Ini Cara Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah dengan Santai
Ilustrasi momen kumpul keluarga saat Lebaran, di mana pertanyaan klise seperti โKapan Nikah?โ kerap dilontarkan. (Freepik)
Pertanyaan klise seperti โKapan Nikah?โ atau โKapan Wisuda?โ kerap muncul saat kumpul keluarga di momen Lebaran. Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut adalah basa-basi yang menjengkelkan.
Hal ini diamini oleh Psikolog Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana. Ia mengatakan bahwa desakan semacam ini dapat memicu rasa traumatis ketika seseorang menghadapi pertanyaan yang sudah membebaninya.
โBisa saja, seseorang itu sedang berjuang dengan skripsinya. Ketika itu ditanya (Kapan wisuda) akan membangkitkan rasa tidak nyaman dan sedih,โ tutur Atika di Surabaya, Minggu (30/3).
Lantas bagaimana cara menyikapi pertanyaan-pertanyaan pribadi dengan santai? Atika menyebut ada dua cara untuk menyikapi emosi yang muncul saat mendapat pertanyaan menjengkelkan saat Lebaran.
Yakni dengan cara fight (melawan rasa itu), atau cara flight (melarikan diri). Namun, cara melarikan diri, lanjut Atika, agaknya sulit dilakukan ketika momen Lebaran, di mana semua keluarga berkumpul.
โMaka mau tidak mau, kita harus fight dengan menyiapkan jawaban. Perlu dipertimbangkan apakah jawaban kita akan membuat lawan bicara tidak bertanya lebih lanjut atau justru bertanya semakin personal,โ imbuhnya.
Apabila pertanyaan yang diajukan masih membuat tidak nyaman, seseorang juga bisa melakukan teknik grounding untuk mengalihkan perasaan cemas melalui aktivitas panca indra, seperti olah napas, jalan-jalan, dan tidur.
Sebelum menghadiri acara sosial, penting bagi seseorang untuk mempersiapkan diri dan mengelola ekspektasi agar lebih siap menghadapi pertanyaan dan dapat merespons situasi dengan tenang dan terkontrol.
โTidak semua pertanyaan harus kita jawab, kita perlu melihat juga siapa yang bertanya. Kita bisa menjawab dengan senyum atau dengan kata โokeโ untuk orang yang tidak terlalu kita kenal,โ tukas Atika.
Terakhir, ia menegaskan bahwa meskipun individu tidak bisa mengendalikan munculnya pertanyaan pribadi saat silaturahmi keluarga, mereka tetap memiliki kendali atas jawaban yang diberikan.(jpc)