30.1 C
Jakarta
Thursday, March 12, 2026

Dokter Anak Ingatkan Cara Memberi Makan Anak yang Benar, Kunci Cegah Stunting Sejak Dini

PROKALTENG.CO – Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A menekankan pentingnya cara memberi makan anak yang tepat agar kebutuhan gizi terpenuhi sekaligus mencegah masalah gizi seperti stunting. Menurutnya, orang tua perlu memahami aturan dasar pemberian makan anak mulai dari jadwal makan, cara pemberian, hingga komposisi makanan.

Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan bahwa tiga hal utama dalam pemberian makan anak adalah waktu yang tepat, cara memberi makan yang benar, dan komposisi makanan yang seimbang.

“Sebagai orang tua kita harus tahu cara memberi makan anak. Waktunya harus tepat, cara pemberiannya juga benar, dan komposisi makanannya harus sesuai. Jadi ada tiga hal penting itu,” kata dr. Ian.

Ia menjelaskan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong penerapan metode pemberian makan responsif, yakni memberikan makanan dengan memperhatikan sinyal lapar dan kenyang pada anak.

Baca Juga :  Hasil Survei KPAI Sebut Pentingnya Libatkan Anak dalam Program MBG

Menurut dr. Ian, orang tua sebaiknya memahami tanda-tanda saat anak lapar maupun kenyang agar pemberian makanan tidak dipaksakan.

“Perhatikan saja sinyal dari anak. Kalau sudah lapar, baru diberi makan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pola makan anak berubah sesuai usia. Bayi usia 0–3 bulan, misalnya, masih minum susu sesuai kebutuhan. Sementara pada usia 4–6 bulan, pola makan mulai diarahkan agar lebih terjadwal.

Electronic money exchangers listing

“Ingat, usia 0 sampai 3 bulan minum susu semau bayi. Masuk usia 4 sampai 6 bulan mulai diarahkan berjadwal, dan seterusnya juga begitu,” jelasnya.

Selain jadwal, porsi makanan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan anak. Ia mencontohkan bayi usia sembilan bulan biasanya hanya mampu mengonsumsi sekitar 30 mililiter makanan dalam sekali makan.

Komposisi makanan juga tidak kalah penting. Anak membutuhkan sumber karbohidrat, protein hewani seperti daging, susu, dan telur, serta sayur dan buah.

Menurut dr. Ian, protein hewani sangat penting dalam mencegah stunting karena memiliki kandungan asam amino yang lengkap serta nilai gizi yang tinggi.

Baca Juga :  Ingin Program Hamil? Minumlah Air Kelapa Tua Campur Pisang

“Protein hewani penting untuk mengatasi stunting karena asam aminonya lengkap, nilai nutrisinya tinggi, dan kandungan zat besinya juga lebih baik dibandingkan protein nabati,” jelasnya.

Ia juga menyarankan orang tua membuat jadwal makan yang teratur, yakni tiga kali makan utama dan dua hingga tiga kali makanan selingan setiap hari.

Waktu makan anak, lanjutnya, sebaiknya tidak lebih dari 30 menit, sedangkan air putih bisa diberikan di antara waktu makan.

Selain aspek gizi, suasana makan juga perlu diperhatikan. Menurut dr. Ian, lingkungan yang nyaman dan menyenangkan akan membuat anak lebih mudah makan tanpa paksaan.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk memperhatikan perubahan pola makan anak serta memantau pertumbuhan anak dibandingkan dengan anak seusianya. Hal ini penting untuk mendeteksi sejak dini jika terjadi masalah gizi pada anak. (antara)

PROKALTENG.CO – Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A menekankan pentingnya cara memberi makan anak yang tepat agar kebutuhan gizi terpenuhi sekaligus mencegah masalah gizi seperti stunting. Menurutnya, orang tua perlu memahami aturan dasar pemberian makan anak mulai dari jadwal makan, cara pemberian, hingga komposisi makanan.

Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan bahwa tiga hal utama dalam pemberian makan anak adalah waktu yang tepat, cara memberi makan yang benar, dan komposisi makanan yang seimbang.

“Sebagai orang tua kita harus tahu cara memberi makan anak. Waktunya harus tepat, cara pemberiannya juga benar, dan komposisi makanannya harus sesuai. Jadi ada tiga hal penting itu,” kata dr. Ian.

Electronic money exchangers listing

Ia menjelaskan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong penerapan metode pemberian makan responsif, yakni memberikan makanan dengan memperhatikan sinyal lapar dan kenyang pada anak.

Baca Juga :  Hasil Survei KPAI Sebut Pentingnya Libatkan Anak dalam Program MBG

Menurut dr. Ian, orang tua sebaiknya memahami tanda-tanda saat anak lapar maupun kenyang agar pemberian makanan tidak dipaksakan.

“Perhatikan saja sinyal dari anak. Kalau sudah lapar, baru diberi makan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pola makan anak berubah sesuai usia. Bayi usia 0–3 bulan, misalnya, masih minum susu sesuai kebutuhan. Sementara pada usia 4–6 bulan, pola makan mulai diarahkan agar lebih terjadwal.

“Ingat, usia 0 sampai 3 bulan minum susu semau bayi. Masuk usia 4 sampai 6 bulan mulai diarahkan berjadwal, dan seterusnya juga begitu,” jelasnya.

Selain jadwal, porsi makanan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan anak. Ia mencontohkan bayi usia sembilan bulan biasanya hanya mampu mengonsumsi sekitar 30 mililiter makanan dalam sekali makan.

Komposisi makanan juga tidak kalah penting. Anak membutuhkan sumber karbohidrat, protein hewani seperti daging, susu, dan telur, serta sayur dan buah.

Menurut dr. Ian, protein hewani sangat penting dalam mencegah stunting karena memiliki kandungan asam amino yang lengkap serta nilai gizi yang tinggi.

Baca Juga :  Ingin Program Hamil? Minumlah Air Kelapa Tua Campur Pisang

“Protein hewani penting untuk mengatasi stunting karena asam aminonya lengkap, nilai nutrisinya tinggi, dan kandungan zat besinya juga lebih baik dibandingkan protein nabati,” jelasnya.

Ia juga menyarankan orang tua membuat jadwal makan yang teratur, yakni tiga kali makan utama dan dua hingga tiga kali makanan selingan setiap hari.

Waktu makan anak, lanjutnya, sebaiknya tidak lebih dari 30 menit, sedangkan air putih bisa diberikan di antara waktu makan.

Selain aspek gizi, suasana makan juga perlu diperhatikan. Menurut dr. Ian, lingkungan yang nyaman dan menyenangkan akan membuat anak lebih mudah makan tanpa paksaan.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk memperhatikan perubahan pola makan anak serta memantau pertumbuhan anak dibandingkan dengan anak seusianya. Hal ini penting untuk mendeteksi sejak dini jika terjadi masalah gizi pada anak. (antara)

Terpopuler

Artikel Terbaru