29 C
Jakarta
Friday, August 29, 2025

Cari Pemanis Alami Tanpa Kalori? Begini Kata dr Tirta Soal Stevia dan Diet Rendah Gula

KESADARAN masyarakat terhadap pentingnya mengurangi konsumsi gula semakin meningkat.

Hal itu seiring dengan lonjakan kasus diabetes, obesitas, hingga sindrom metabolik yang menyerang usia muda.

Di tengah tren gaya hidup sehar dan pola makan rendah gula, dr. Tirta Mandira Hudhi, angkat suara soal penggunaan pemanis alami stevia sebagai alternatif gula.

Melalui akun TikToknya, dr. Tirta menyampaikan edukasi singkat tentang manfaat dan potensi risiko dari konsumsi stevia.

Ia menyebut bahwa stevia merupakan pemanis alami yang berasal dair tumbuhan.

Kini stevia bangak digunakan sebagai pengganti gula karena tidak mengandung kalori.

Meskipun begitu, strvia memiliki rasa manis yang kuat.

“Stevia itu pemanis alami, bisa dicek juga edukasinya dari teman-teman teknologi pangan. Ini salah satu alternatif substitusi, terutama bagi kalian yang ingin menjalani diet rendah gula,” ungkapnya.

Dr. Tirta mengingatkan bahwa konsumsi gula harian sebenarnya sudah cukup tinggi, bahkan tanpa menambahkan gula dalam makanan.

Baca Juga :  Perlu Tahu! Ini Dia 6 Makanan yang Bisa Bikin Ginjal Jadi Sehat

Sumber utama gula tersembunyi ada pada makanan pokok seperti nasi, roti, dan makanan olahan tinggi karbohidrat.

Padahal, anjuran dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO menyebutkan bahwa batas konsumsi gula aman maksimal 50 gram per hari.

Hal itu setara dengan sekitar 4 sendok makan. “Kalian makan nasi itu sudah ada gulanya dari karbo. Jadi, tanpa sadar kita tuh sudah konsumsi gula cukup banyak dari makanan utama,” ujarnya dr. Tirta.

Mengikuti diet rendah gula tidak selalu mudah. Banyak orang kesulitan karena tubuh mereka terbiasa dengan rasa manis.

Apalagi rasa tersebut dapat memicu pelepasan dopamin, hormon kebahagiaan dan motivasi.

Menurut dr. Tirta, inikah alasan mengapa sebagian orang sulit lepas dari makanan dan minuman manis.

“Orang yang biasa manis itu dopamin boosternya lewat manis. Jadi dia harus tapering, ngurangin pelan-pelan,” ucapnya.

Baca Juga :  Coba Sekarang! Ini Tips Ampuh Mencerahkan Ketiak secara Alami

Untuk membantu transisi ini, beberapa orang menggunakan metode substitusi dengan mengganti gula biasa dengan pemanis nol kalori seperti stevia.

“Stevia itu cocok banget untuk yang pengin diet tapi masih pengin ngerasain sensasi manis,” kata dr. Tirta.

Meski dikenal aman, konsumsi stevia juga tidak bisa dilakukan secara berlebihan.

Walaupun risikonya lebih kecil daripada gula biasa, penggunaan stevia dalam jumlah tidak wajar tetap berdampak negatif, terutama bagi individu dengan sensitivitas insulin.

Maka dari itu, dr. Tirta mendorong masyarakat untuk tetap memprioritaskan pendekatan holistik dalam pola makan sehat.

Caranya dengan mengatur keseimbangan makronutien seperti karbohidrat, protein, dan lemak.

Selain itu juga memilih sumber makanan alami, serta menghindari ketergantungan pada rasa manis. (jpg)

 

KESADARAN masyarakat terhadap pentingnya mengurangi konsumsi gula semakin meningkat.

Hal itu seiring dengan lonjakan kasus diabetes, obesitas, hingga sindrom metabolik yang menyerang usia muda.

Di tengah tren gaya hidup sehar dan pola makan rendah gula, dr. Tirta Mandira Hudhi, angkat suara soal penggunaan pemanis alami stevia sebagai alternatif gula.

Melalui akun TikToknya, dr. Tirta menyampaikan edukasi singkat tentang manfaat dan potensi risiko dari konsumsi stevia.

Ia menyebut bahwa stevia merupakan pemanis alami yang berasal dair tumbuhan.

Kini stevia bangak digunakan sebagai pengganti gula karena tidak mengandung kalori.

Meskipun begitu, strvia memiliki rasa manis yang kuat.

“Stevia itu pemanis alami, bisa dicek juga edukasinya dari teman-teman teknologi pangan. Ini salah satu alternatif substitusi, terutama bagi kalian yang ingin menjalani diet rendah gula,” ungkapnya.

Dr. Tirta mengingatkan bahwa konsumsi gula harian sebenarnya sudah cukup tinggi, bahkan tanpa menambahkan gula dalam makanan.

Baca Juga :  Perlu Tahu! Ini Dia 6 Makanan yang Bisa Bikin Ginjal Jadi Sehat

Sumber utama gula tersembunyi ada pada makanan pokok seperti nasi, roti, dan makanan olahan tinggi karbohidrat.

Padahal, anjuran dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO menyebutkan bahwa batas konsumsi gula aman maksimal 50 gram per hari.

Hal itu setara dengan sekitar 4 sendok makan. “Kalian makan nasi itu sudah ada gulanya dari karbo. Jadi, tanpa sadar kita tuh sudah konsumsi gula cukup banyak dari makanan utama,” ujarnya dr. Tirta.

Mengikuti diet rendah gula tidak selalu mudah. Banyak orang kesulitan karena tubuh mereka terbiasa dengan rasa manis.

Apalagi rasa tersebut dapat memicu pelepasan dopamin, hormon kebahagiaan dan motivasi.

Menurut dr. Tirta, inikah alasan mengapa sebagian orang sulit lepas dari makanan dan minuman manis.

“Orang yang biasa manis itu dopamin boosternya lewat manis. Jadi dia harus tapering, ngurangin pelan-pelan,” ucapnya.

Baca Juga :  Coba Sekarang! Ini Tips Ampuh Mencerahkan Ketiak secara Alami

Untuk membantu transisi ini, beberapa orang menggunakan metode substitusi dengan mengganti gula biasa dengan pemanis nol kalori seperti stevia.

“Stevia itu cocok banget untuk yang pengin diet tapi masih pengin ngerasain sensasi manis,” kata dr. Tirta.

Meski dikenal aman, konsumsi stevia juga tidak bisa dilakukan secara berlebihan.

Walaupun risikonya lebih kecil daripada gula biasa, penggunaan stevia dalam jumlah tidak wajar tetap berdampak negatif, terutama bagi individu dengan sensitivitas insulin.

Maka dari itu, dr. Tirta mendorong masyarakat untuk tetap memprioritaskan pendekatan holistik dalam pola makan sehat.

Caranya dengan mengatur keseimbangan makronutien seperti karbohidrat, protein, dan lemak.

Selain itu juga memilih sumber makanan alami, serta menghindari ketergantungan pada rasa manis. (jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru