32.2 C
Jakarta
Saturday, February 28, 2026

Post Ramadan Syndrome Usai Lebaran, Kenapa Banyak Orang Merasa Hampa? Ini Penjelasan Psikologi

PROKALTENG.CO – Usai Ramadan dan Idul Fitri, tak sedikit orang mengaku merasa hampa, kehilangan semangat, bahkan sulit kembali ke ritme kerja. Dalam dunia psikologi, kondisi ini kerap disebut Post Ramadan Syndrome—fenomena emosional yang muncul setelah bulan penuh ibadah berakhir.

Meski bukan diagnosis medis resmi, istilah Post Ramadan Syndrome menggambarkan perubahan suasana hati akibat pergeseran rutinitas, turunnya intensitas spiritual, hingga lonjakan aktivitas sosial setelah Lebaran. Sejumlah lembaga seperti Duke University, Cleveland Clinic, hingga APA menilai kondisi ini sebagai respons emosional yang wajar.

Bulan Ramadan memang menghadirkan atmosfer berbeda. Ibadah meningkat, kebersamaan terasa hangat, dan pola hidup berubah signifikan. Saat semua itu tiba-tiba berakhir, sebagian orang merasakan ruang kosong yang tak mudah dijelaskan.

Menurut APA, perubahan rutinitas dan hilangnya momen bermakna dapat memicu kesedihan ringan atau penurunan motivasi. Fenomena ini mirip dengan perasaan setelah liburan panjang usai.

Dalam konteks puasa Ramadan, pengalaman spiritual yang mendalam membuat seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Ketika suasana tersebut tak lagi terasa seintens sebelumnya, muncul rasa kehilangan yang cukup kuat.

Berikut beberapa perspektif psikologi untuk memahami Post Ramadan Syndrome, sebagaimana dilansir dari Duke University dan Cleveland Clinic, Sabtu (28/2):

Baca Juga :  Empat Zodiak Ini Disarankan Ambil Cuti dan Rebahan di Rumah, Demi Kesehatan Mental

Perubahan Rutinitas yang Mendadak

Selama Ramadan, jadwal hidup berubah total. Sahur, tarawih, tadarus, hingga buka puasa bersama membentuk pola baru yang dijalani selama 30 hari.

Electronic money exchangers listing

Harvard Medical School menyebut rutinitas yang konsisten memberi rasa stabilitas psikologis. Saat pola itu hilang mendadak setelah Lebaran, tubuh dan pikiran butuh waktu untuk beradaptasi.

Perubahan cepat ini bisa memicu rasa kosong dan kelelahan mental ringan. Karena itu, transisi sebaiknya dilakukan bertahap. Jangan langsung memaksakan diri kembali ke ritme kerja yang padat.

Penurunan Intensitas Spiritualitas

Ramadan identik dengan peningkatan ibadah dan refleksi diri. Banyak orang merasa lebih tenang dan damai selama berpuasa.

Riset spiritualitas dari Duke University menunjukkan praktik keagamaan berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis. Ketika intensitas ibadah menurun, efek emosional positifnya pun bisa ikut berkurang.

Menjaga sebagian kebiasaan Ramadan setelah Idul Fitri dapat membantu menjaga stabilitas emosi. Misalnya tetap membaca Al-Qur’an setiap hari, meski tak sebanyak saat puasa.

Lonjakan Aktivitas Sosial dan Konsumsi

Selepas Ramadan, agenda sosial melonjak drastis. Silaturahmi, acara keluarga, hingga pertemuan informal membuat jadwal kembali padat.

WHO menekankan perubahan pola tidur dan makan dapat memengaruhi kesehatan mental. Setelah puasa, konsumsi makanan manis, bersantan, dan berlemak khas Lebaran seperti opor ayam dan rendang meningkat tajam.

Baca Juga :  Manfaat Bangun Pagi: Kunci Gaya Hidup Sehat dan Produktif

Lonjakan gula darah bisa memengaruhi energi dan suasana hati. Tak heran bila sebagian orang merasa cepat lelah atau emosinya naik turun.

Fenomena “After Event Blues”

Dalam psikologi dikenal istilah after event blues, yaitu kesedihan setelah momen besar berakhir. Kondisi ini kerap muncul seusai pernikahan, liburan panjang, atau perayaan besar.

Cleveland Clinic menjelaskan, perasaan hampa setelah peristiwa bermakna merupakan respons emosional normal. Ramadan bisa dianggap sebagai peristiwa spiritual tahunan yang sangat berarti.

Setelah 30 hari penuh refleksi dan kebersamaan, wajar jika muncul rasa kehilangan. Pikiran membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Tekanan Target Spiritual yang Tak Tercapai

Sebagian orang juga merasa sedih karena menilai ibadahnya selama Ramadan belum maksimal. Perasaan bersalah ini bisa berlanjut setelah bulan suci berakhir.

APA mengingatkan, rasa bersalah berlebihan dapat memicu stres dan kecemasan. Pola pikir seperti ini justru memperburuk kondisi Post Ramadan Syndrome.

