misalnya?

1.
Fase Menopause

Di setiap fase ini, kepadatan tulang dapat berkurang
dan puncaknya saat seorang perempuan memasuki fase menopause, di mana kemampuan
tubuh dalam menyerap kalsium akan berkurang karena sudah tidak menghasilkan
hormon esterogen.

2.
Hamil dan Menyusui

Perempuan hamil dan menyusui pun menjadi salah satu
kelompok risiko osteoporosis. Oleh karena itu, kini saatnya bagi perempuan
Indonesia untuk menjaga kesehatan tulang sejak dini. Namun sayangnya, kandungan
nutrisi di Indonesia pada umumnya mengandung kalsium dan vitamin D dalam level
rendah, padahal nutrisi yang cukup dan pola hidup yang sehat merupakan langkah
penting untuk mencegah osteoporosis.

Baca Juga :  Penyebab Serangan Jantung di Usia 30-an

3.
Perubahan Metabolisme

Proporsi risiko osteoporosis pada perempuan semakin
tinggi setelah berusia 55 tahun, sebagian besar disebabkan adanya retak tulang
pada perempuan yang berhubungan erat dengan perubahan metabolisme tulang pada
umur post-menopause.

Solusi

Prof Saptawati menekankan bahwa kalsium dan vitamin
D bekerja secara sinergis untuk meningkatkan kesehatan tulang dalam jangka
panjang. Ia menjelaskan vitamin D terlibat dalam penyerapan kalsium di usus
halus.

Tanpa asupan vitamin D yang cukup, bisa jadi
penyerapan kalsium tidak maksimal. Vitamin D kemudian lebih mengoptimalkan dan
menjaga kepadatan mineral tulang atau Bone Mineral Density (BMD), dan
meningkatkan kekuatan otot.

“Selain suplementasi, gaya hidup yang sehat juga
diperlukan. Untuk memaksimalkan vitamin
D dan pembentukan tulang, konsumsi makan bernutrisi dan berolahraga teratur,”
tutupnya.

BUKAN hanya lansia, kini osteoporosis bisa bergeser
ke usia muda lho. Maka, perempuan
yang sudah memasuki usia pramenopause atau di atas 40 tahun, diminta untuk
waspada sejak dini. Jangan sampai menunggu adanya keluhan.

Osteoporosis merupakan penurunan kualitas dan
kepadatan tulang. Sehingga membuat tulang lebih rapuh dan mudah patah. Nutrisi
seperti Kalsium dan vitamin D sangat penting
untuk kesehatan tulang.

International
Journal of Nutrition and Food Science Literatur: ‘Relevance of Calcium and
Vitamin D in Supporting Bone Health: An Expert Panel Recommendation in
Indonesia
‘ menyebutkan bahwa kalsium dan vitamin D bekerja
secara sinergis untuk menjaga kesehatan tulang. Asupan kalsium dan vitamin D
harus dimulai sejak dini. Dan suplementasi dapat mengimbangi kekurangan asupan
Kalsium dan vitamin D yang direkomendasikan setiap hari.

Penelitian International Osteoporosis Foundation
menunjukkan, risiko perempuan untuk terkena Osteoporosis 4 kali lebih tinggi
dibandingkan laki-laki. Sebanyak 40,6 persen perempuan
Indonesia berusia 20-29 tahun memiliki massa tulang rendah, yang meningkatkan
risiko osteoporosis dan patah tulang dalam 20 tahun ke depan saat mereka
mencapai menopause.

Baca Juga :  4 Jenis Botox yang Bisa Cegah Kerutan Wajah

“Proses osteoporosis berlangsung dalam jangka
panjang sehingga terkadang penderitanya tidak menyadarinya sampai kerusakan
benar-benar terjadi. Osteoporosis yang seringkali dikaitkan dengan orang-orang
berusia lanjut, namun nyatanya bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia muda
sekalipun,” kata Ketua Peneliti Studi tersebut sekaligus Pakar Gizi Medik
FKUI-RSCM Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc, dalam Webinar bersama CDR,
Kamis (22/10).

Studi yang dilakukan para Pakar di Indonesia tentang
‘Relevansi Kalsium dan Vitamin D untuk mendukung kesehatan Tulang’ memperkuat
fakta bahwa sangat penting untuk mencegah osteoporosis sejak usia muda. Menurut
Prof Saptawati, perempuan banyak mengalami fase dalam kehidupannya, yang bisa
mengurangi kepadatan tulang. Seperti apa saja misalnya?

1.
Fase Menopause

Di setiap fase ini, kepadatan tulang dapat berkurang
dan puncaknya saat seorang perempuan memasuki fase menopause, di mana kemampuan
tubuh dalam menyerap kalsium akan berkurang karena sudah tidak menghasilkan
hormon esterogen.

2.
Hamil dan Menyusui

Perempuan hamil dan menyusui pun menjadi salah satu
kelompok risiko osteoporosis. Oleh karena itu, kini saatnya bagi perempuan
Indonesia untuk menjaga kesehatan tulang sejak dini. Namun sayangnya, kandungan
nutrisi di Indonesia pada umumnya mengandung kalsium dan vitamin D dalam level
rendah, padahal nutrisi yang cukup dan pola hidup yang sehat merupakan langkah
penting untuk mencegah osteoporosis.

Baca Juga :  4 Alasan Bayam Disebut Superfood

3.
Perubahan Metabolisme

Proporsi risiko osteoporosis pada perempuan semakin
tinggi setelah berusia 55 tahun, sebagian besar disebabkan adanya retak tulang
pada perempuan yang berhubungan erat dengan perubahan metabolisme tulang pada
umur post-menopause.

Solusi

Prof Saptawati menekankan bahwa kalsium dan vitamin
D bekerja secara sinergis untuk meningkatkan kesehatan tulang dalam jangka
panjang. Ia menjelaskan vitamin D terlibat dalam penyerapan kalsium di usus
halus.

Tanpa asupan vitamin D yang cukup, bisa jadi
penyerapan kalsium tidak maksimal. Vitamin D kemudian lebih mengoptimalkan dan
menjaga kepadatan mineral tulang atau Bone Mineral Density (BMD), dan
meningkatkan kekuatan otot.

“Selain suplementasi, gaya hidup yang sehat juga
diperlukan. Untuk memaksimalkan vitamin
D dan pembentukan tulang, konsumsi makan bernutrisi dan berolahraga teratur,”
tutupnya.

Most Read

Artikel Terbaru

/