Pada akhirnya, perubahan emosi setelah Ramadan bukan tanda lemahnya iman. Itu respons manusiawi. Yang terpenting adalah mengelola transisi dengan bijak, menjaga kebiasaan baik, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi. (jpg)

PROKALTENG.CO – Usai Ramadan dan Idul Fitri, tak sedikit orang mengaku merasa hampa, kehilangan semangat, bahkan sulit kembali ke ritme kerja. Dalam dunia psikologi, kondisi ini kerap disebut Post Ramadan Syndrome—fenomena emosional yang muncul setelah bulan penuh ibadah berakhir.

Meski bukan diagnosis medis resmi, istilah Post Ramadan Syndrome menggambarkan perubahan suasana hati akibat pergeseran rutinitas, turunnya intensitas spiritual, hingga lonjakan aktivitas sosial setelah Lebaran. Sejumlah lembaga seperti Duke University, Cleveland Clinic, hingga APA menilai kondisi ini sebagai respons emosional yang wajar.

Bulan Ramadan memang menghadirkan atmosfer berbeda. Ibadah meningkat, kebersamaan terasa hangat, dan pola hidup berubah signifikan. Saat semua itu tiba-tiba berakhir, sebagian orang merasakan ruang kosong yang tak mudah dijelaskan.

Electronic money exchangers listing

Menurut APA, perubahan rutinitas dan hilangnya momen bermakna dapat memicu kesedihan ringan atau penurunan motivasi. Fenomena ini mirip dengan perasaan setelah liburan panjang usai.

Dalam konteks puasa Ramadan, pengalaman spiritual yang mendalam membuat seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Ketika suasana tersebut tak lagi terasa seintens sebelumnya, muncul rasa kehilangan yang cukup kuat.

Berikut beberapa perspektif psikologi untuk memahami Post Ramadan Syndrome, sebagaimana dilansir dari Duke University dan Cleveland Clinic, Sabtu (28/2):

Baca Juga :  Empat Zodiak Ini Disarankan Ambil Cuti dan Rebahan di Rumah, Demi Kesehatan Mental

Perubahan Rutinitas yang Mendadak

Selama Ramadan, jadwal hidup berubah total. Sahur, tarawih, tadarus, hingga buka puasa bersama membentuk pola baru yang dijalani selama 30 hari.

Harvard Medical School menyebut rutinitas yang konsisten memberi rasa stabilitas psikologis. Saat pola itu hilang mendadak setelah Lebaran, tubuh dan pikiran butuh waktu untuk beradaptasi.

Perubahan cepat ini bisa memicu rasa kosong dan kelelahan mental ringan. Karena itu, transisi sebaiknya dilakukan bertahap. Jangan langsung memaksakan diri kembali ke ritme kerja yang padat.

Penurunan Intensitas Spiritualitas

Ramadan identik dengan peningkatan ibadah dan refleksi diri. Banyak orang merasa lebih tenang dan damai selama berpuasa.

Riset spiritualitas dari Duke University menunjukkan praktik keagamaan berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis. Ketika intensitas ibadah menurun, efek emosional positifnya pun bisa ikut berkurang.

Menjaga sebagian kebiasaan Ramadan setelah Idul Fitri dapat membantu menjaga stabilitas emosi. Misalnya tetap membaca Al-Qur’an setiap hari, meski tak sebanyak saat puasa.

Lonjakan Aktivitas Sosial dan Konsumsi

Selepas Ramadan, agenda sosial melonjak drastis. Silaturahmi, acara keluarga, hingga pertemuan informal membuat jadwal kembali padat.

WHO menekankan perubahan pola tidur dan makan dapat memengaruhi kesehatan mental. Setelah puasa, konsumsi makanan manis, bersantan, dan berlemak khas Lebaran seperti opor ayam dan rendang meningkat tajam.

Baca Juga :  Manfaat Bangun Pagi: Kunci Gaya Hidup Sehat dan Produktif

Lonjakan gula darah bisa memengaruhi energi dan suasana hati. Tak heran bila sebagian orang merasa cepat lelah atau emosinya naik turun.

Fenomena “After Event Blues”

Dalam psikologi dikenal istilah after event blues, yaitu kesedihan setelah momen besar berakhir. Kondisi ini kerap muncul seusai pernikahan, liburan panjang, atau perayaan besar.

Cleveland Clinic menjelaskan, perasaan hampa setelah peristiwa bermakna merupakan respons emosional normal. Ramadan bisa dianggap sebagai peristiwa spiritual tahunan yang sangat berarti.

Setelah 30 hari penuh refleksi dan kebersamaan, wajar jika muncul rasa kehilangan. Pikiran membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Tekanan Target Spiritual yang Tak Tercapai

Sebagian orang juga merasa sedih karena menilai ibadahnya selama Ramadan belum maksimal. Perasaan bersalah ini bisa berlanjut setelah bulan suci berakhir.

APA mengingatkan, rasa bersalah berlebihan dapat memicu stres dan kecemasan. Pola pikir seperti ini justru memperburuk kondisi Post Ramadan Syndrome.

Pada akhirnya, perubahan emosi setelah Ramadan bukan tanda lemahnya iman. Itu respons manusiawi. Yang terpenting adalah mengelola transisi dengan bijak, menjaga kebiasaan baik, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/